Ogah Dibandingkan dengan Xavi, Fermin Lopez Ukir Jalan Sendiri di Barcelona

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi child, soccer, playing. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi child, soccer, playing. Foto: Pixabay

Gelandang muda Barcelona, Fermin Lopez, menegaskan tekadnya untuk mengukir jalannya sendiri di Camp Nou tanpa harus dibayangi oleh nama besar para legenda klub seperti Xavi Hernandez dan Andres Iniesta. Melalui wawancara mendalam bersama majalah global GQ Hype, pemain asal Andalusia tersebut membeberkan pandangannya mengenai gaya bermainnya yang dinilai berbeda dari para pendahulunya, sembari merefleksikan perjalanannya yang melesat cepat dari kasta ketiga Spanyol hingga menembus skuad utama Blaugrana.

Pemain berusia 23 tahun tersebut tampil sebagai wajah utama dalam edisi terbaru majalah tersebut, berbicara dengan penuh transparansi tentang ambisinya musim ini. Di balik kesuksesannya yang meningkat pesat, ia juga berbagi kisah emosional mengenai penyesalan terbesar dalam kariernya yang belum terpenuhi, relasi eratnya dengan Lamine Yamal, hingga harapannya untuk masa depan di luar lapangan hijau.

Karakteristik Permainan Berbeda dari Para Legenda

Perbandingan konstan antara pemain muda jebolan La Masia dengan ikon klub terdahulu adalah hal yang lumrah di Barcelona. Kendati demikian, Fermin dengan tegas menolak narasi tersebut demi menjaga keaslian identitas permainannya. Menurutnya, menyamakan kemampuannya dengan sosok legendaris pemenang Piala Dunia tersebut tidaklah adil karena karakteristik mereka yang sangat kontras.

“Saya menganggap diri saya agak berbeda dari Xavi dan Andres, karena mereka tidak tertandingi dan tidak ada ruang untuk perbandingan di antara mereka,” ujar gelandang serang Barcelona tersebut. Ia menambahkan bahwa orientasi utamanya di lapangan lebih condong pada penyelesaian akhir ketimbang mendikte tempo permainan sebagai playmaker murni.

“Saya selalu berada lebih dekat dengan area penalti, saya menyukai direct play, dan saya selalu mencari peluang untuk mencetak gol,” kata Fermin menjelaskan gaya bermainnya. Insting menyerang yang tajam ini terbukti krusial bagi timnya belakangan ini. “Saya selalu memiliki hubungan yang baik dengan urusan mencetak gol, dan tahun ini saya menikmatinya lebih dari sebelumnya.”

Penyesalan Terbesar Terkait Lionel Messi dan Andres Iniesta

Meskipun kini telah menjadi salah satu pilar penting di lini tengah Barcelona, Fermin tetap memiliki ruang penyesalan dalam perjalanan kariernya. Salah satu mimpi terbesarnya yang dipastikan tidak akan pernah terwujud adalah kesempatan untuk berbagi lapangan hijau dengan sang maestro, Andres Iniesta, yang baru saja memutuskan gantung sepatu beberapa waktu lalu.

“Saya tidak bisa bermain dengan Andres, dan tidak akan pernah bisa karena dia sudah pensiun, tetapi saya sangat menginginkannya,” ungkap Fermin dengan nada penuh harap yang kini pupus. Selain Iniesta, nama megabintang Lionel Messi juga menjadi figur yang sangat ingin ia temani di lapangan sebelum sang pemain hijrah dari kompetisi Eropa.

Fermin juga mengungkapkan penyesalan mendalam terkait kesempatan emas yang hilang untuk bermain bersama sang peraih delapan Ballon d'Or tersebut dalam sebuah pertandingan persahabatan yang batal digelar. “Saya masih merasakan penyesalan atas pertandingan yang seharusnya bisa kami mainkan di Qatar, yang akhirnya tidak terlaksana. Saya sangat berharap bisa berbagi lapangan dengan Lionel Messi,” tuturnya, seraya menyebut petenis legendaris Rafael Nadal sebagai panutan utama bagi seluruh atlet di Spanyol.

Lompatan Karier Fantastis dan Hubungan Erat di Luar Lapangan

Karier Fermin mengalami perkembangan yang sangat cepat, mengingat belum lama ini ia masih berjuang di kompetisi kasta ketiga sepak bola Spanyol bersama Linares. Transisi instan dari kompetisi lokal yang tidak terekspos langsung ke panggung megah sepak bola Eropa diakuinya sebagai momen yang sangat emosional dan penuh kejutan bagi mentalitasnya sebagai pemain muda.

“Saya datang dari Linares, yang merupakan dunia yang sangat berbeda dari tim utama Barcelona, dan melangkah masuk ke ruang ganti bersama Ter Stegen, Lewandowski, Pedri, dan banyak pemain lain di level ini,” kenang Fermin mengenai impresi pertamanya saat dipromosikan ke tim utama. Kehadiran para pemain bintang tersebut sempat membuatnya takjub sebelum akhirnya ia mampu beradaptasi dengan cepat.

Kunci adaptasi cepat Fermin di lapangan juga terbantu oleh kehadiran Lamine Yamal, rekannya sesama penggawa muda bertalenta luar biasa. Hubungan emosional yang erat di antara keduanya membuat kolaborasi taktik di lapangan mengalir begitu natural. “Sangat mudah bermain bersamanya. Dia adalah yang terbaik, dan jika Anda bermain dengan pemain-pemain berkualitas seperti ini, sepak bola menjadi lebih mudah,” puji Fermin.

Atmosfer harmonis ini juga terbawa hingga ke tingkat internasional bersama tim nasional Spanyol. Fermin menceritakan bagaimana kebersamaan skuad La Roja terjalin tanpa sekat, meskipun ia memiliki lingkaran pertemanan terdekat yang terdiri dari Alex Baena, Alejandro Grimaldo, Marc Cucurella, serta rekan setimnya di Barcelona, Pedri dan Yamal. “Saya rasa kami semua bersatu, namun saya bisa katakan bahwa saya berteman baik dengan semua orang dan kami semua adalah satu kelompok,” jelasnya.

Di akhir sesi wawancara, Fermin mengalihkan fokusnya dari ketenaran sepak bola profesional ke arah kehidupan pribadinya yang lebih membumi. Ia mengungkapkan bahwa prioritas jangka panjangnya adalah membangun stabilitas kehidupan di luar lapangan. “Seiring berjalannya waktu, saya ingin membangun keluarga, agar keluarga saya selalu sehat, dan membangun rumah saya sendiri serta lingkungan tempat tinggal saya sendiri,” pungkasnya menutup perbincangan hangat tersebut.