Rooney Tolak Gelar Liga Premier Limpahan Akibat Kasus Manchester City

Legenda Manchester United Wayne Rooney menolak pemberian gelar juara Liga Premier Inggris secara retrospektif jika rival mereka, Manchester City, dijatuhi hukuman pencopotan gelar juara. Rooney menegaskan bahwa timnya saat itu tidak tampil cukup baik untuk menjadi juara, sehingga merasa tidak pantas menerima medali emas tersebut dari meja hijau.
Pernyataan keras ini muncul setelah Manchester City dinyatakan bersalah atas mayoritas dari 115 tuntutan pelanggaran aturan finansial oleh Liga Premier. Kasus yang mencakup periode 2009 hingga 2018 ini memicu perdebatan sengit tentang nasib trofi juara yang diraih The Citizens selama periode tersebut.
Penolakan Keras Rooney terhadap Medali Hiburan
Rooney, yang mengemas 253 gol selama kariernya di Old Trafford, menjadi bagian dari skuad Setan Merah yang finis sebagai runners-up di bawah Manchester City pada musim kompetisi 2011-2012. Kendati beberapa mantan rekan setimnya seperti Rio Ferdinand mengisyaratkan keinginan untuk mendapatkan gelar tersebut, Rooney justru merasa sangat tidak nyaman jika harus menerima medali itu sekarang.
Berbicara dalam sebuah program podcast, Rooney mengungkapkan sudut pandangnya yang sangat jujur mengenai situasi ini. “Saya tidak akan merasa nyaman untuk menerima medali Liga Premier lainnya jika saya jujur, karena saya tidak berpikir kami layak mendapatkannya. Kami tidak melakukan hal yang cukup pada musim tersebut untuk memenangkan liga,” tegas pria berusia 40 tahun tersebut.
Rooney juga mencoba berempati dengan para pemain Manchester City yang telah berjuang habis-habisan di atas lapangan tanpa mengetahui pelanggaran administratif yang dilakukan manajemen klub. Menurutnya, mencabut gelar dari para pemain yang telah berjuang di lapangan akan sangat menghancurkan perasaan mereka secara profesional.
Tuntutan Degradasi Ekstrem untuk Manchester City
Meskipun enggan menerima gelar limpahan, Rooney tetap menuntut hukuman berat berupa degradasi bagi klub yang bermarkas di Etihad Stadium tersebut. Ia menilai sanksi penurunan kasta ke kompetisi Championship masih terlalu ringan dan tidak akan memberikan efek jera yang maksimal bagi pelanggar aturan finansial.
Mantan striker tim nasional Inggris ini menyarankan agar otoritas liga melemparkan Manchester City ke kasta kompetisi terendah yang memungkinkan. “Saya pikir kita akan melihat City terdegradasi. Saya akan menempatkan mereka di liga terendah yang mereka bisa masuki, dan kemudian menerapkan batasan pengeluaran uang untuk tiga atau empat musim ke depan,” ujar Rooney memberikan solusi ekstrem.
Menurut Rooney, hukuman tersebut harus disertai dengan pengurangan poin yang masif selama beberapa musim berturut-turut agar para pemain bintang mereka segera hengkang. Langkah drastis ini dinilai jauh lebih adil dibandingkan sekadar memberikan denda finansial yang dengan mudah dapat diselesaikan oleh pemilik klub kaya raya.
Kritik Tajam Pochettino Terkait Keadilan Kompetisi
Di sisi lain, mantan manajer Tottenham Hotspur dan Chelsea, Mauricio Pochettino, turut menyuarakan kekecewaan mendalam atas skandal ini dengan menyebut era tersebut sebagai masa penuh kebohongan. Pochettino menilai pelanggaran finansial ini telah merusak asas fair play dan mencederai integritas kompetisi sepak bola paling bergengsi di dunia.
Pelatih berusia 54 tahun itu mengenang masa-masa sulitnya saat menakhodai Tottenham, di mana mereka dipaksa mengetatkan ikat pinggang demi mematuhi regulasi keuangan liga. “Kami berjuang untuk meraih gelar juara dengan keterbatasan ekonomi tanpa melakukan transfer selama 18 bulan demi mematuhi aturan finansial, sementara pihak lain justru mendapatkan kelonggaran yang luar biasa,” ungkap Pochettino dengan nada kecewa.
Skandal besar ini kini memicu gelombang tuntutan hukum baru dari berbagai klub Liga Premier lainnya yang merasa dirugikan secara kompetitif dan finansial selama bertahun-tahun. Keputusan komisi independen terkait bentuk sanksi akhir untuk Manchester City dipastikan akan mengubah lanskap sejarah sepak bola modern Inggris untuk selamanya.

