Terpuruk di Papan Bawah, Tottenham Hotspur Terancam Degradasi

Tottenham Hotspur kini tengah menghadapi situasi kritis setelah mencatatkan start terburuk sepanjang sejarah mereka di Premier League. Di bawah asuhan pelatih Roberto De Zerbi, klub asal London Utara ini hanya mampu mengamankan dua poin dari lima pertandingan pembuka musim ini. Kekalahan kandang terbaru dengan skor 3-2 dari Aston Villa semakin mempertegas adanya masalah sistemik yang mendalam di dalam skuad, memicu alarm bahaya dari para pengamat sepak bola terkemuka.
Kondisi ini sangat ironis mengingat manajemen klub telah menggelontorkan dana fantastis di bursa transfer musim panas demi menjauhkan tim dari zona merah, setelah finis di peringkat ke-17 dalam dua musim beruntun. Desakan dan tekanan instan kini langsung mengarah kepada De Zerbi yang dinilai gagal meramu taktik yang solid, membuat armada Spurs terlihat rapuh dan kehilangan kepercayaan diri di lapangan.
Kritik Keras Joe Cole Terhadap Strategi Transfer Spurs
Mantan gelandang Chelsea dan West Ham, Joe Cole, menyoroti kebijakan perekrutan pemain Tottenham yang dinilainya tidak efisien. Meskipun telah membelanjakan lebih dari £300 juta untuk mendatangkan nama-nama besar seperti Sandro Tonali, Mateus Fernandes, Jan Paul van Hecke, dan Omar Marmoush, performa tim di atas lapangan masih jauh dari ekspektasi. Cole menilai klub terlalu memaksakan pembelian dengan harga yang tidak masuk akal tanpa melihat kebutuhan mendasar tim.
Cole secara khusus mengkritik lini pertahanan yang dinilai sangat rapuh saat menghadapi serangan balik lawan. Ia memberikan contoh bagaimana Van Hecke sangat kesulitan mengawal pergerakan penyerang Nicolas Jackson dalam laga kontra Aston Villa. “Mereka telah membayar terlalu mahal untuk setiap pemain yang dibeli musim panas ini. Anda tidak bisa mencoret mereka dari persaingan atau pertempuran di zona degradasi. Mereka tidak mencetak gol, dan mereka terlihat sangat lemah di lini belakang,” tegas Cole saat berbicara kepada TNT Sports.
Steven Gerrard Soroti Kelemahan Sistemik di Sektor Pertahanan
Senada dengan Cole, legenda Liverpool Steven Gerrard juga mengungkapkan kekhawatiran serupa mengenai masa depan Spurs di kasta tertinggi sepak bola Inggris. Menurutnya, meskipun ada beberapa perbaikan kualitas di sektor tengah dengan hadirnya pemain mumpuni seperti Sandro Tonali dan Rodrigo Bentancur, lini belakang Tottenham tetap menjadi titik lemah yang sangat mudah dieksploitasi oleh tim lawan melalui skema bola-bola panjang langsung.
Gerrard menilai koordinasi antara duet bek tengah Tottenham masih sangat mengkhawatirkan. Kegagalan mengantisipasi umpan jauh merupakan kesalahan fatal yang seharusnya tidak terjadi di level Premier League. “Mereka lemah dan rapuh di lini belakang, serta kebobolan terlalu banyak gol. Bola panjang langsung? Jika kedua bek tengah Anda tidak bisa mengatasinya, Anda akan menghadapi masalah besar. Hal itu harus segera diperbaiki,” ujar Gerrard menganalisis kerapuhan taktik De Zerbi.
Krisis Penyerang Tajam yang Belum Terselesaikan
Selain rapuh di sektor pertahanan, lini serang Tottenham juga menjadi sorotan tajam akibat absennya sosok striker murni yang bisa diandalkan sebagai mesin gol utama. Gol telat dari Conor Gallagher dan Van Hecke pada pertandingan terakhir memang sempat memperkecil ketertinggalan, namun hal tersebut tidak cukup untuk menutupi minimnya kreativitas dan ketajaman di lini depan Spurs musim ini.
Tanpa adanya seorang penyerang haus gol yang mampu menjamin 20 gol semusim, impian Tottenham untuk bangkit dari keterpurukan tampaknya akan sulit terwujud. Satu-satunya hasil positif yang mereka raih sejauh ini hanyalah kemenangan telak 5-1 atas Charlton Athletic di ajang Carabao Cup, sebelum akhirnya mereka harus tersingkir oleh Liverpool di babak berikutnya. Gerrard memperingatkan bahwa tanpa adanya perubahan radikal, jalan terjal menanti klub London Utara ini hingga akhir musim nanti.

