Konten dari Pengguna

Membebaskan Umat Manusia dari Rasa Takut

Supian

Supianverified-green

Dosen Prodi Sastra Rusia, Universitas Padjadjaran

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Supian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi kerusuhan Foto: Tama66
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kerusuhan Foto: Tama66

Penulis, sebagai pemerhati Rusia, merasa khawatir dengan situasi yang terjadi di dunia saat ini, khususnya isu ketegangan hubungan dua negara adidaya, Amerika Serikat dan Rusia, yang telah mulai berebut pengaruh, baik di Eropa maupun Asia. Bloomberg di penghujung Januari 2017 pernah merilis berita proyek rahasia pemerintah Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Barack Obama.

STRATCOM Pentagon, dengan persetujuan kongres, sedang menjalankan misi intelijen yang sangat mengagetkan, yaitu mencari, memetakan, dan menilai kemampuan bunker-bunker perlindungan bawah tanah untuk evakuasi dan rantai komando para pemimpin Rusia dan China, bila terjadi perang nuklir. Laporan Bloomberg tersebut memicu reaksi para pemangku kepentingan bidang politik dan pertahanan di Rusia, salah satunya dari bekas pemimpin terakhir Uni Soviet, Mikhail Gorbachev.

Mantan pemimpin Uni Soviet Mikhail Gorbachev pada festival sastra lit.Cologne di 'Guerzenich' pada 13 Maret 2013 di Cologne, Jerman. Foto: Ralf Juergens/Getty Images

Gorbachev, melalui media corong pemerintah Rusia, Rossiyskaya Gazeta, menilai bahwa dunia sedang menghadapi potensi pecahnya perang dunia ketiga. Hal ini bukan tanpa alasan, sebab potensi konflik telah kembali muncul di kawasan Eropa Timur, mulai dari penempatan artileri, tank-tank, dan pasukan Amerika Serikat di bawah bendera NATO di Polandia, Estonia, dan Lithuania yang berbatasan langsung dengan Rusia.

Adapun konflik bersenjata sebagai embrio disintegrasi lima tahun lalu pecah di provinsi Donetsk, Ukraina timur, yang juga berbatasan langsung dengan Rusia. Presiden Ukraina, Vladimir Aleksandrovich Zelinsky, bekas komedian ternama, di penghujung tahun ini memerintahkan pasukannya untuk dimobilisasi ke Donbass, Provinsi Lugansk, sebab menurut hematnya, benih gerakan disintegrasi semakin menguat di Provinsi Donetsk jangan sampai meluas ke provinsi tetangganya, Provinsi Lugansk, dia tidak ingin tragedi lepasnya Semenanjung Krimea ke pelukan Rusia, terulang, terjadi lagi di Donetsk dan Lugansk.

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky. Foto: AFP

Menurut Gorbachev, sekarang situasi dan tendensi yang terjadi di dunia sangat membahayakan. Para aktor politik dunia sedang sakit, bahkan boleh dikatakan telah menjadi epidemi, mereka tidak memenuhi janji, komitmen, tanggung jawab dan slogan-slogan demagogis, untuk memelihara perdamaian dunia, tetapi bahkan justru saling curiga dan saling menyalahkan. Mereka sudah memulai kembali program perlombaan senjata. Alutsista NATO dan Rusia yang dulu berada jauh di pangkalan teritorinya masing-masing, dengan jarak satu sama lain sangat jauh, sekarang justru dimobilisasi saling berhadapan di satu garis perbatasan. Hal ini kontra-produktif dengan prakarsa perdamaian yang telah dia rintis ketika menjabat sebagai pemimpin Uni Soviet.

Dewasa ini, anggaran belanja untuk militer meningkat sangat signifikan, melebihi dana alokasi untuk kesejahteraan warga negara. Pos dana pembangunan dialihkan ke alokasi pembelian persenjataan paling mutakhir, yang kekuatannya setara dengan senjata penghancur massal, seperti kapal selam yang mampu mengarungi setengah benua, sistem pertahanan rudal, dan terakhir perlombaan uji coba rudal hipersonik oleh Rusia, Amerika Serikat, Inggris, dan China yang merusak stabilitas tatanan perdamaian dunia. Situasi tegang ini juga diperkeruh dengan pernyataan provokatif para politisi dan pejabat militer, yang diformulasikan ke dalam doktrin militer, juga disulut dengan pemberitaan provokatif media massa dan elektronik.

Ilustrasi Rudal nuklir China. Foto: GREG BAKER/AFP

Militer Amerika menyatakan, bahwa Rusia dan China dalam waktu yang tidak terlalu lama akan saling menjadi ancaman. Amerika menuduh Rusia telah mengembangkan dan membangun senjata anti satelit. Anggota kongres Partai Republik dari Ohio, Mike Turner, menyatakan bahwa Amerika harus mengerti bahwa para pemimpin Rusia dan China sedang merencanakan dan mengendalikan konflik potensial untuk memicu perang dan AS harus siap untuk mengantisipasi ancaman tersebut.

Pendapat tersebut diperkuat oleh Bruces Blair, analis politik keamanan dari Princeton University yang juga co-founder Global Zero, lembaga yang menginisiasi penghapusan senjata nuklir, menyatakan bahwa Rusia merasa khawatir dengan penempatan rudal balistik China di perbatasan timur Rusia. Blerr juga menambahkan bahwa para pemimpin Rusia dan China merencanakan mengendalikan senjata nuklir dari bunker-bunker pusat komando, yang telah dibangun pada masa Perang Dingin, berada sangat dalam ratusan meter di bawah tanah di sepanjang pegunungan Ural.

Kewaspadaan terhadap ancaman isu senjata pemusnah massal diestafetkan ke pemerintahan Donald Trump, seminggu setelah dilantik Trump segera menginstruksikan kepada menteri pertahanan James Mattis untuk mempersiapkan review terbaru politik nuklirnya, guna menjamin kesiapan kondisi kekuatan nuklir Amerika dalam tingkatan yang tepat, untuk menenangkan para sekutu dekatnya. Menurut Bloomberg, untuk menjamin kesiapan dan modernisasi proyek nuklir Amerika “Triad” diperlukan dana sekurang-kurangnya tiga triliun dolar Amerika dalam jangka waktu 30 tahun dan sudah dimulai di era pemerintahan Obama.

Mantan Presiden AS Donald Trump. Foto: ERIN SCOTT/REUTERS

Trump berjanji akan memperkuat dan memperluas kekuatan nuklirnya. Selain menata kembali kekuatan alutsista nuklir, Trump juga menawarkan perundingan dengan Vladimir Putin dan menawarkan deal pertukaran pencabutan sanksi ekonomi terhadap Rusia dengan pengurangan arsenal nuklir masing-masing kedua negara, yang memiliki 90% kekuatan senjata nuklir dunia. Adapun perjanjian perlucutan senjata nuklir antara Amerika-Rusia ditandatangani April 2010 dengan pembatasan jumlah hulu ledak nuklir menjadi 1550 untuk masing-masing pihak dan perjanjian tersebut mulai efektif Februari 2011 untuk jangka 10 tahun dan akan diperpanjang untuk masa lima tahun atas kesepakatan bersama, akan tetapi menurut analis pertahanan harian Gazeta Rusia, proposal pengurangan arsenal nuklir yang diusulkan Trump, justru akan memperkuat dan menguntungkan kekuatan nuklir Amerika.

Usaha pengurangan senjata nuklir dunia telah diprakarsai oleh pemimpin Amerika Serikat dan Uni Soviet sejak 1980 dengan penghancuran 80% kekuatan nuklir kedua negara adidaya di era presiden AS Ronald Reagan dan pemimpin Uni Soviet Mikhail Gorbachev. Kemudian ketika mereka bertemu di Jenewa, November 1985, Gorbachev dan Reagan mengeluarkan pernyataan bersama, bahwa perang nuklir tidak akan pernah terjadi, sebab tidak akan ada pemenang dan mereka berusaha untuk tidak menjadi superioritas militer. Semua pihak setuju untuk menghapus senjata nuklir dari kosa kata politik dan memulai perspektif baru dunia tanpa senjata nuklir.

Ilustrasi hulu ledak nuklir milik Amerika Serikat. Foto: Shutter Stock

Gorbachev menilai, dalam sepuluh tahun terakhir ini ancaman nuklir kembali menghantui dunia. Hal ini ditandai dengan semakin memburuknya hubungan antara negara-negara kekuatan nuklir utama. Kita harus berjibaku keluar dari situasi tersebut secepatnya dengan cara memperbaharui dialog politik untuk mencari solusi dan tindakan bersama untuk segera menghentikan perlombaan senjata, mengurangi arsenal nuklir dan sistem pertahanan anti rudal, untuk menghindari pemicu perang dunia ketiga. Mengapa langkah itu harus segera diambil? Sebab ada hal yang lebih penting dihadapi dunia saat ini yaitu terorisme, kemiskinan, migrasi, ledakan pertumbuhan penduduk, ekologi, pemanasan global dan keterbatasan sumber daya alam, yang tidak dapat diselesaikan dengan perang.

Langkah pertama yang harus diambil menurut Gorbachev, Dewan Keamanan PBB, badan utama yang bertanggung jawab atas pemeliharaan perdamaian dan keamanan dunia, untuk segera mengambil inisiatif nyata yaitu segera mengadakan pertemuan tingkat tinggi Dewan Keamanan pada tingkat kepala negara, untuk mengadopsi resolusi tentang larangan perang nuklir. Kemudian Gorbachev juga menyerukan kepada Rusia dan Amerika Serikat untuk mengatasi runtuhnya rasa saling percaya dan segera memulihkan hubungan bilateral ke tingkat saling mempercayai satu sama lain.

Andai kata inisiatif dan adopsi resolusi tersebut dibuat oleh Vladimir Putin dan Joe Biden, presiden dari negara-negara yang memiliki lebih dari 90% persenjataan nuklir dunia, maka mereka merupakan pemimpin yang memiliki tanggung jawab dan karakter kenegarawanan seperti pendahulunya, Presiden AS Franklin Roosevelt.

Presiden Amerika Serikat ke-32 Franklin Delano Roosevelt. Foto: AFP

Kini mereka memiliki kesempatan untuk menunjukkan kepemimpinannya kepada dunia, sebab sekarang dunia membutuhkan sosok kepemimpinan Franklin Roosevelt. Menurut Roosevelt: salah satu kebebasan utama umat manusia adalah kebebasan dari rasa takut. Bila kita telah bebas dari ketakutan militerisme, konflik militer, perlombaan senjata, perang nuklir Damocles, maka kita akan lebih mudah menyelesaikan masalah lain yang dihadapi dunia.

S u p i a n

Dosen Prodi Sastra Rusia, Universitas Padjadjaran (memperoleh M.A. dan Ph.D, bidang Bahasa Rusia di Institut Pushkin, Moskow, Rusia dan inisiator ekspor buah tropis Indonesia ke Rusia).