Konten dari Pengguna

Bangkit Hari Ini: Bukan Lagi Angkat Senjata, Tapi Bangun SDM Unggul

Suriadi

Suriadi

Statistisi BPS Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Suriadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar: Panen padi di kawasan Kulon Progo DIY sebagai momentum kebangkitan dan kedaulatan Pangan bangsa. Sumber: Koleksi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Gambar: Panen padi di kawasan Kulon Progo DIY sebagai momentum kebangkitan dan kedaulatan Pangan bangsa. Sumber: Koleksi Pribadi

Setiap tanggal 20 Mei, kita memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Dulu, semangat kebangkitan berarti melawan penjajahan dan memperjuangkan kemerdekaan. Tapi sekarang, saat dunia berubah cepat dan tantangan datang dari segala arah, apa makna kebangkitan bagi generasi kita?. Jawabannya sederhana: kebangkitan hari ini bukan lagi tentang perang fisik, tapi tentang membangun manusia Indonesia yang unggul, sehat, cerdas, kreatif, dan peduli. Ini bukan tugas segelintir orang. Ini tugas kita semua. Terutama anak muda, karena masa depan bangsa ada di tangan mereka.

Pendidikan adalah Kunci Awal

Kalau bicara soal kualitas sumber daya manusia, pendidikan jelas jadi pintu pertama. Saat ini, kita punya Kurikulum Merdeka yang memberi ruang bagi siswa untuk belajar sesuai minat dan bakat. Tapi di balik itu, masih ada masalah yang tak kecil: ketimpangan kualitas pendidikan antara kota dan desa, guru yang belum merata, dan tantangan literasi digital yang belum tuntas. Anak-anak muda sekarang hidup di era internet, tapi itu tidak otomatis membuat mereka jadi pembelajar aktif. Tantangannya: bagaimana sistem pendidikan membentuk mereka jadi pemikir kritis, bukan sekadar penghafal. Peran guru di sini sangat penting—mereka bukan hanya pengajar, tapi fasilitator dan motivator perubahan.

Kesehatan: Tanpa Tubuh dan Pikiran yang Sehat, Mau Bangkit Bagaimana?

Gizi buruk dan stunting masih menghantui generasi muda di banyak daerah. Gizi buruk bukan hanya soal tubuh, tapi soal masa depan. Anak yang kekurangan gizi berisiko tumbuh dengan kemampuan belajar dan produktivitas rendah. Itu artinya, peluang mereka untuk bersaing juga ikut tergerus. Bukan cuma itu. Kesehatan mental juga jadi isu serius. Banyak anak muda merasa tertekan oleh ekspektasi, media sosial, dan ketidakpastian hidup. Sayangnya, akses layanan konseling atau dukungan psikologis masih terbatas, apalagi di sekolah-sekolah umum. Padahal, generasi tangguh butuh tubuh dan jiwa yang sehat. Peran guru di sini sangat penting, mereka bukan hanya pengajar, tapi fasilitator dan motivator perubahan.

Teknologi dan Inovasi: Peluang Besar yang Perlu Diambil

Generasi sekarang adalah generasi digital. Tapi ironisnya, masih banyak yang sekadar jadi pengguna, bukan pencipta. Padahal, dunia digital menyimpan peluang besar dari jadi konten kreator, pengembang aplikasi, hingga wirausahawan digital. Masalahnya, tidak semua anak muda punya akses terhadap pelatihan, mentor, atau fasilitas teknologi. Banyak yang tinggal di daerah yang masih kesulitan sinyal, atau belum punya perangkat yang memadai. Karena itu, penting untuk membangun ekosistem digital yang inklusif dan berpihak pada semua, bukan hanya yang tinggal di kota besar.

Kreativitas dan Wirausaha: Jalan Mandiri yang Menjanjikan

Ekonomi kreatif dan UMKM jadi jalan alternatif buat banyak anak muda. Dari usaha kopi, thrift shop, sampai digital content dan ilustrasi, semuanya bisa jadi sumber penghasilan dan kebanggaan. Tapi perjalanannya nggak mudah. Banyak yang mentok di perizinan, kesulitan modal, atau tidak tahu cara memasarkan produk. Pemerintah, komunitas, dan platform digital perlu bikin ekosistem yang bukan cuma mendukung, tapi juga memfasilitasi. Karena kalau diberi kesempatan, anak muda Indonesia bisa sangat inovatif.

Kepedulian Sosial dan Lingkungan: Bentuk Kebangkitan yang Baru

Kebangkitan nasional tidak hanya soal diri sendiri, tapi juga soal kepedulian terhadap sekitar. Kita hidup di dunia yang terancam krisis iklim, polarisasi sosial, dan kerusakan lingkungan. Generasi muda harus menjadi bagian dari solusi, bukan cuma penonton. Banyak anak muda yang mulai terlibat di gerakan lingkungan, komunitas sosial, dan relawan digital. Ini adalah bentuk baru dari semangat kebangkitan: sadar bahwa perubahan dimulai dari diri sendiri dan komunitas. Pendidikan dan media perlu lebih sering mengangkat dan mendorong inisiatif-inisiatif ini.

Bangkit Hari Ini,Bangkit Bersama

Hari Kebangkitan Nasional tidak lagi bicara tentang siapa yang menjajah kita, tetapi tentang bagaimana kita bangkit melawan keterbatasan kita sendiri. Kita tidak sedang melawan penjajah bersenjata, tapi menghadapi ketimpangan pendidikan, kesehatan yang belum merata, dan ketertinggalan dalam penguasaan teknologi. Kebangkitan itu dimulai dari manusia, dari kualitas SDM, dari anak-anak muda yang punya semangat belajar, sehat mental dan fisik, inovatif, dan punya kepedulian sosial.

Kalau dulu para tokoh pergerakan berjuang dengan pena dan gagasan, sekarang saatnya generasi muda bangkit dengan kreativitas, teknologi, dan kolaborasi.Kebangkitan nasional bukan hanya perayaan sejarah, tapi ajakan untuk terus bergerak. Karena masa depan Indonesia ada di tangan manusia-manusia mudanya yang sehat, tangguh, dan siap membawa bangsa ini melompat jauh ke depan.