Konten dari Pengguna

Batik dan Akuntansi: Warisan Budaya dalam Jejak Keberlanjutan

Suripto

Suripto

Ketua Program Studi Akuntansi, Universitas Pamulang

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Suripto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi kain batik. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kain batik. Foto: Shutter Stock

Batik bukan hanya kain bermotif indah yang diwariskan turun-temurun. Ia adalah jejak budaya yang sarat makna, kesabaran, harmoni, dan keberlanjutan. Setiap titik malam yang ditorehkan pada kain adalah catatan, sebagaimana akuntansi mencatat perjalanan sebuah entitas. Di tengah tuntutan dunia akan transparansi dan keberlanjutan, filosofi batik bisa menjadi inspirasi bagi akuntansi modern untuk melampaui angka dan merajut nilai kehidupan.

Batik: Filosofi yang Lestari

Batik telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia. Namun lebih dari itu, ia merekam nilai kearifan lokal tentang kesinambungan. Motif-motif batik selalu menyiratkan hubungan manusia dengan alam dan kehidupan sosial. Seperti motif parang yang menggambarkan keteguhan atau kawung yang melambangkan keseimbangan hidup.

Nilai-nilai ini sejalan dengan akuntansi keberlanjutan yang menuntut agar perusahaan menjaga keseimbangan; tidak hanya mengejar laba, tetapi juga memperhatikan dampak sosial dan lingkungan. Sama seperti batik, keberlanjutan tidak lahir instan, melainkan dari proses panjang, detail, dan penuh kesadaran.

Ilustrasi pengrajin yang sedang membuat batik Kampung Batik Laweyan Foto: Shutter Stock

Dari Motif ke Laporan

Jika batik disusun dari ribuan titik malam, laporan keberlanjutan tersusun dari data yang merekam aktivitas bisnis. Setiap angka adalah “motif” yang memberi makna pada sebuah laporan. Tanpa detail itu, perusahaan ibarat kain polos tanpa identitas.

Akuntansi keberlanjutan membantu masyarakat melihat bukan hanya berapa besar keuntungan yang dicapai, melainkan juga bagaimana keuntungan itu diperoleh. Apakah dengan merusak lingkungan? Apakah dengan menindas pekerja? Atau justru dengan memberi manfaat nyata bagi komunitas? Pertanyaan-pertanyaan ini kini menjadi bagian penting dalam evaluasi publik.

Laba yang Dihiasi Nilai Sosial

Laba ibarat warna dalam batik. Tanpa warna, batik kehilangan daya tarik. Namun jika hanya satu warna, batik pun terasa hambar. Begitu pula laba dalam bisnis, penting, tetapi tidak cukup. Nilai sosial dan keberlanjutan adalah “warna tambahan” yang membuat bisnis bermakna dan indah.

Batik mengajarkan kita bahwa keragaman warna dan motif justru memperkuat makna. Demikian pula akuntansi keberlanjutan, laba berpadu dengan kepedulian sosial dan ekologis menjadikan laporan perusahaan lebih bernilai.

Ilustrasi motif batik. Foto: Shutter Stock

Indonesia dan Jejak Keberlanjutan

Di tengah tren global tentang pelaporan ESG (Environment, Social, Governance), Indonesia memiliki keunggulan budaya. Batik bisa menjadi simbol bahwa keberlanjutan bukan sekadar konsep impor, melainkan sudah ada dalam DNA bangsa. Saat dunia menuntut transparansi, kita bisa menunjukkan bahwa filosofi batik adalah bukti bahwa harmoni dan keberlanjutan sudah lama kita pahami.

Akuntansi keberlanjutan bila dikaitkan dengan batik menjadi narasi yang lebih membumi dan dekat dengan masyarakat. Laporan bisnis tidak lagi dingin dan kaku, tetapi menjadi kisah tentang tanggung jawab dan kesinambungan.

Menenun Masa Depan

Tantangan kita hari ini bukan hanya menjaga batik sebagai warisan budaya, tetapi juga menjadikannya inspirasi dalam membangun ekonomi hijau. Seorang akuntan dapat belajar dari pembatik, sabar, detail, dan konsisten. Pemimpin bisnis dapat meneladani filosofi motif batik, harmoni, keseimbangan, dan keberlanjutan.

Dengan demikian, akuntansi keberlanjutan tidak lagi sekadar kewajiban regulasi, tetapi menjadi warisan budaya yang kita praktikkan dalam dunia modern. Membatik laba dan menenun keberlanjutan adalah jalan bagi Indonesia untuk menjadi teladan global.

Batik mengajarkan bahwa keindahan lahir dari detail, kesabaran, dan keterhubungan. Akuntansi keberlanjutan pun demikian, ia bukan sekadar laporan angka, melainkan sebuah catatan hidup sebuah entitas dalam menjaga keseimbangan. Ketika batik dan akuntansi berpadu, kita tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga meletakkan jejak keberlanjutan yang akan dibaca oleh generasi masa depan.