Konten dari Pengguna

Dunia Membara, Minyak Melonjak: Awal Krisis Global Jilid Baru?

Suripto

Suripto

Ketua Program Studi Akuntansi, Universitas Pamulang

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Suripto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber gambar: dibuat menggunakan AI
zoom-in-whitePerbesar
Sumber gambar: dibuat menggunakan AI

Konflik geopolitik di Timur Tengah kembali menempatkan dunia pada titik genting. Eskalasi ketegangan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat tidak hanya menciptakan instabilitas keamanan kawasan, tetapi juga mengguncang fondasi ekonomi global melalui lonjakan harga minyak. Dalam konteks ini, dunia seolah mengulang siklus lama, perang memicu krisis energi, dan krisis energi menekan ekonomi global.

Pertanyaannya, apakah kondisi saat ini merupakan awal dari krisis global jilid baru?

Secara historis, keterkaitan antara konflik geopolitik dan krisis energi bukanlah hal baru. Krisis minyak 1973 yang dipicu embargo negara-negara Arab menjadi bukti nyata bagaimana gangguan pasokan energi dapat melumpuhkan ekonomi dunia. Hari ini, pola serupa kembali terlihat. Kawasan Timur Tengah menyumbang sekitar sepertiga pasokan minyak global, dengan jalur strategis seperti Selat Hormuz menjadi urat nadi distribusi energi dunia. Ketika kawasan ini memanas, pasar energi global langsung bereaksi.

Lonjakan harga minyak yang menembus angka psikologis, bahkan mendekati atau melampaui USD 100 per barel menjadi sinyal kuat adanya tekanan struktural. Dalam perspektif ekonomi makro, kenaikan harga energi memiliki efek berantai (multiplier effect) yang luas. Biaya produksi meningkat, inflasi terdorong naik, daya beli masyarakat melemah, dan pada akhirnya pertumbuhan ekonomi global terancam melambat.

Lebih jauh, krisis minyak tidak hanya berdampak pada negara importir energi, tetapi juga menciptakan ketidakpastian global yang lebih luas. Negara berkembang, termasuk Indonesia, berada pada posisi yang rentan. Ketergantungan terhadap impor energi membuat tekanan terhadap anggaran negara meningkat, terutama melalui subsidi energi. Dalam situasi seperti ini, stabilitas fiskal dan moneter menjadi taruhan.

Dari sudut pandang akademik, fenomena ini dapat dijelaskan melalui kerangka geopolitical risk and economic transmission. Risiko geopolitik berfungsi sebagai shock eksternal yang mempengaruhi pasar komoditas, khususnya energi. Shock ini kemudian ditransmisikan ke sektor riil melalui inflasi dan ke sektor keuangan melalui volatilitas pasar. Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi ini berpotensi berkembang menjadi krisis sistemik.

Namun demikian, krisis selalu memiliki dua wajah, sebagai ancaman sekaligus peluang. Lonjakan harga minyak sejatinya dapat menjadi katalis bagi percepatan transisi energi. Ketika energi fosil menjadi mahal dan tidak stabil, insentif untuk beralih ke energi terbarukan semakin kuat. Dalam kerangka ekonomi keberlanjutan, momentum ini dapat dimanfaatkan untuk mempercepat investasi pada energi bersih seperti tenaga surya, angin, dan bioenergi.

Sayangnya, realitas politik dan ekonomi seringkali tidak berjalan seideal teori. Dalam jangka pendek, banyak negara justru kembali mengamankan pasokan energi fosil demi menjaga stabilitas domestik. Hal ini menunjukkan adanya dilema klasik antara kebutuhan jangka pendek dan visi jangka panjang.

Di sinilah pentingnya kepemimpinan global dan kebijakan yang adaptif. Dunia tidak hanya membutuhkan stabilitas geopolitik, tetapi juga arah kebijakan energi yang konsisten. Tanpa itu, setiap konflik berpotensi kembali menyeret dunia ke dalam siklus krisis yang berulang.

Bagi Indonesia, situasi ini harus menjadi alarm strategis. Ketahanan energi tidak lagi bisa dipandang sebagai isu sektoral, melainkan sebagai bagian dari ketahanan nasional. Diversifikasi energi, efisiensi konsumsi, serta percepatan transisi menuju energi terbarukan menjadi keharusan, bukan pilihan.

Pada akhirnya, pertanyaan besar tetap menggantung, apakah dunia sedang memasuki krisis global jilid baru? Jawabannya bergantung pada bagaimana komunitas internasional merespons situasi ini. Jika konflik terus bereskalasi dan ketergantungan pada energi fosil tidak berkurang, maka krisis bukan lagi kemungkinan, melainkan keniscayaan.

Dunia memang sedang membara, dan minyak terus melonjak. Namun yang lebih menentukan adalah apakah umat manusia mampu belajar dari sejarah atau justru kembali mengulanginya.

Penulis: Dr. H. Suripto, M.Ak Ketua Program Studi Akuntansi Universitas Pamulang dan Sekretaris Forum Silaturahmi Doktor Indonesia Propinsi Banten.