Konten dari Pengguna

Jangan Hanya Memakai Batik, Baca Filosofinya

Suripto

Suripto

Ketua Program Studi Akuntansi, Universitas Pamulang

·waktu baca 8 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Suripto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Gambar berbagai macam Motif Batik ( Gambar dibuat dengan AI)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Gambar berbagai macam Motif Batik ( Gambar dibuat dengan AI)

Pagi itu saya berdiri di depan lemari.

Ada beberapa pilihan pakaian. Tetapi hari itu saya mengambil batik.

Bukan karena sedang ada aturan untuk memakai batik. Bukan pula karena sekadar mengikuti kebiasaan setiap 2 Oktober.

Saya tiba-tiba berpikir: ketika kita memakai batik, sebenarnya apa yang sedang kita kenakan?

Kain?

Motif?

Tradisi?

Atau sebuah cerita?

Pertanyaan sederhana itu membawa saya pada satu kesimpulan: mungkin selama ini kita terlalu sering memakai batik, tetapi terlalu jarang membaca batik.

Padahal, batik bukan sekadar kain bermotif.

Di dalamnya ada tangan manusia, ketekunan, pengetahuan, identitas, doa, harapan, dan nilai kehidupan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Hari ini, 2 Oktober, kita memperingati Hari Batik Nasional. Tanggal ini ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 33 Tahun 2009, setelah UNESCO mengakui batik Indonesia sebagai warisan budaya takbenda dunia pada 2009.

Pengakuan itu bukan semata-mata tentang kain.

Yang lebih penting adalah pengetahuan, keterampilan, simbolisme, dan tradisi yang hidup di baliknya.

Karena itu, saya ingin mengajak kita melihat batik dengan cara yang sedikit berbeda.

Jangan hanya memakai batik. Baca filosofinya.

Batik tidak pernah sekadar motif

Coba perhatikan selembar batik.

Ada pola yang berulang.

Ada garis yang saling bertemu.

Ada lingkaran.

Ada awan.

Ada tumbuhan.

Bagi mata yang terbiasa melihat pakaian, semua itu mungkin hanya motif.

Tetapi bagi masyarakat yang mewarisinya, motif bisa menjadi bahasa.

Ia menyampaikan pesan tanpa harus berbicara.

Ada harapan tentang kehidupan.

Ada doa tentang kesejahteraan.

Ada pesan tentang bagaimana manusia seharusnya bersikap.

Ambil contoh Parang.

Motif ini dalam tradisi Jawa sering dikaitkan dengan keteguhan, semangat perjuangan, dan keberanian menghadapi tantangan.

Kalau kita membacanya dengan bahasa zaman sekarang, ada satu kata yang terasa dekat: ketangguhan.

Hidup memang tidak selalu mudah.

Begitu juga dunia usaha.

Ada krisis.

Ada perubahan teknologi.

Ada perubahan perilaku konsumen.

Ada ketidakpastian ekonomi.

Yang mampu bertahan bukan selalu yang paling besar, tetapi yang mampu beradaptasi tanpa kehilangan arah.

Parang seolah mengingatkan kita: jangan berhenti hanya karena jalan sedang tidak mudah.

Kawung dan seni menjaga keseimbangan

Kemudian Kawung.

Bentuknya sederhana. Lingkaran-lingkaran yang tersusun rapi.

Tetapi kesederhanaan itu justru menyimpan pesan tentang keseimbangan, pengendalian diri dan keadilan.

Saya melihat filosofi ini sangat relevan dengan kehidupan kita hari ini.

Kita hidup di tengah budaya yang sangat menyukai pertumbuhan.

Pendapatan harus naik.

Laba harus meningkat.

Aset harus bertambah.

Bisnis harus berkembang.

Tidak ada yang salah dengan pertumbuhan.

Tetapi pertumbuhan tanpa keseimbangan bisa menjadi persoalan.

Perusahaan bisa mencatat laba besar, tetapi apa yang terjadi jika lingkungan rusak?

Perusahaan bisa berkembang pesat, tetapi bagaimana dengan pekerjanya?

Bisnis bisa semakin besar, tetapi apakah masyarakat di sekitarnya ikut merasakan manfaat?

Di sinilah sustainability menjadi penting.

Dalam akuntansi keberlanjutan, perhatian tidak hanya diarahkan pada angka keuangan, tetapi juga pada bagaimana organisasi mengelola berbagai aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola yang dapat memengaruhi penciptaan nilai dalam jangka panjang.

Bahasanya mungkin modern.

Tetapi pesannya terasa sangat familiar.

Bertumbuh, tetapi jangan kehilangan keseimbangan.

Bukankah itu yang sejak lama diajarkan Kawung?

Mega Mendung: jangan ikut menjadi mendung

Lalu ada Mega Mendung.

Motif khas Cirebon yang menggambarkan awan.

Mendung biasanya kita anggap sebagai sesuatu yang kurang menyenangkan.

Tetapi awan juga membawa hujan.

Dan hujan membawa kehidupan.

Filosofi Mega Mendung sering dikaitkan dengan ketenangan, kesabaran dan kemampuan mengendalikan diri.

Saya kira pesan ini semakin penting di zaman sekarang.

Kita hidup dalam dunia yang bergerak sangat cepat.

Satu berita muncul.

Belum selesai dibaca, berita lain datang.

Satu persoalan muncul.

Komentar sudah ribuan.

Kadang kita bereaksi sebelum sempat berpikir.

Dalam dunia bisnis pun demikian.

Ketika keadaan berubah, keputusan sering dibuat dalam tekanan.

Padahal keberlanjutan membutuhkan ketenangan.

Tidak semua peluang harus dikejar.

Tidak semua keuntungan harus dimaksimalkan hari ini.

Tidak semua sumber daya boleh dieksploitasi tanpa batas.

Ada saatnya kita harus berhenti dan bertanya:

cukupkah?

Kata yang sangat sederhana.

Tetapi justru sangat penting dalam sustainability.

Mega Mendung seperti mengajarkan: ketika langit sedang mendung, jangan ikut kehilangan kejernihan.

Sido Mukti dan harapan tentang kesejahteraan

Ada pula Sido Mukti.

Nama ini mengandung harapan tentang kemuliaan, kesejahteraan dan kemakmuran.

Harapan yang sederhana.

Semua orang ingin hidup lebih baik.

Tetapi sustainability mengajak kita menambahkan satu kata penting:

berkelanjutan.

Bukan hanya sejahtera hari ini.

Tetapi juga besok.

Bukan hanya generasi kita.

Tetapi juga generasi setelah kita.

Di sinilah saya melihat hubungan yang menarik antara filosofi batik dan gagasan sustainability.

Kita mungkin tidak menemukan istilah sustainability dalam tradisi batik.

Tidak ada istilah ESG.

Tidak ada sustainability accounting.

Tetapi nilai tentang keseimbangan, keteguhan, pengendalian diri dan kesejahteraan telah lama hidup dalam masyarakat kita.

Istilahnya boleh berubah.

Zamannya boleh berubah.

Tetapi nilai dasarnya tetap relevan.

Jangan sampai batiknya lestari, pembatiknya tidak

Ada satu pertanyaan yang menurut saya lebih penting.

Ketika kita mengatakan ingin melestarikan batik, sebenarnya apa yang ingin kita lestarikan?

Kainnya?

Motifnya?

Atau manusia yang membuatnya?

Sebab batik tidak muncul dari mesin secara tiba-tiba.

Ada pembatik yang duduk berjam-jam.

Ada tangan yang bekerja dengan teliti.

Ada pengetahuan yang dipelajari sejak kecil.

Ada keterampilan yang diturunkan dari orang tua kepada anak.

Ada keluarga yang kehidupannya bergantung pada batik.

Karena itu, jangan sampai kita mengatakan:

“Batik harus lestari.”

Tetapi lupa bertanya:

“Apakah pembatiknya bisa hidup layak?”

Jangan sampai motifnya semakin populer, tetapi generasi muda semakin tidak tertarik mempelajarinya.

Jangan sampai penjualannya meningkat, tetapi manfaat ekonominya tidak dirasakan secara adil oleh orang-orang yang berada di hulu.

Jangan sampai industri batik tumbuh, tetapi persoalan lingkungan dari proses produksinya diabaikan.

Kalau itu terjadi, kita perlu bertanya kembali: apakah yang kita sebut pelestarian sudah benar-benar berkelanjutan?

UNESCO sendiri menempatkan pendidikan dan pewarisan pengetahuan batik kepada generasi muda sebagai bagian penting dalam upaya menjaga keberlanjutan warisan budaya tersebut.

Ini memberi pelajaran yang sangat sederhana:

warisan tidak cukup untuk disimpan. Warisan harus diwariskan.

Batik punya rantai nilai

Sebagai akademisi yang menekuni akuntansi keberlanjutan, saya melihat batik juga menarik jika dilihat sebagai sebuah rantai nilai.

Di balik selembar kain ada banyak pihak.

Ada pemasok bahan.

Ada pembatik.

Ada pengusaha.

Ada desainer.

Ada pekerja.

Ada pedagang.

Ada pelaku pemasaran.

Ada konsumen.

Ada pemerintah.

Ada komunitas.

Dan tentu saja ada generasi muda yang akan menentukan apakah tradisi itu masih hidup atau tidak.

Artinya, nilai batik tidak lahir dari satu tangan.

Ia lahir dari sebuah ekosistem.

Dalam akuntansi, kita terbiasa menghitung biaya dan pendapatan.

Menghitung laba.

Mengukur aset.

Mencatat transaksi.

Itu penting.

Tetapi kehidupan tidak selalu bisa dijelaskan hanya dengan angka.

Berapa nilai pengetahuan seorang pembatik yang diwariskan selama puluhan tahun?

Berapa nilai sebuah motif yang menjadi identitas sebuah daerah?

Berapa nilai sebuah tradisi yang membuat sebuah keluarga mampu bertahan hidup?

Berapa nilai lingkungan yang harus tetap dijaga agar proses produksi dapat berlangsung?

Sebagian nilai itu mungkin tidak mudah terlihat dalam laporan keuangan.

Tetapi bukan berarti nilainya tidak ada.

Di sinilah perspektif sustainability accounting menjadi menarik.

Ia mengajak kita memperluas cara melihat nilai.

Bukan hanya apa yang diperoleh perusahaan hari ini, tetapi juga bagaimana nilai tersebut diciptakan, siapa yang terlibat, apa dampaknya, dan apakah penciptaan nilai itu dapat berlangsung dalam jangka panjang.

Dari batik kita belajar tentang masa depan

Mungkin inilah alasan batik tetap menarik meskipun zaman berubah.

Batik tidak berhenti di masa lalu.

Ia terus berkembang.

Motif baru muncul.

Warna berubah.

Desain berkembang.

Batik masuk ke dunia fesyen modern.

Anak muda menggunakannya dengan cara mereka sendiri.

Tetapi akar budayanya tetap dicari.

Di situlah letak pelajaran sustainability yang menarik.

Berubah tanpa kehilangan identitas.

Berkembang tanpa memutus akar.

Berinovasi tanpa menghilangkan nilai.

Dan menciptakan manfaat hari ini tanpa mengorbankan masa depan.

Bukankah itu juga yang sedang dicari dunia bisnis sekarang?

Jangan hanya bangga, ikut menjaga

Saya bangga memakai batik.

Tetapi semakin saya memikirkannya, semakin saya merasa bahwa memakai batik saja belum cukup.

Kita perlu ikut menjaga ekosistemnya.

Kita bisa mulai dari hal sederhana.

Ketika membeli batik, hargai pembuatnya.

Ketika mengenalkan batik kepada anak, ceritakan maknanya.

Ketika mengembangkan desain baru, jangan lupakan akarnya.

Ketika membangun industri batik, pikirkan pekerjanya.

Ketika menjalankan proses produksi, pikirkan lingkungannya.

Dan ketika memperoleh manfaat ekonomi dari batik, pikirkan bagaimana manfaat tersebut dapat dirasakan lebih luas.

Sebab budaya yang hidup bukan budaya yang hanya dipajang di museum.

Budaya yang hidup adalah budaya yang masih dipraktikkan, dipahami, memberikan manfaat, dan diwariskan.

Jadi, apa yang sebenarnya kita kenakan?

Kembali ke pertanyaan saya di awal.

Ketika pagi tadi saya mengambil batik dari lemari, ternyata saya tidak hanya mengambil selembar pakaian.

Saya mengambil sebuah cerita.

Cerita tentang tangan manusia.

Tentang ketekunan.

Tentang identitas.

Tentang harapan.

Tentang masa lalu.

Dan tentang masa depan.

Mungkin karena itu kita perlu sesekali berhenti memakai batik hanya sebagai simbol formalitas.

Mari membaca motifnya.

Parang mengingatkan tentang keteguhan.

Kawung tentang keseimbangan.

Mega Mendung tentang ketenangan.

Sido Mukti tentang harapan kesejahteraan.

Tentu, setiap motif memiliki sejarah, konteks budaya, dan ragam penafsiran. Kita tidak perlu memaksakan filosofi batik agar identik dengan teori sustainability modern.

Tetapi kita boleh menemukan percakapan di antara keduanya.

Sebab sustainability pada dasarnya berbicara tentang satu pertanyaan yang sangat manusiawi:

Bagaimana kita menjalani kehidupan hari ini tanpa mengambil terlalu banyak dari kehidupan generasi yang akan datang?

Dan batik, dengan caranya sendiri, telah lama mengajarkan tentang nilai yang diwariskan.

Maka, pada Hari Batik Nasional ini, mungkin pertanyaan kita bukan lagi:

“Sudahkah kita memakai batik?”

Tetapi:

“Sudahkah kita memahami apa yang sedang kita wariskan?”

Karena pada akhirnya, batik bukan hanya tentang kain yang kita kenakan.

Batik adalah tentang nilai yang kita teruskan.

Dan kalau nilai itu masih hidup pada generasi berikutnya, barangkali di situlah makna keberlanjutan yang sesungguhnya.