Konten dari Pengguna

Refleksi Hari Kebangkitan Nasional di Era Digitalisasi

Suripto

Suripto

Ketua Program Studi Akuntansi, Universitas Pamulang

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Suripto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber Foto: id.pngtree.com
zoom-in-whitePerbesar
Sumber Foto: id.pngtree.com

Tanggal 20 Mei selalu menjadi momen bersejarah bagi bangsa Indonesia. Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) memperingati lahirnya semangat persatuan dan perjuangan yang ditandai dengan berdirinya Boedi Oetomo pada tahun 1908. Dalam lintasan sejarah, momentum ini menjadi titik balik munculnya kesadaran nasional sebagai bangsa yang merdeka, berdaulat, dan bermartabat.

Namun, lebih dari seabad setelah peristiwa tersebut, kebangkitan yang kita butuhkan hari ini bukan lagi melawan penjajahan fisik, tetapi menghadapi tantangan zaman di era digitalisasi yang serba cepat dan disruptif.

Dari Kebangkitan Fisik Menuju Kebangkitan Digital

Hari ini, tantangan bangsa bukan hanya soal kesenjangan ekonomi atau ketimpangan pendidikan, tetapi juga tentang bagaimana kita mampu beradaptasi dalam pusaran transformasi digital. Digitalisasi telah mengubah hampir semua aspek kehidupan: dari cara kita belajar, bekerja, bertransaksi, hingga berinteraksi sosial.

Ironisnya, di tengah kemajuan teknologi, Indonesia masih dihadapkan pada persoalan literasi digital yang rendah, penyebaran hoaks, ketimpangan akses internet, hingga eksploitasi data pribadi. Jika dulu bangsa ini bangkit karena kesadaran akan pentingnya pendidikan dan persatuan, maka hari ini kita perlu bangkit karena kesadaran akan pentingnya kecerdasan digital, etika bermedia, dan kedaulatan digital.

Peran Generasi Muda di Tengah Perubahan

Sama seperti semangat para pemuda Boedi Oetomo yang menjadi pelopor kebangkitan bangsa, hari ini tongkat estafet itu berada di tangan generasi muda digital. Mereka adalah digital native yang seharusnya tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga produsen gagasan, inovasi, dan solusi digital.

Sayangnya, potensi ini belum tergarap maksimal. Terlalu banyak generasi muda yang terjebak dalam budaya instan, konten dangkal, dan tren media sosial yang minim substansi. Padahal, di era digital ini, satu klik bisa membawa perubahan besar baik untuk kebaikan maupun keburukan.

Karenanya, refleksi Harkitnas di era ini seharusnya menjadi momentum untuk membangun kebangkitan digital yang berkarakter: membangkitkan kesadaran kritis dalam bermedia, etika dalam berkomunikasi digital, serta keberanian menciptakan solusi berbasis teknologi yang inklusif dan berdampak.

Negara Harus Hadir

Pemerintah pun tidak boleh tinggal diam. Investasi dalam infrastruktur digital, pemerataan akses internet, penguatan kurikulum literasi digital, hingga perlindungan data pribadi adalah syarat mutlak menuju kebangkitan nasional yang relevan dengan tantangan zaman.

Lebih dari itu, kebijakan digital harus berpihak pada kedaulatan bangsa. Kita tidak bisa membiarkan data warga negara dikuasai korporasi asing, atau kebudayaan lokal tergeser oleh algoritma global yang tidak mengenal nilai-nilai keindonesiaan.

Penutup

Hari Kebangkitan Nasional bukan sekadar seremoni tahunan. Ia adalah pengingat abadi bahwa perubahan besar selalu dimulai dari kesadaran kolektif. Di era digital ini, kebangkitan tidak lagi tentang mengangkat senjata, tetapi tentang mengangkat literasi, kreativitas, dan integritas digital.

Mari jadikan era digital sebagai ruang baru untuk membangkitkan semangat nasionalisme, memperkuat kedaulatan bangsa, dan membentuk peradaban Indonesia yang tidak hanya maju secara teknologi, tetapi juga arif secara nilai.

Penulis: Dr. Suripto, M.Ak, Ketua Program Studi Akuntansi Universitas Pamulang, Sekretaris DPW Forum Silaturahmi Doktor Indonesia Propinsi Banten