Konten dari Pengguna

Guru Tidak Cukup Hanya Mengajar: Saatnya Sekolah Menjadi Learning Organization

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Surya Ariwibowo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: https://www.pexels.com/id-id/pencarian/?q=guru%20%20indonesia%20mengajar
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: https://www.pexels.com/id-id/pencarian/?q=guru%20%20indonesia%20mengajar

Beberapa waktu terakhir, Learning Organization dan Professional Learning Community (PLC) semakin penting dibicarakan dalam dunia pendidikan Indonesia. Sekolah tidak hanya dituntut meningkatkan hasil belajar siswa, tetapi juga perlu membangun budaya belajar guru dan meningkatkan kompetensi profesional guru. Hal ini kembali menjadi perhatian setelah hasil PISA 2025 menunjukkan adanya peningkatan skor Indonesia dalam membaca dan sains. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa peningkatan kualitas pendidikan tidak hanya berkaitan dengan siswa, tetapi juga dengan bagaimana guru dan sekolah terus belajar dan berkembang.

Data tersebut tentu menjadi kabar yang cukup baik. Namun, peningkatan hasil belajar tidak seharusnya membuat sekolah berhenti melakukan perbaikan. Justru ketika dunia pendidikan terus berubah, sekolah juga harus mampu ikut belajar dan menyesuaikan diri. Guru tidak mungkin hanya mengandalkan cara mengajar yang sama dari tahun ke tahun, sementara karakter siswa, teknologi, dan kebutuhan pendidikan terus berubah.

Di sinilah konsep Learning Organization menjadi penting. Sederhananya, Learning Organization adalah organisasi yang membiasakan anggotanya untuk terus belajar, berdiskusi, mengevaluasi kesalahan, dan melakukan perbaikan. Dalam konteks sekolah, bukan hanya siswa yang belajar, tetapi guru, kepala sekolah, dan seluruh warga sekolah juga ikut belajar.

Oktavianda dan Pradana (2024) menjelaskan bahwa penerapan Learning Organization di SMPN 1 Mantup dapat dilihat melalui lima komponen, yaitu personal mastery, mental models, shared vision, team learning, dan system thinking. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa kelima komponen sudah diterapkan melalui berbagai kegiatan dan inisiatif di sekolah, walaupun masih diperlukan pengembangan program dan indikator keberhasilan yang lebih jelas.

Menurut saya, bagian yang paling penting dari konsep ini bukan istilahnya, tetapi kebiasaan yang dibangun di sekolah. Misalnya, ketika seorang guru mengalami kesulitan dalam mengajar suatu materi, masalah tersebut tidak harus diselesaikan sendiri. Guru bisa berdiskusi dengan guru lain, melihat cara yang sudah pernah digunakan, kemudian mencoba memperbaikinya. Kebiasaan sederhana seperti ini sebenarnya sudah menunjukkan adanya budaya belajar dalam organisasi sekolah.

Hal tersebut juga berkaitan dengan Professional Learning Community atau PLC. PLC dapat menjadi salah satu cara untuk membuat konsep Learning Organization berjalan lebih nyata. Guru tidak hanya berkumpul untuk membahas administrasi sekolah, tetapi juga membicarakan pembelajaran, kesulitan siswa, hasil belajar, dan cara memperbaiki proses pembelajaran.

Penelitian Ardhi, Praptiwi, dan Ernawati (2024) menunjukkan bahwa dukungan kepala sekolah dan kepemimpinan bersama memiliki peran penting dalam membentuk PLC. Dalam penelitian tersebut, guru-guru terlibat dalam kegiatan kolaborasi dan pembahasan berbagai persoalan sekolah. Artinya, PLC tidak cukup hanya dibentuk secara formal. Guru juga membutuhkan lingkungan yang membuat mereka merasa nyaman untuk berdiskusi dan saling memberi masukan.

Hal ini menjadi semakin relevan karena pemerintah juga terus mendorong guru untuk belajar secara berkelanjutan. Ruang GTK, misalnya, menyediakan ruang bagi guru dan tenaga kependidikan untuk belajar, berbagi praktik baik, dan bergabung dalam komunitas. Pemerintah juga mendorong budaya belajar guru melalui berbagai program pengembangan kompetensi.

Namun, tantangannya adalah jangan sampai komunitas belajar hanya menjadi kegiatan rutin yang dilakukan karena kewajiban. Pertemuan guru seharusnya menghasilkan sesuatu yang benar-benar berguna. Misalnya, setelah membahas rendahnya kemampuan membaca siswa, guru mencoba membuat strategi baru. Pada pertemuan berikutnya, hasilnya dibicarakan kembali. Jika berhasil, cara tersebut dapat dibagikan kepada guru lain. Jika belum berhasil, dicari penyebabnya dan diperbaiki lagi.

Penelitian Listyasari, Yundianto, dan Khoirunisa (2026) juga menunjukkan adanya hubungan yang kuat antara kepemimpinan transformasional dan praktik PLC pada SMA negeri di Jakarta. Penelitian terhadap 108 guru tersebut menemukan bahwa kepemimpinan yang mampu membangun visi, memberi dukungan, dan mendorong kerja sama berhubungan positif dengan berkembangnya PLC.

Dari sini terlihat bahwa keberhasilan Learning Organization dan PLC tidak hanya bergantung pada guru. Kepala sekolah juga mempunyai peran yang cukup besar. Guru akan lebih mudah terbiasa belajar bersama jika sekolah memberikan ruang, waktu, dan dukungan. Sebaliknya, jika guru selalu merasa bahwa diskusi hanya menambah pekerjaan, budaya belajar bersama akan sulit berkembang.

Persoalan pendidikan juga tidak bisa diselesaikan hanya dengan menambah pelatihan guru. Pelatihan memang penting, tetapi setelah pelatihan selesai, guru tetap membutuhkan lingkungan untuk mencoba, berdiskusi, dan melakukan evaluasi. Karena itu, sekolah perlu menjadi tempat yang membuat guru tidak merasa belajar sendirian.

Hasil PISA 2025 menunjukkan bahwa Indonesia sudah mengalami kemajuan pada kemampuan membaca dan sains. Tetapi pekerjaan pendidikan tentu belum selesai. Peningkatan kualitas pendidikan perlu dijaga melalui proses yang terus berjalan, bukan hanya melalui program yang dilakukan sesekali.

Pada akhirnya, sekolah yang baik bukan hanya sekolah yang memiliki banyak program. Sekolah yang baik adalah sekolah yang mau melihat kekurangan, membicarakannya bersama, kemudian berusaha memperbaikinya. Guru tidak harus selalu menjadi orang yang paling tahu. Guru juga perlu menjadi pembelajar.

Karena itu, Learning Organization dan Professional Learning Community bukan sekadar istilah dalam manajemen pendidikan. Keduanya dapat menjadi kebiasaan yang membuat sekolah terus berkembang. Ketika guru mau belajar bersama, kepala sekolah memberi ruang untuk berkembang, dan pengalaman di kelas dijadikan bahan untuk perbaikan, sekolah tidak hanya menjadi tempat siswa belajar. Sekolah juga menjadi tempat guru dan seluruh warga sekolah terus belajar.