Mengapa Transformasi Digital Sekolah Sering Gagal? Masalahnya Ada di Manusianya

Saya lulusan Magister Tehnik Informatika di Universitas Pamulang, yang bekerja sebagai guru informatika di salah satu sekolah.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Surya Ariwibowo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Transformasi digital telah menjadi agenda besar dalam dunia pendidikan Indonesia. Berbagai sekolah berlomba menghadirkan jaringan internet yang lebih cepat, memasang papan tulis interaktif, menyediakan komputer, hingga menggunakan sistem informasi sekolah dan platform pembelajaran daring. Bahkan, kini kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) mulai diperkenalkan sebagai bagian dari proses belajar mengajar. Di atas kertas, perubahan tersebut tampak menjanjikan. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa tidak sedikit program digitalisasi yang berhenti sebatas pengadaan perangkat. Teknologi tersedia, tetapi jarang dimanfaatkan. Aplikasi sudah dibeli, tetapi penggunaannya tidak konsisten. Sistem telah dibangun, tetapi pekerjaan tetap dilakukan secara manual. Akibatnya, transformasi digital yang diharapkan mampu meningkatkan mutu pendidikan justru berjalan di tempat. Kondisi ini mengundang pertanyaan mendasar: mengapa transformasi digital sekolah sering gagal? Jawabannya mungkin tidak terletak pada teknologinya, melainkan pada manusianya. Selama ini, banyak sekolah memandang transformasi digital sebagai proyek pengadaan sarana. Padahal, esensi transformasi bukanlah mengganti papan tulis dengan layar digital atau buku administrasi dengan aplikasi. Transformasi digital adalah perubahan cara berpikir, cara bekerja, dan budaya organisasi. Perubahan seperti ini tidak akan terjadi hanya karena sekolah memiliki perangkat yang lebih modern. Dalam banyak kasus, guru sebenarnya tidak menolak teknologi. Mereka justru menyadari bahwa perkembangan digital merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindari. Akan tetapi, perubahan sering kali datang terlalu cepat tanpa diiringi pendampingan yang memadai. Guru diminta menggunakan berbagai aplikasi baru, sementara pelatihan yang diberikan hanya berlangsung beberapa jam. Setelah itu mereka harus belajar sendiri sambil tetap menjalankan tugas mengajar yang tidak sedikit. Akibatnya, teknologi hanya digunakan untuk memenuhi tuntutan administrasi, bukan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Tidak sedikit guru yang akhirnya memanfaatkan teknologi sebatas mengunggah materi, mengisi nilai secara daring, atau membuat laporan digital. Padahal, tujuan utama digitalisasi adalah menciptakan pengalaman belajar yang lebih efektif, interaktif, dan berpusat pada peserta didik. Hal serupa juga terjadi pada tenaga kependidikan. Banyak sekolah telah menerapkan sistem administrasi berbasis digital, tetapi belum seluruh staf memiliki kompetensi yang sama dalam mengoperasikannya. Perbedaan kemampuan tersebut sering menyebabkan pekerjaan justru menjadi lebih lambat. Ketika sistem mengalami kendala, sebagian pegawai kembali menggunakan cara manual karena dianggap lebih mudah dan sudah menjadi kebiasaan. Fenomena ini menunjukkan bahwa keberhasilan transformasi digital tidak ditentukan oleh kecanggihan aplikasi, melainkan oleh kesiapan sumber daya manusia yang menggunakannya. Sayangnya, pengembangan sumber daya manusia masih sering ditempatkan sebagai prioritas kedua. Anggaran untuk membeli perangkat teknologi biasanya tersedia, tetapi pelatihan berkelanjutan, pendampingan, serta evaluasi penggunaan teknologi belum menjadi perhatian utama. Akibatnya, sekolah memiliki infrastruktur yang memadai, tetapi belum memiliki budaya digital yang kuat. Di sinilah peran kepala sekolah menjadi sangat penting. Kepala sekolah tidak cukup hanya menjadi pengelola administrasi atau penanggung jawab anggaran. Ia harus menjadi pemimpin perubahan yang mampu membangun visi bersama tentang pentingnya transformasi digital. Kepemimpinan yang adaptif akan mendorong guru dan tenaga kependidikan untuk terus belajar, mencoba hal baru, serta tidak takut menghadapi perubahan. Transformasi digital juga tidak dapat dilakukan melalui pendekatan yang bersifat instruktif semata. Perubahan akan lebih mudah diterima apabila seluruh warga sekolah dilibatkan sejak awal. Guru perlu diberi ruang untuk menyampaikan kebutuhan dan tantangan yang mereka hadapi. Pelatihan pun harus dirancang berdasarkan kondisi nyata di sekolah, bukan sekadar mengikuti tren teknologi. Selain itu, sekolah perlu membangun budaya belajar sepanjang hayat. Dunia pendidikan bergerak sangat cepat. Aplikasi yang digunakan hari ini mungkin akan tergantikan dalam beberapa tahun ke depan. Oleh karena itu, kompetensi yang paling penting bukan sekadar kemampuan mengoperasikan teknologi tertentu, melainkan kemampuan untuk terus belajar dan beradaptasi. Kehadiran AI semakin menegaskan pentingnya kesiapan sumber daya manusia. AI mampu membantu guru menyusun perangkat ajar, membuat soal, merancang media pembelajaran, hingga menganalisis hasil belajar peserta didik. Namun, AI tidak mampu menggantikan empati seorang guru, keteladanan seorang pendidik, maupun kebijaksanaan seorang kepala sekolah dalam mengambil keputusan. Nilai-nilai tersebut tetap menjadi fondasi pendidikan yang tidak dapat digantikan oleh mesin. Karena itu, transformasi digital seharusnya dipahami sebagai proses memperkuat manusia melalui teknologi, bukan menggantikan manusia dengan teknologi. Ketika guru memiliki kompetensi digital yang baik, tenaga kependidikan mampu mengelola sistem secara efektif, dan kepala sekolah mampu memimpin perubahan, teknologi akan menjadi pengungkit mutu pendidikan. Sebaliknya, tanpa kesiapan SDM, perangkat secanggih apa pun hanya akan menjadi investasi yang kurang memberikan manfaat. Sudah saatnya paradigma digitalisasi sekolah diubah. Keberhasilan transformasi digital tidak dapat diukur dari jumlah komputer yang dimiliki atau banyaknya aplikasi yang digunakan. Ukuran keberhasilannya adalah sejauh mana teknologi mampu meningkatkan kualitas pembelajaran, mempercepat pelayanan, mempermudah pekerjaan, dan memberikan manfaat nyata bagi peserta didik. Pada akhirnya, transformasi digital bukan tentang siapa yang memiliki teknologi paling canggih, tetapi siapa yang paling siap mengembangkan manusianya. Sebab, teknologi akan terus berubah mengikuti perkembangan zaman, sedangkan kualitas sumber daya manusialah yang akan menentukan apakah perubahan tersebut menjadi peluang atau justru menjadi beban bagi dunia pendidikan.
