Dari Add Yours ke Aksi Nyata: Seberapa Berdampakkah Solidaritas Digital untuk Karhutla?
Tulisan dari Surya Ganda Syah Putra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap kali sebuah persoalan menjadi perhatian publik, media sosial sering kali berubah menjadi ruang solidaritas. Instagram dipenuhi poster, ajakan berbagi informasi, dan Instagram Story yang mengajak pengguna lain ikut menyuarakan persoalan yang sama. Salah satu fitur yang kerap digunakan adalah Add Yours, yang memungkinkan seseorang meneruskan ajakan kepada pengikutnya hanya dengan beberapa ketukan.
Dalam isu kebakaran hutan dan lahan (karhutla), pola ini menarik untuk diperhatikan. Ketika hutan terbakar dan kabut asap mengganggu kehidupan masyarakat, media sosial menjadi salah satu ruang untuk menunjukkan kepedulian. Orang-orang yang mungkin tidak berada di lokasi kebakaran tetap dapat ikut menyebarkan informasi dan menyuarakan tuntutan melalui akun masing-masing.
Pada Oktober 2026, misalnya, kampanye digital terkait karhutla juga muncul melalui ajakan mengganti foto profil menjadi berkabut yang disebarkan oleh Lapor Iklim. Kampanye tersebut bertujuan menjaga perhatian publik agar persoalan karhutla tidak tenggelam dari percakapan media sosial. Di sisi lain, laporan Reuters pada 22 Oktober 2026 menunjukkan bahwa meskipun jumlah titik panas menurun, kebakaran masih menjadi persoalan yang membutuhkan penanganan berkelanjutan.
Namun, di tengah ramainya dukungan tersebut, muncul pertanyaan yang layak diajukan: seberapa jauh kampanye di Instagram benar-benar berdampak terhadap penanganan karhutla? Apakah mengunggah poster dan mengikuti Add Yours sudah cukup untuk menunjukkan kepedulian, atau justru menjadi langkah awal yang perlu diikuti tindakan lain?
Ramai di layar belum tentu berarti perubahan
Instagram memiliki kelebihan yang tidak bisa diabaikan. Informasi dapat tersebar dengan cepat, pesan visual relatif mudah dipahami, dan pengguna bisa berpartisipasi tanpa harus berada di lokasi bencana. Fitur Add Yours juga memungkinkan sebuah ajakan menyebar melalui jaringan pertemanan yang berbeda-beda. Dengan cara ini, persoalan lingkungan berpeluang menjangkau orang-orang yang sebelumnya tidak terlalu memperhatikannya.
Akan tetapi, luasnya penyebaran pesan tidak otomatis menunjukkan besarnya dampak. Jumlah Story yang dibagikan, banyaknya orang yang mengikuti tren, atau tingginya interaksi pada sebuah unggahan hanya memberikan gambaran tentang aktivitas di platform. Angka-angka tersebut belum cukup menjelaskan apakah orang yang melihat kampanye menjadi lebih memahami persoalan karhutla, melakukan tindakan nyata, atau ikut mengawasi kebijakan pemerintah.
Di sinilah pentingnya membedakan popularitas kampanye dari efektivitasnya. Sebuah unggahan bisa ramai dibagikan, tetapi pesannya belum tentu dipahami secara utuh. Seseorang dapat mengikuti Add Yours karena ajakan tersebut muncul berulang kali di antara Story teman-temannya, tanpa mengetahui sumber informasi, kondisi masyarakat terdampak, ataupun tindakan yang sebenarnya dibutuhkan.
Meski demikian, tidak adil pula jika setiap partisipasi digital langsung dianggap sebagai kepedulian semu. Mengunggah Story dapat menjadi cara seseorang menunjukkan solidaritas, terutama ketika ia memiliki keterbatasan waktu, biaya, atau akses untuk terlibat langsung. Persoalannya bukan terletak pada apakah seseorang ikut mengunggah atau tidak, melainkan pada bagaimana partisipasi tersebut dapat membuka jalan menuju keterlibatan yang lebih bermakna.
Antara kepedulian dan slacktivism
Dalam diskusi mengenai aktivisme digital, terdapat istilah slacktivism, yakni partisipasi yang relatif mudah dilakukan secara daring, tetapi belum tentu menghasilkan keterlibatan yang lebih substantif. Istilah ini kerap digunakan untuk mempertanyakan apakah aktivitas seperti menyukai, membagikan, atau mengikuti kampanye benar-benar mendorong perubahan.
Namun, menganggap semua kampanye digital sebagai slacktivism juga merupakan penyederhanaan. Penelitian Yunita Sari dan rekan-rekan yang diterbitkan dalam Journal of Governance and Local Politics pada 2025 menemukan hubungan antara aktivisme Instagram dan keterlibatan kewargaan daring pada responden Generasi Z yang diteliti. Studi tersebut membahas aktivisme selama demonstrasi pada Agustus–September 2025, bukan kampanye karhutla secara khusus. Karena itu, temuannya tidak bisa langsung dijadikan bukti bahwa kampanye lingkungan di Instagram pasti efektif. Meski demikian, penelitian tersebut menunjukkan bahwa aktivisme digital layak dilihat sebagai fenomena yang lebih kompleks daripada sekadar aktivitas simbolis.
Dalam konteks karhutla, unggahan yang awalnya hanya menunjukkan solidaritas dapat berkembang menjadi tindakan lain. Seseorang mungkin terdorong mencari informasi mengenai kondisi udara, membaca laporan lapangan, menyebarkan sumber yang tepercaya, mengikuti diskusi lingkungan, atau mendukung kegiatan kemanusiaan yang dapat diverifikasi. Pada tahap ini, media sosial tidak lagi sekadar menjadi tempat menunjukkan kepedulian, tetapi juga pintu masuk menuju keterlibatan yang lebih luas.
Tantangannya adalah bagaimana membuat perpindahan tersebut terjadi. Jika sebuah kampanye hanya berisi poster dan ajakan membagikan ulang, pengguna mungkin tidak mengetahui apa yang dapat dilakukan setelah mengunggah Story. Kampanye yang lebih terarah dapat menyertakan tautan menuju informasi resmi, panduan melindungi diri dari asap, kanal pengaduan, atau kegiatan relawan yang jelas penyelenggaranya.
Dengan demikian, Add Yours tidak perlu dipandang sebagai tindakan yang sia-sia. Fitur tersebut dapat menjadi awal dari sebuah gerakan, tetapi tidak seharusnya dianggap sebagai ukuran akhir keberhasilannya.
Ketika perhatian publik berpindah, karhutla belum tentu selesai
Salah satu tantangan terbesar kampanye di media sosial adalah mempertahankan perhatian. Isu yang sedang ramai hari ini dapat dengan cepat tergantikan oleh peristiwa lain. Sementara itu, persoalan lingkungan tidak selalu selesai ketika pemberitaan berkurang atau ketika pengguna berhenti membicarakannya di media sosial.
Karhutla membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, mulai dari pencegahan, pemadaman, perlindungan kesehatan masyarakat, penegakan hukum, hingga pemulihan ekosistem. Laporan Reuters pada Oktober 2026 mengenai penurunan titik panas yang belum merata memperlihatkan mengapa perkembangan situasi perlu terus dipantau, alih-alih hanya mengandalkan momentum viral.
Di sinilah kampanye digital dapat memainkan peran yang lebih penting. Media sosial tidak hanya digunakan untuk mengangkat persoalan ketika sedang ramai, tetapi juga untuk menyebarkan perkembangan terbaru, memeriksa tindak lanjut tuntutan, dan mengingatkan publik terhadap masalah yang belum terselesaikan.
Gerakan digital juga dapat menjadi ruang pengawasan masyarakat. Pengguna bisa membagikan data yang dapat diverifikasi, mempertanyakan perkembangan penanganan, dan meminta keterbukaan informasi. Tentu saja, kritik semacam ini perlu disertai sumber yang jelas agar kampanye tidak justru menjadi saluran penyebaran informasi keliru.
Keberhasilan kampanye pun tidak harus selalu dibuktikan melalui perubahan kebijakan secara langsung. Meningkatnya pemahaman masyarakat, tersebarnya informasi kesehatan yang benar, atau terbentuknya jaringan relawan juga merupakan hasil yang berarti. Namun, setiap klaim mengenai keberhasilan perlu disesuaikan dengan bukti yang tersedia.
Mengubah Add Yours menjadi pintu masuk aksi nyata
Agar kampanye karhutla di Instagram tidak berhenti pada aktivitas berbagi, pembuat kampanye perlu merancang pesan yang menghubungkan kepedulian dengan tindakan. Ajakan sederhana seperti membagikan informasi dapat dilengkapi dengan sumber yang bisa diperiksa dan langkah lanjutan yang relevan.
Misalnya, setelah mengajak pengguna mengikuti Add Yours, sebuah akun dapat mengarahkan mereka menuju informasi kualitas udara, panduan menghadapi kabut asap, atau kanal resmi untuk melaporkan kebakaran. Jika kampanye menggalang donasi, penyelenggara perlu menjelaskan tujuan, penerima, dan laporan penyaluran dana. Jika kampanye menuntut tindakan pemerintah, perkembangan tuntutan perlu disampaikan secara berkala agar publik dapat mengetahui apakah ada tindak lanjut.
Masyarakat juga perlu membangun kebiasaan untuk tidak berhenti pada membagikan pesan. Membaca informasi secara utuh, memeriksa sumber, memahami persoalan, dan memilih tindakan sesuai kemampuan merupakan bagian dari partisipasi yang bertanggung jawab. Tidak semua orang harus turun langsung ke lapangan, tetapi setiap orang dapat mempertimbangkan langkah yang lebih bermakna daripada sekadar mengikuti tren.
Pada akhirnya, dampak kampanye digital tidak bisa dinilai hanya dari seberapa ramai Instagram Story dipenuhi poster karhutla atau berapa banyak pengguna mengikuti Add Yours. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah perhatian tersebut membantu masyarakat memahami persoalan, melindungi warga terdampak, memperluas partisipasi, dan menjaga pengawasan terhadap penanganan karhutla.
Solidaritas digital bukan sesuatu yang harus diremehkan, tetapi juga bukan tujuan akhir. Ia menjadi berarti ketika mampu menghubungkan orang-orang yang peduli dengan informasi yang benar, tindakan yang relevan, dan komitmen yang berkelanjutan.
Hutan tidak menjadi pulih hanya karena banyak orang membagikan gambar kebakaran. Namun, kepedulian yang bermula dari sebuah unggahan dapat menjadi bagian dari perubahan apabila tidak berhenti di sana. Sebab, ukuran kepedulian bukan semata-mata seberapa sering kita menyuarakan sebuah persoalan, melainkan juga apa yang kita lakukan agar persoalan itu tidak terus berulang.

