Kita Tidak Dilahirkan Menjadi Diri Kita Hari Ini

Undergraduate Psychology Stundent, Brawijaya University
ยทwaktu baca 4 menit
Tulisan dari SURYA PRAJA SENAPATI TRIANGGARA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mengapa dua orang yang tumbuh di negara yang sama bisa memiliki cara berpikir yang sangat berbeda? Mengapa ada orang yang selalu mengutamakan keluarga, sementara yang lain lebih memilih mengejar cita-citanya sendiri? Jawabannya tidak sesederhana karena bawaan lahir. Siapa diri kita hari ini merupakan hasil perjalanan panjang yang dibentuk oleh keluarga, lingkungan, budaya, hingga pengalaman hidup yang kita lalui.
Masa remaja hingga dewasa awal merupakan periode ketika seseorang mulai mencari jati dirinya. Pada fase ini muncul berbagai pertanyaan tentang siapa dirinya, nilai apa yang ingin dipegang, dan seperti apa kehidupan yang ingin dijalani. Tidak semua orang dapat menjawab pertanyaan tersebut dengan mudah. Banyak remaja masih berada pada tahap mencoba berbagai peran dan identitas tanpa benar-benar menemukan arah yang mereka yakini. Akibatnya, kebingungan identitas dapat memengaruhi kesehatan mental, mulai dari munculnya kecemasan hingga kesulitan menyesuaikan diri dengan lingkungan.
Di era digital, proses pencarian identitas menjadi semakin rumit. Media sosial menghadirkan ruang yang memungkinkan siapa saja menampilkan versi terbaik dari dirinya. Tidak sedikit orang yang mulai mengukur harga diri melalui jumlah pengikut, tanda suka, atau komentar yang diterima. Tanpa disadari, media sosial menjadi tempat untuk terus membandingkan diri dengan kehidupan orang lain. Padahal, yang menentukan perkembangan identitas bukanlah seberapa lama seseorang menggunakan media sosial, melainkan bagaimana ia memanfaatkannya. Ketika media sosial digunakan untuk belajar, berdiskusi, dan membangun relasi yang sehat, pengaruhnya tentu berbeda dibandingkan jika hanya digunakan untuk mencari pengakuan.
Psikologi menjelaskan bahwa manusia belajar melalui pengamatan. Sejak kecil kita meniru cara berbicara orang tua, mengikuti kebiasaan keluarga, belajar dari guru, hingga mencontoh teman yang dianggap dekat. Perilaku yang terus diamati dan diulang perlahan menjadi bagian dari kepribadian. Karena itu, lingkungan tempat seseorang tumbuh memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap pembentukan identitasnya.
Pengaruh tersebut tidak hanya datang dari keluarga. Sekolah, teman sebaya, masyarakat, hingga lingkungan tempat tinggal turut memberikan pengalaman yang membentuk cara seseorang berpikir dan bertindak. Anak yang tumbuh dalam lingkungan yang penuh dukungan cenderung memiliki rasa percaya diri yang lebih baik. Sebaliknya, lingkungan yang dipenuhi konflik dapat membentuk cara pandang yang berbeda terhadap diri sendiri maupun orang lain.
Di Indonesia, pembentukan identitas menjadi semakin menarik karena setiap daerah memiliki nilai budaya yang berbeda. Budaya bukan sekadar pakaian adat, bahasa daerah, atau upacara tradisional. Budaya adalah cara hidup yang diwariskan dari generasi ke generasi dan secara perlahan membentuk karakter masyarakatnya.
Masyarakat Jawa mengenal falsafah nerimo ing pandum, yaitu menerima ketentuan hidup dengan penuh syukur tanpa berhenti berusaha. Nilai ini menanamkan kesabaran, kerendahan hati, dan kemampuan mengendalikan diri ketika menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
Di tanah Sunda berkembang falsafah silih asah, silih asih, silih asuh yang mengajarkan pentingnya saling berbagi pengetahuan, saling menyayangi, dan saling membimbing. Nilai tersebut melahirkan sikap empati, kepedulian sosial, dan semangat gotong royong dalam kehidupan sehari-hari.
Masyarakat Bugis-Makassar memiliki falsafah siri' na pacce yang menempatkan harga diri dan solidaritas sebagai pedoman hidup. Kehormatan tidak hanya dimaknai sebagai martabat pribadi, tetapi juga sebagai tanggung jawab untuk menjaga sesama anggota masyarakat. Sementara itu, masyarakat Batak memegang teguh filosofi Dalihan Na Tolu yang mengajarkan pentingnya rasa hormat, tanggung jawab, dan saling membantu dalam hubungan kekerabatan.
Di Bali, masyarakat mengenal konsep Tri Hita Karana, yaitu ajaran tentang pentingnya menjaga keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam. Nilai tersebut mengingatkan bahwa kebahagiaan tidak hanya diukur dari keberhasilan pribadi, tetapi juga dari kemampuan menjaga keseimbangan dengan lingkungan sekitar.
Perbedaan budaya tersebut menunjukkan bahwa identitas setiap individu di Indonesia dibentuk melalui nilai-nilai yang hidup di lingkungan masing-masing. Bahkan, tempat tinggal juga memberikan pengalaman yang berbeda. Kehidupan di pedesaan umumnya masih mempertahankan hubungan sosial yang erat sehingga nilai kebersamaan lebih menonjol. Sebaliknya, kehidupan di perkotaan mempertemukan individu dengan berbagai latar belakang budaya dan cara berpikir sehingga memberikan ruang yang lebih luas untuk mengembangkan identitas secara mandiri.
Pada akhirnya, identitas bukanlah sesuatu yang selesai dibentuk sejak seseorang dilahirkan. Identitas tumbuh melalui pengalaman, interaksi sosial, pendidikan, budaya, dan berbagai peristiwa yang terus membentuk cara kita memandang diri sendiri. Lingkungan memang memberikan pengaruh yang besar, tetapi manusia tetap memiliki kebebasan untuk memilih nilai mana yang ingin dipertahankan dan pribadi seperti apa yang ingin diwujudkan. Kita mungkin tidak bisa memilih di mana dilahirkan, tetapi kita selalu memiliki kesempatan untuk menentukan akan menjadi siapa di masa depan.
