Konten dari Pengguna

Olahraga Otak: Menjaga Pikiran Tetap Tajam di Usia Lanjut

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari SURYA PRAJA SENAPATI TRIANGGARA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi otak manusia. Dok. pexels.com.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi otak manusia. Dok. pexels.com.

Pernahkah kita berpikir bahwa otak manusia sebenarnya adalah “alat” yang berasal dari zaman purba? Struktur dasar otak telah berkembang sejak jutaan tahun lalu, jauh sebelum manusia mengenal internet, teknologi, media sosial, hingga tuntutan hidup yang serba cepat seperti sekarang. Meski demikian, otak mampu beradaptasi dan tetap menjadi pusat pengatur berbagai aktivitas tubuh, termasuk kemampuan untuk belajar, mengingat, berpikir, dan berbahasa.

Kemampuan otak untuk menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan inilah yang membuat manusia mampu terus belajar sepanjang hidup. Salah satu konsep yang menjelaskan kemampuan tersebut adalah neuroplastisitas, yaitu kemampuan otak untuk memperkuat koneksi antarsel saraf, membentuk jalur baru, dan menyesuaikan respons berdasarkan pengalaman.

Namun, kemampuan tersebut tidak selalu berjalan dengan kecepatan yang sama sepanjang hidup.

Ketika Otak Mulai Menua

Memasuki usia lanjut, tubuh manusia secara alami mengalami berbagai perubahan, termasuk pada fungsi otak. Lansia umumnya didefinisikan sebagai individu yang berusia 60 tahun ke atas. Pada tahap kehidupan ini, kemampuan kognitif seperti mengingat, berkonsentrasi, dan memproses informasi dapat mengalami penurunan.

Salah satu kondisi yang paling banyak mendapat perhatian adalah demensia. Kondisi ini tidak hanya berkaitan dengan menurunnya daya ingat, tetapi juga dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam berpikir, berkomunikasi, dan menjalankan aktivitas sehari-hari.

Masalah demensia bahkan bukan sekadar persoalan individu. Penelitian Prince et al. (2013) menunjukkan bahwa 58% penderita demensia di dunia tinggal di negara berpendapatan rendah dan menengah. Proporsi tersebut diperkirakan meningkat menjadi 63% pada 2030 dan 71% pada 2050.

Angka tersebut menunjukkan bahwa penurunan fungsi kognitif merupakan persoalan global yang perlu mendapat perhatian. Semakin banyaknya populasi lansia membuat upaya menjaga kesehatan otak menjadi semakin penting.

Otak Tidak Berhenti Belajar

Meskipun mengalami proses penuaan, otak sebenarnya tidak berhenti beradaptasi. Di sinilah neuroplastisitas memiliki peran penting.

Bayangkan otak seperti sebuah jaringan jalan. Semakin sering suatu jalur digunakan, semakin kuat dan efisien jalur tersebut. Sebaliknya, jalur yang jarang digunakan dapat melemah. Karena itu, memberikan stimulasi secara terus-menerus dapat membantu otak mempertahankan kemampuannya.

Membaca buku, mempelajari bahasa baru, menulis, mengingat sesuatu, berdiskusi, memecahkan masalah, hingga melakukan permainan atau latihan kognitif merupakan beberapa aktivitas yang dapat memberikan rangsangan bagi otak.

Aktivitas tersebut kemudian sering disebut sebagai “olahraga otak.”

Istilah ini bukan berarti otak benar-benar berolahraga seperti otot ketika seseorang berlari. Namun, aktivitas mental yang dilakukan secara rutin dapat memberikan stimulasi terhadap berbagai jaringan saraf sehingga otak tetap aktif.

Penelitian Leung et al. (2015) menunjukkan bahwa latihan kognitif pada lansia yang memiliki risiko penurunan kognitif dapat memberikan manfaat terhadap perhatian auditori, kemampuan visual-spasial, dan memori kerja. Temuan tersebut menjadi salah satu gambaran bahwa otak pada usia lanjut masih memiliki kemampuan untuk beradaptasi terhadap stimulasi.

Latihan yang dilakukan secara berulang juga dapat melibatkan area otak yang berperan dalam fungsi eksekutif, pengambilan keputusan, dan memori kerja. Dengan kata lain, menjaga otak tetap aktif bukan hanya persoalan “mengisi waktu,” tetapi merupakan bagian dari upaya mempertahankan fungsi kognitif.

Senam Otak, Sederhana tetapi Bermakna

Di Indonesia, upaya meningkatkan kesadaran mengenai kesehatan otak juga dilakukan melalui berbagai kegiatan masyarakat. Salah satunya dilakukan oleh Dewi Fatmawati melalui program pengabdian masyarakat di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.

Dalam kegiatan tersebut, para lansia terlebih dahulu diberikan pre-test untuk mengetahui pemahaman mereka mengenai demensia. Hasil awal menunjukkan bahwa sebagian besar peserta masih memiliki pengetahuan yang terbatas mengenai kondisi tersebut.

Tim kemudian memberikan edukasi menggunakan bahasa yang mudah dipahami. Para peserta juga diajak melakukan senam otak, yaitu serangkaian gerakan ringan yang dirancang untuk memberikan stimulasi terhadap aktivitas otak.

Setelah kegiatan edukasi dan latihan selesai, peserta kembali diberikan post-test. Hasilnya menunjukkan adanya peningkatan pemahaman mengenai demensia dan pentingnya menjaga kesehatan otak.

Kegiatan tersebut memberikan gambaran bahwa edukasi kesehatan otak tidak harus dilakukan dengan cara yang rumit. Aktivitas sederhana dan mudah dilakukan dapat menjadi sarana untuk meningkatkan kesadaran lansia mengenai pentingnya menjaga fungsi kognitif.

Jangan Lupakan Aktivitas Fisik

Menjaga otak ternyata tidak cukup hanya dengan melatih pikiran. Tubuh juga perlu bergerak.

Aktivitas fisik memiliki hubungan erat dengan kesehatan otak karena pergerakan tubuh turut mendukung sirkulasi darah dan berbagai fungsi fisiologis yang dibutuhkan otak. Sebaliknya, kurangnya aktivitas fisik dapat menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan meningkatnya risiko penurunan kognitif.

Bransby et al. (2024) menyoroti hubungan antara rendahnya aktivitas fisik dengan risiko demensia. Karena itu, menjaga tubuh tetap aktif juga menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan otak.

Bagi lansia, aktivitas fisik tidak selalu berarti olahraga berat. Berjalan kaki, melakukan peregangan, melakukan pekerjaan rumah, atau aktivitas fisik ringan lainnya dapat menjadi pilihan sesuai dengan kondisi masing-masing.

Otak Sehat Bukan Hanya tentang Latihan

Menjaga kesehatan otak pada akhirnya bukan hanya tentang seberapa sering seseorang melakukan latihan kognitif. Otak merupakan bagian dari tubuh yang juga membutuhkan istirahat dan asupan nutrisi yang baik.

Tidur yang cukup membantu proses pemulihan tubuh sekaligus berperan dalam proses konsolidasi memori. Sementara itu, pola makan bergizi seimbang membantu memenuhi kebutuhan tubuh dan otak untuk menjalankan berbagai fungsi biologisnya.

Karena itu, menjaga fungsi kognitif dapat dilakukan melalui kombinasi berbagai kebiasaan sederhana: tetap aktif secara mental, bergerak secara fisik, tidur cukup, mengonsumsi makanan bergizi, serta tetap berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain.

Pada akhirnya, bertambahnya usia memang tidak dapat dihentikan. Penurunan fungsi tubuh juga merupakan bagian alami dari kehidupan. Namun, hal tersebut bukan berarti kita harus berhenti memberikan stimulasi kepada otak.

Otak manusia memiliki kemampuan untuk terus beradaptasi. Selama masih mendapatkan pengalaman, aktivitas, dan stimulasi yang sesuai, proses neuroplastisitas tetap dapat berlangsung.

Maka, “olahraga otak” bukan sekadar permainan untuk mengisi waktu luang. Membaca, belajar, mengingat, berbicara, berpikir, dan terus mencoba hal-hal baru merupakan cara sederhana untuk menjaga otak tetap aktif.

Sebab, usia boleh bertambah, tetapi bukan berarti rasa ingin belajar harus berhenti.