Disnaker Kepri Dukung Green Jobs Inklusif untuk Perempuan dan Kelompok rentan

Head of Training and Job Placement Division at the Department of Manpower and Transmigration of Riau Islands Province
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Suryadi Kangboi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Kepulauan Riau menyatakan siap mendukung pengembangan pekerjaan hijau (green jobs) yang inklusif di sektor ekonomi sirkular. Dukungan tersebut mengemuka dalam kegiatan Mini Workshop Perencanaan Intervensi GESI yang digelar di Politeknik Negeri Batam, Selasa (12/5/2026).
Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara TKDV Provinsi Kepulauan Riau, Proyek GESIT-GIZ, Bappenas, dan Politeknik Negeri Batam untuk menyusun konsep pelatihan penggerak komunitas bagi perempuan dan kelompok rentan dalam sektor ekonomi sirkular.
Kepala Bidang Pelatihan dan Penempatan Tenaga Kerja Disnakertrans Kepri, Suryadi, mengatakan transformasi dunia kerja saat ini tidak lagi hanya berbicara tentang penyerapan tenaga kerja semata, tetapi juga bagaimana menciptakan lapangan kerja baru yang ramah lingkungan dan inklusif.
“Selain tanggung jawab terhadap pengangguran secara umum dan kebutuhan tenaga kerja industri, tantangan tenaga kerja perempuan, kelompok rentan, serta inklusivitas tenaga kerja pada industri ekonomi sirkular menjadi tantangan tersendiri. Karena itu dibutuhkan pendekatan yang kolaboratif,” jelas Suryadi.
Pengembangan green jobs harus dipersiapkan dari sekarang karena arah pembangunan nasional sudah mulai fokus pada transformasi ekonomi hijau. Dalam RPJMN 2025–2029, pemerintah menargetkan peningkatan proporsi tenaga kerja hijau nasional hingga 3,14 persen pada tahun 2029.
Suryadi menilai Kepri memiliki tantangan yang unik. Selain menghadapi angka pengangguran, daerah kepulauan juga harus berhadapan dengan persoalan sampah, perubahan iklim, dan keterbatasan akses pelatihan bagi masyarakat di wilayah pulau-pulau terluar.
Dalam paparan workshop disebutkan, timbulan sampah di Kepri telah mencapai 157.340 ton per tahun dan sebagian besar infrastruktur pengelolaan sampah mulai mengalami tekanan serius akibat overload.
Karena itu, pendekatan ekonomi sirkular berbasis komunitas dinilai menjadi solusi yang tidak hanya menyelesaikan persoalan lingkungan, tetapi juga membuka peluang kerja baru bagi masyarakat.
Program yang disusun dalam workshop ini akan fokus pada pelatihan penggerak komunitas yang nantinya mampu menjadi motor edukasi, pendampingan, hingga pengembangan usaha berbasis ekonomi sirkular di masyarakat. Sasaran utamanya adalah perempuan kepala keluarga, pekerja informal, pemuda belum bekerja, penyandang disabilitas, serta kelompok rentan lainnya.
Konsep pelatihan dirancang lebih praktis dan berbasis aksi lapangan. Peserta tidak hanya mendapatkan materi tentang green jobs, ekonomi sirkular, dan GESI, tetapi juga diwajibkan menyusun rencana aksi komunitas dan menjalankannya secara langsung dengan sistem pendampingan.
Disnaker Kepri menilai pola pelatihan seperti ini lebih relevan dengan kebutuhan lapangan kerja masa depan karena mendorong lahirnya komunitas produktif berbasis lingkungan.
Selain itu, workshop juga menghasilkan komitmen awal pembentukan tim kecil lintas lembaga untuk menyusun modul, mekanisme pelatihan, serta strategi implementasi program di lapangan.
Kepri menjadi salah satu dari tiga provinsi pionir dalam proyek GESIT bersama Jawa Timur dan Kalimantan Timur. Program ini diharapkan menjadi model pengembangan tenaga kerja hijau yang inklusif dan dapat direplikasi di daerah lain di Indonesia.
