Pengangguran Nasional Turun, Angka di Kepri Jauh Melampaui Rata-Rata Indonesia

Head of Training and Job Placement Division at the Department of Manpower and Transmigration of Riau Islands Province
ยทwaktu baca 5 menit
Tulisan dari Suryadi Kangboi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Badan Pusat Statistik (BPS) rilis data terbaru mengenai kondisi ketenagakerjaan per Februari 2026. Hasilnya, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) masih mencatatkan angka pengangguran yang berada di atas rata-rata nasional, dengan lulusan sekolah menengah sebagai penyumbang terbesar.
Berdasarkan laporan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas), Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Kepulauan Riau tercatat sebesar 6,87 persen. Meski angka ini mengalami penurunan tipis sebesar 0,02 persen poin dibandingkan Februari 2025, angka tersebut masih jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan TPT nasional yang berada di level 4,68 persen.
Paradoks Lulusan SMA dan SMK ?
Salah satu sorotan utama dalam laporan BPS ini adalah tingginya angka pengangguran di kalangan lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Di Kepulauan Riau, TPT untuk kelompok tamatan SMA/SMK/Sederajat mencapai 8,67 persen, menjadi yang tertinggi dibandingkan jenjang pendidikan lainnya di provinsi Kepri.
Menariknya, distribusi pengangguran di Kepri sangat didominasi oleh kelompok ini, yakni mencapai 63,63 persen dari total seluruh penganggur. Jika dibedah lebih dalam dari sisi penyerapan pasar kerja, lulusan SMA di Kepri justru lebih banyak terserap dengan jumlah 351,18 ribu orang (34,00 persen) dibandingkan lulusan SMK yang sebanyak 159,02 ribu orang (15,39 persen).
Secara nasional, data menunjukkan pola risiko yang sama. Lulusan SMK mencatatkan TPT tertinggi secara nasional sebesar 7,74 persen, disusul lulusan SMA sebesar 6,23 persen. Hal ini mengindikasikan bahwa meski SMK dipersiapkan untuk dunia kerja, risiko mereka menjadi penganggur justru lebih besar dibandingkan lulusan sekolah umum pada awal tahun 2026 ini.
Kesenjangan Gender dan Upah ?
Data BPS juga menunjukkan perbedaan pola pengangguran berdasarkan jenis kelamin antara pusat dan daerah. Di tingkat nasional, laki-laki lebih banyak menganggur (4,88 persen) dibandingkan perempuan (4,36 persen). Sebaliknya, di Kepulauan Riau, TPT perempuan justru lebih tinggi (7,31 persen) dibandingkan laki-laki (6,62 persen).
Merespons kondisi ini ada lima rekomendasi strategis bagi para lulusan untuk meningkatkan daya saing di pasar kerja:
1. Pertimbangkan Pendidikan ke Jenjang Lebih Tinggi, terutama tamatan SMA. Dorongan dari selurruh elemen dengan maksimal. Data statistik menunjukkan adanya korelasi positif antara tingkat pendidikan dengan besaran upah yang diterima. Rata-rata upah nasional bagi lulusan Perguruan Tinggi (Diploma IV/S1/S2/S3) mencapai 4,77 juta rupiah per bulan. Angka ini jauh melampaui rata-rata upah lulusan SMK yang berada di angka 3,17 juta rupiah dan lulusan SMA sebesar 3,08 juta rupiah. Ini menjadi motivasi bagi para lulusan perguruan tinggi.
2. Bidik Sektor Industri dan Perdagangan sebagai Prioritas. Para lulusan disarankan untuk fokus pada sektor-sektor yang memiliki daya serap tenaga kerja paling masif. Di Kepulauan Riau, lapangan usaha Industri merupakan penyerap utama dengan porsi 21,89 persen, diikuti oleh sektor Administrasi Pemerintahan/Pendidikan (15,30 persen) dan Perdagangan (14,36 persen). Secara nasional, sektor Pertanian (28,78 persen) dan Perdagangan (17,95 persen) juga tetap menjadi peluang besar bagi pencari kerja.
3. Targetkan Lapangan Usaha dengan Upah di Atas Rata-Rata. Pencari kerja didorong untuk mengincar sektor-sektor yang menawarkan pendapatan di atas rata-rata upah nasional (3,29 juta rupiah). Sektor Aktivitas Keuangan dan Asuransi memimpin dengan rata-rata upah 5,05 juta rupiah, disusul sektor Pertambangan (4,95 juta rupiah), serta sektor Informasi dan Komunikasi (4,75 juta rupiah).
4. Manfaatkan Mobilitas Geografis (Menjadi Komuter). Fleksibilitas untuk bekerja di luar wilayah Kepri guna memperluas peluang kerja. Data nasional mencatat bahwa 21,35 persen dari total pekerja komuter berasal dari lulusan SMK. Lulusan di Kepri pun dapat mempertimbangkan pola ini untuk menjangkau pusat-pusat industri di luar Kepri guna mendapatkan peluang yang lebih luas.
5. Prioritaskan Pencarian Kerja di Sektor Formal. Bekerja di sektor formal menawarkan stabilitas dan jaminan sosial yang lebih baik. Di Kepulauan Riau, sebanyak 66,38 persen penduduk bekerja tercatat berada pada kegiatan formal. Angka ini menunjukkan bahwa pasar kerja di Kepri masih didominasi oleh status buruh, karyawan, atau pegawai tetap yang lebih menjanjikan secara ekonomi dibandingkan sektor informal..
Melalui langkah-langkah proaktif ini, diharapkan para lulusan SMA dan SMK dapat lebih cepat terserap ke dalam angkatan kerja dan berkontribusi pada penurunan angka pengangguran di Kepulauan Riau maupun nasional.
Berdasarkan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Februari 2026 ini juga kita melihat dinamika yang menantang di pasar kerja Kepulauan Riau saat ini. Salah satu poin krusial adalah peningkatan Penduduk Usia Kerja (PUK) kita yang telah mencapai 1.661,25 ribu orang. Angka ini bertambah sebanyak 27,94 ribu orang dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penambahan jumlah penduduk usia kerja ini secara otomatis memperbesar pasokan tenaga kerja di daerah, yang berarti persaingan untuk mendapatkan pekerjaan pun menjadi semakin ketat.
Sektor Industri masih menjadi magnet atau daya tarik utama bagi para pencari kerja, dengan kontribusi penyerapan tenaga kerja terbesar di Kepri, yaitu mencapai 21,89 persen. Tingginya konsentrasi industri inilah yang memicu besarnya jumlah angkatan kerja kita hingga menyentuh angka 1.109,14 ribu orang, karena banyak penduduk yang datang ke Kepri dengan harapan bisa terserap di sektor manufaktur dan industri pengolahan tersebut.
Namun, fenomena ini membawa konsekuensi pada Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT), terutama di wilayah perkotaan. Data menunjukkan TPT di perkotaan mencapai 7,12 persen, angka yang jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan wilayah perdesaan yang hanya sebesar 3,80 persen. Kondisi ini mengindikasikan bahwa tekanan pengangguran memang terkonsentrasi di pusat-pusat populasi dan kawasan industri, tempat di mana mobilitas penduduk, termasuk para pendatang, berada pada level tertinggi.
"Fokus kami ke depan adalah memastikan bahwa peningkatan jumlah tenaga kerja ini diimbangi dengan kualitas keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri, agar angka pengangguran di wilayah perkotaan dapat terus kita tekan." jelas Suryadi, Kepala Bidang Pelatihan dan Penempatan Tenaga Kerja, Disnakertrans Provinsi Kepri.
