Konten dari Pengguna

Sulap Limbah Dapur Jadi Pupuk Cair, Mahasiswa KKN Ajak Ibu KRPL Ngadirejo

Susi Susanti

Susi Susanti

S1 Pendidikan Geografi, Universitas Negeri Malang

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Susi Susanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto Bersama dalam Kegiatan Sosialisasi Pembuatan POC Mahasiswa KKN dengan Ibu-Ibu KRPL Ngadirejo. (Sumber: Dokumentasi KKN UMM Kelompok 190, 2026)
zoom-in-whitePerbesar
Foto Bersama dalam Kegiatan Sosialisasi Pembuatan POC Mahasiswa KKN dengan Ibu-Ibu KRPL Ngadirejo. (Sumber: Dokumentasi KKN UMM Kelompok 190, 2026)

Ngadirejo - Sisa sayur, kulit buah, dan potongan sisa dapur yang biasanya berakhir di tempat sampah kini bisa diolah kembali menjadi bernilai guna. Lewat kegiatan sosialisasi Pupuk Organik Cair (POC) yang digelar mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 190 Universitas Muhammadiyah Malang bersama ibu-ibu Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) Desa Ngadirejo, Jumat (21/8/2026), limbah rumah tangga tersebut diperkenalkan sebagai bahan yang masih bisa diolah kembali untuk kebutuhan tanaman di pekarangan.

Kegiatan ini diambil dari persoalan sederhana yang sering luput dari perhatian: limbah dapur yang menumpuk setiap hari sebenarnya masih memiliki nilai guna, asalkan diolah dengan cara yang tepat. Koordinator sosialisasi POC, Nazu, mengatakan pemilihan tema ini didasari banyaknya limbah dapur yang sebenarnya masih bisa diolah, namun selama ini hanya berakhir sebagai sampah begitu saja.

"Ibu-ibu KRPL kan setiap hari pasti masak, jadi limbah kayak sisa sayur atau kulit buah itu pasti ada terus. Daripada dibuang percuma, kenapa nggak sekalian dimanfaatkan untuk pupuk tanaman sendiri," ujarnya.

Mengubah Limbah Dapur Menjadi Pupuk

Pupuk Organik Cair atau POC adalah pupuk cair yang dihasilkan dari proses fermentasi bahan organik. Dalam sosialisasi ini, mahasiswa KKN menjelaskan bahwa limbah seperti sisa sayur, kulit buah, dan sisa dapur lainnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar POC, alih-alih langsung dibuang begitu saja.

Selain memberi nilai guna baru pada limbah rumah tangga, kegiatan ini juga sejalan dengan konsep KRPL, yaitu pemanfaatan lahan di sekitar rumah untuk mendukung ketersediaan tanaman pangan maupun tanaman pekarangan. Dengan POC, ibu-ibu KRPL diperkenalkan pada cara mengurangi limbah dapur sekaligus mendapatkan bahan yang bisa dipakai untuk merawat tanaman mereka sendiri.

Mengenal Peran EM4 dan Molase

Materi sosialisasi juga menjelaskan dua bahan penting dalam proses pembuatan POC, yaitu EM4 dan molase. EM4 berperan sebagai sumber mikroorganisme yang membantu menguraikan bahan organik selama proses fermentasi berlangsung, sementara molase atau tetes tebu berfungsi sebagai sumber energi bagi mikroorganisme tersebut agar proses penguraian dapat berjalan optimal.

Selain EM4, mahasiswa KKN turut menyinggung MOL atau Mikroorganisme Lokal, yakni hasil fermentasi bahan organik yang juga mengandung mikroorganisme dan dapat digunakan sebagai starter dalam pembuatan POC.

Demonstrasi Pembuatan POC

Ibu-Ibu KRPL Ngadirejo Praktik Langsung Mengolah Limbah Organik Menjadi Pupuk Organik Cair (POC). (Sumber: Dokumentasi KKN UMM Kelompok 190, 2026)

Bagian yang menjadi sorotan dalam kegiatan ini adalah pemaparan tahapan pembuatan POC secara runtut, dengan takaran yang disesuaikan untuk menghasilkan sekitar 10 liter POC. Prosesnya dimulai dengan menyiapkan sekitar 6 hingga 7 kilogram limbah domestik atau limbah dapur, yang kemudian dicacah menjadi potongan kecil hingga sedang agar proses fermentasi berlangsung lebih maksimal.

Setelah itu, bahan yang telah dicacah dicampur dengan 1 liter MOL dan 30 mililiter molase, ditambah 9 liter air. Seluruh bahan dicampurkan secara merata, lalu wadah ditutup menggunakan plastik dan diikat karet. Wadah kemudian disimpan di tempat tertutup dan terhindar dari sinar matahari langsung, dengan pengadukan yang dilakukan setiap tiga hari sekali selama proses fermentasi berlangsung sekitar 14 hari.

Tahapan-tahapan tersebut dijelaskan secara bertahap kepada ibu-ibu KRPL, sehingga peserta tidak hanya mengetahui hasil akhirnya, tetapi juga memahami proses yang perlu dilalui untuk mengolah limbah dapur menjadi POC.

Tidak Hanya Membuat, tetapi Juga Belajar Cara Menggunakannya

Edukasi tidak berhenti pada proses pembuatan. Mahasiswa KKN juga menjelaskan cara mengaplikasikan POC pada tanaman, yaitu dengan dikocorkan ke tanah di sekitar area akar atau disemprotkan ke bagian daun. Penting untuk diperhatikan, POC harus diencerkan terlebih dahulu sebelum digunakan dan tidak boleh diaplikasikan dalam bentuk murni atau pekat, karena konsentrasi yang terlalu tinggi dapat berdampak kurang baik bagi tanaman.

Dengan pemahaman mengenai cara penggunaan yang tepat, ibu-ibu KRPL diharapkan dapat memanfaatkan POC secara aman untuk mendukung perawatan tanaman di pekarangan masing-masing.

Mendorong Pemanfaatan Limbah di Lingkungan KRPL

Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN tidak hanya mengenalkan cara membuat pupuk cair, tetapi juga mengajak ibu-ibu KRPL melihat kembali potensi limbah rumah tangga yang selama ini kerap dianggap tidak berguna. Program ini dirancang untuk memberikan edukasi mengenai POC, melatih keterampilan mengolah sampah dapur, sekaligus mengurangi volume sampah rumah tangga yang dihasilkan setiap harinya.

Selain itu, kegiatan ini juga mendorong kemandirian ibu-ibu KRPL dalam menyediakan pupuk organik sendiri, sekaligus meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya pengelolaan sampah organik secara berkelanjutan di lingkungan rumah tangga.

Lewat sosialisasi sederhana ini, mahasiswa KKN berharap pengetahuan mengenai POC dapat terus diterapkan oleh ibu-ibu KRPL Desa Ngadirejo dalam keseharian mereka, mengelola limbah dapur menjadi sesuatu yang bermanfaat, sekaligus mendukung kebiasaan menjaga lingkungan yang lebih berkelanjutan.