Konten dari Pengguna

Asal Usul Cina Benteng dan Alih Wahana Cerpen Bertema Akulturasi Budaya

Titin Susilawati

Titin Susilawati

Saya, Susi merupakan mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia. Saat ini saya memiliki minat besar terhadap bahasa, sastra, dan isu-isu sosial budaya.

·waktu baca 4 menit

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Titin Susilawati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dokumen Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Dokumen Pribadi

Pada zaman dahulu kala, ada sebuah cerita rakyat Cina Benteng yaitu sebutan kepada masyarakat peranakan Tionghoa yang tinggal di Tangerang. Kehadiran orang Tionghoa di Tangerang pertama kali diperkirakan sekitar tahun 1407 seperti yang tertulis dalam buku profil Kota Tangerang. Bahwa sebuah perahu datang dari Cina membawa sekitar 100 orang dan terdampar di muara Sungai Cisadane. Rombongan itu dipimpin Dhen Ci Lung. Di duga mereka merupakan rombongan armady Cheng Ho (Zheng He) seorang laksamana Tionghoa yang beragama Islam dan melakukan tujuh kali pelayanan ke Nak Yang (Laut Selatan) dengan armada yang hampir 300 kapal kayu jank serta pengikut sekitar 30.000 orang pada era dinasti Ming dari tahun 1405-1433.

Pada saat itu muara Cisadane di bawah penguasa lokal bernama Sanghyang Angga larang dari Kerajaan Pajajaran. Konon dalam perahu itu ada gadis dengan rupa cantik. Sanghyang Anggalarang memper suntingnya dengan kompensasi 9 bidang tanah. Maka kemudian lahirlah generasi Cina Benteng yang berkulit hitam yang sedikit membedakan dengan keturunan Tionghoa lainnya seperti Tionghoa yang berkulit putih. Percampuran warga Tionghoa dengan lokal melahirkan budaya baru yaitu saat pernikahan misalnya, perempuan Betawi biasanya menggunakan kembang goyang, sedangkan lelaki Tionghoa memakai topi dengan rambut yang diikat.

Selain itu terdapat ciri khas tersendiri mengenai masyarakat Cina Benteng yaitu :

1. Cina Benteng merupakan akulturasi antara masyarakat Sunda dan Betawi

2. Masyarakat Cina Benteng memiliki warna kulit hitam muka Chinese

3. Masyarakat Cina Benteng memiliki keyakinan yang beragam, seperti Buddha, Konghucu, dan Tao

4. Serta, dalam masyarakat Cina Benteng terdapat hewan mitologi yang memiliki arti penting, Burung Phoenix dan Naga, Lambang Burung Phoenix menjadi lambang agung yang hanya dapat dikenakan oleh permaisuri kaisar Cina sebab burung Phoenix dipandang sebagai simbol kewanitaan karena burung Phoenix melambangkan sifat-sifat feminin seperti keindahan, kelembutan, dan kebijaksanaan. Lambang naga dalam budaya Tionghoa melambangkan kekuatan dan keberanian maka menjadi simbol bagi laki-laki dan digunakan oleh kaisar sebagai lambang kekuasaan. Selain itu juga , dalam kepercayaan tradisional Cina berpendapat bahwa burung Phoenix dianggap sebagai pasangan dari Naga keduanya saling melengkapi dalam konsep yin dan yang, dimana Phoenix mewakili unsur Yin sementara naga mewakili unsur Yang. Yin melambangkan unsur perempuan, sedangkan Yang melambangkan unsur laki-laki

Setelah akulturasi yang terjadi, masyarakat keturunan Thionghoa ini melanjutkan hidup dengan di sektor pertanian. Disebabkan Indonesia memiliki banyak lahan subur yang cocok untuk menjalankan pertanian. Banyak orang Indonesia, termasuk masyarakat Tionghoa, memanfaatkan keadaan ini untuk menjadi petani dan mengembangkan usaha pertanian. Maka dari itu hampir semua masyarakat keturunan Tionghoa yang bekerja sebagai petani.

Dokumen Pribadi

“Alih wahana Asal Usul Cina Benteng menjadi cerpen anak-anak"

Judul: Asal Usul Cina Benteng dan Burung Phoenix

Pada zaman dahulu kala, di tepi Sungai Cisadane yang tenang, datanglah sebuah perahu besar dari negeri jauh bernama Tiongkok. Perahu itu membawa banyak orang yang berlayar sangat jauh. Mereka dipimpin oleh seorang kapten pemberani bernama Dhen Ci Lung. Angin laut bertiup kencang hingga perahu mereka terdampar di muara sungai di wilayah Tangerang.

Penduduk setempat yang dipimpin oleh Sanghyang Anggalarang dari Kerajaan Pajajaran pun datang melihat rombongan asing itu. Mereka tampak lelah, tapi juga ramah dan sopan. Di antara para penumpang kapal itu, ada seorang gadis cantik yang wajahnya bersinar seperti bulan purnama. Sanghyang Anggalarang pun jatuh hati padanya dan ingin menjadikannya istri.

Sebagai tanda cinta, ia memberikan sembilan bidang tanah kepada rombongan Dhen Ci Lung. Sejak saat itu, gadis dari negeri Tiongkok dan raja dari Pajajaran hidup bahagia, dan dari merekalah lahir keturunan yang disebut Cina Benteng—orang-orang yang wajahnya mirip Tionghoa tapi berkulit agak gelap seperti orang Sunda dan Betawi.

Waktu berlalu, masyarakat Cina Benteng pun hidup rukun. Mereka memiliki kebiasaan unik: saat pesta pernikahan, pengantin perempuannya memakai kembang goyang di rambut seperti orang Betawi, sedangkan pengantin laki-lakinya memakai topi bundar khas Tionghoa.

Tak hanya itu, mereka juga memiliki dua hewan mitologi yang sangat mereka kagumi: Naga dan Burung Phoenix.

  • Naga melambangkan kekuatan dan keberanian.

  • Phoenix melambangkan keindahan, kelembutan, dan kebijaksanaan.

Kedua makhluk ini dipercaya saling melengkapi seperti siang dan malam, laki-laki dan perempuan, Yang dan Yin.

Burung Phoenix yang anggun dipercaya melindungi para perempuan agar berhati lembut dan bijak. Sedangkan Naga menjaga para laki-laki agar berani dan kuat menghadapi hidup.

Seiring berjalannya waktu, masyarakat Cina Benteng tidak hanya mewarisi kisah indah itu, tetapi juga semangat untuk bekerja keras di ladang dan sawah. Mereka menjadi petani yang rajin karena tanah di sekitar Sungai Cisadane sangat subur.

Setiap kali matahari terbit, anak-anak Cina Benteng membantu orang tua mereka menanam padi. Saat malam tiba, mereka duduk di serambi rumah sambil mendengar kisah tentang Burung Phoenix dan Naga, dua makhluk ajaib yang menjadi simbol kehidupan mereka.

Hingga kini, masyarakat Cina Benteng tetap dikenal sebagai orang-orang yang ramah, pekerja keras, dan menjaga warisan budaya dari dua dunia—Tionghoa dan Nusantara.