Konten dari Pengguna

Wisata di Tangerang: Kisah Cina Tangerang

Titin Susilawati

Titin Susilawati

Saya, Susi merupakan mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia. Saat ini saya memiliki minat besar terhadap bahasa, sastra, dan isu-isu sosial budaya.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Titin Susilawati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dokumen Pribadi: Klenteng Boen Tek Bio di Tangerang
zoom-in-whitePerbesar
Dokumen Pribadi: Klenteng Boen Tek Bio di Tangerang

Di tengah pesatnya perkembangan zaman, tradisi lisan semakin jarang dijumpai. Padahal, sastra lisan menyimpan banyak nilai budaya dan sejarah yang penting untuk dipelajari. Salah satu contohnya adalah kisah asal-usul Cina Benteng di Tangerang, yang hingga kini menjadi bukti nyata akulturasi budaya di Indonesia.

"Masyarakat Cina Benteng berasal dari rombongan pelaut Tiongkok yang dipimpin oleh Dhen Ci Lung pada abad ke-15. Mereka terdampar di muara Sungai Cisadane dan disambut oleh Sanghyang Anggalarang, penguasa wilayah setempat dari Kerajaan Pajajaran. Dari pertemuan itu lahir percampuran dua budaya besar Tionghoa dan lokal yang melahirkan masyarakat Cina peranakanHeritage, " Menurut Martin, pemandu wisata Museum Benteng Heritage, Senin (5/03/2024)

Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Cina Benteng memperlihatkan hasil perpaduan budaya.

Dokumen Pribadi: Klenteng Boen Tek Bio di Tangerang

"Dalam tradisi pernikahan Cina Peranakan, pengantin perempuan memakai kembang goyang seperti adat Betawi, sedangkan pengantin laki-laki memakai topi bundar khas Tionghoa," Menurut Martin, pemandu wisata Museum Benteng Heritage, Senin (5/03/2024)

Masyarakat Cina Paranakan, juga percaya pada simbol-simbol seperti Burung Phoenix yang melambangkan kelembutan, serta Naga yang menggambarkan kekuatan dan keberanian. Kisah-kisah ini “semakin jarang dituturkan secara lisan dari generasi ke generasi.

Namun, saat ini cerita rakyat seperti ini mulai jarang diceritakan. Banyak anak muda yang tidak lagi mengenal asal-usul budayanya sendiri. Karena itu, upaya melestarikan sastra lisan perlu terus dilakukan. Caranya bisa beragam mulai dari mengadakan kegiatan mendongeng di sekolah, menulis ulang cerita rakyat dalam bentuk buku anak, membuat animasi, hingga menyebarkannya lewat media sosial.

Dokumen Pribadi: Museum Benteng Heritage Tangerang

Pelestarian sastra lisan bukan hanya menjaga cerita lama, tapi juga menjaga identitas dan jati diri bangsa. Melalui kisah asal-usul Cina Benteng, kita bisa belajar tentang pentingnya keberagaman. Menurut saya, kisah Cina Benteng membuktikan bahwa perbedaan bukanlah penghalang, melainkan jembatan yang memperkaya kebudayaan Indonesia. Di tengah arus globalisasi, mengenal dan mencintai budaya sendiri adalah bentuk kebanggaan sekaligus tanggung jawab bersama.