Konten dari Pengguna

Kisah di Balik Penemuan Lukisan Gua Tertua Berusia 51 Ribu Tahun di Maros

Jamal Suteja

Jamal Suteja

Staf Humas di Badan Riset dan Inovasi Nasional

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Jamal Suteja tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Peneliti BRIN, Adhi Agus Octaviana menunjukan salah satu lukisan cadas bergambar babi hutan di kawasan Leang-Leang, Maros. sumber : Google Art & Culture
zoom-in-whitePerbesar
Peneliti BRIN, Adhi Agus Octaviana menunjukan salah satu lukisan cadas bergambar babi hutan di kawasan Leang-Leang, Maros. sumber : Google Art & Culture

Tebing-tebing karst menjulang tinggi di kawasan Leang-Leang, Maros, menyimpan rahasia zaman purba yang kini mulai terkuak. Di balik dinding-dinding gua cadas tergurat jejak peradaban yang telah lama hilang tertelan waktu. Sebuah figur lukisan babi hutan, manusia pemburu, dan adegan naratif prasejarah lain yang tergambar dengan pigmen merah, menjadi saksi bisu perjalanan manusia purba lebih dari 51.000 tahun yang lalu. Penemuan ini tidak hanya mengubah peta ilmu arkeologi dunia, tapi juga menjadi bukti bahwa nenek moyang kita telah mengenal seni dan simbolisme jauh lebih awal dari yang pernah dibayangkan.

Peneliti Ahli Muda dari Pusat Riset Arkeometri, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Adhi Agus Oktaviana menceritakan kisahnya yang berhasil mengungkap temuan spektakuler lukisan gua tertua di dunia itu. Dalam sunyi dan peluh perjalanan melewati sungai, mendaki batuan curam, dan dalam kegelapan gua. Ada kisah tentang dedikasi, tantangan, dan kecintaan pada ilmu pengetahuan.

"Penelitian gambar cadas itu sebetulnya pada 2014 sudah terpublikasi di Jurnal Lecture, yang untuk umur pertanahan sekitar 40.000 tahun. Nah yang 2014 itu kan dapat atensi di dunia dan masuk di salah satu dari 10 terobosan ilmiah dunia versi majalah sains. Terus ada juga publikasi kita di 2019," ungkap Adhi menceritakan kisahnya, dalam sesi diskusi pada acara peluncuran platform digital gambar cadas prasejarah Indonesia di Gedung BJ Habibie, Jakarta, Selasa (3/6).

Segalanya bermula di tahun 2020, di tengah kegiatan ekskavasi biasa di situs Leang Tedongnge, Maros. Adhi menerima sebuah pesan yang kelak menjadi awal dari perjalanan monumental ini. “Waktu itu saya lagi di Leang Tedongnge, sedang ekskavasi. Tiba-tiba ada kabar bahwa Google ingin menjajaki kolaborasi untuk mendokumentasikan gambar cadas. Tapi awalnya tidak ada tindak lanjut selama satu-dua tahun,” ujar Adhi.

Situasi yang menggantung itu justru memantik inisiatif pribadi dari Adhi dan timnya. Mereka mulai mendata ulang situs-situs lukisan gua yang pernah diteliti dan dipublikasikan sebelumnya. Salah satunya adalah lukisan adegan perburuan di Sulawesi, yang pada 2019 diakui sebagai salah satu dari 10 penemuan ilmiah paling revolusioner versi Science Magazine.

“Kami sadar bahwa dokumentasi yang kami punya penting. Pada 2014 dan 2019, publikasi kami mengenai seni cadas Sulawesi sudah masuk dalam sorotan dunia. Dari situ Google Art & Culture mulai tertarik mendokumentasikan situs-situs dan ‘resep’ riset kami di lapangan,” jelas Adhi.

Lewati Sungai dan Bukit Hingga Momen "Agustusan" di Dalam Gua

Tahun 2022 menjadi titik balik. Bersama tim, Adhi kembali menyusuri gua-gua cadas Sulawesi dalam program digitalisasi dan pelestarian budaya bersama Google Arts & Culture. Dalam bahasa Bugis dan Makassar, Gua sering disebut sebagai "Leang". Lokasinya tak main-main—gua-gua terpencil yang hanya bisa dicapai dengan tiga jam berjalan kaki, menyeberangi sungai dan mendaki gunung. Untuk mencapainya, para peneliti harus berjalan kaki selama tiga jam dari desa terakhir, menyusuri sungai, menembus hutan, dan mendaki batuan karst yang licin.

“Leang Tedongnge itu sangat terpencil. Perjalanan dari Kampung Liang-Liang butuh tiga jam jalan kaki, menyusuri sungai dan naik ke pegunungan. Memang capek sekali, tapi suasananya luar biasa,” kenang Adhi.

Salah satu momen yang paling membekas terjadi pada 17 Agustus, saat tim berada di Leang Uhallie, Bone. Di tengah sunyi alam, mereka mengibarkan bendera Merah Putih dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Momen itu sangat emosional. Saat itu mereka berdiri di tengah sejarah, menyanyikan lagu nasional, seolah menyambungkan masa lalu ribuan tahun dengan semangat kebangsaan hari ini.

Tantangan besar bukan hanya datang dari medan, tapi juga dari bentuk lukisan gua itu sendiri. Banyak dari gambar purba tersebut nyaris tak terlihat oleh mata manusia. Proses pengolahan visual pun harus dilakukan secara cermat dan teliti, menggunakan teknik digitalisasi mutakhir seperti D-Stretch (Decorrelated Stretch).

Setelah gambar diolah dengan D-Stretch, barulah bisa dilihat bentuk aslinya. Tapi setelah itu, masih harus melakukan tracing manual, satu per satu. “Gambar di Leang Karampuang, yang berumur minimum 51 ribu tahun, kita tracing manual selama hampir sebulan. Itu saya kerjakan sambil menyelesaikan disertasi saya. Alhamdulillah, saya lulus di bulan November kemarin,” ujar peraih doktor di Griffith Centre for Social and Cultural Research, Griffith University.

Lukisan yang ditemukan menggambarkan babi liar dan figur manusia—sebuah adegan naratif yang menunjukkan bahwa manusia purba sudah memiliki pemikiran simbolik dan kemampuan artistik jauh lebih awal dari yang diduga sebelumnya.

Penanggalan dilakukan dengan sangat hati-hati. Setelah ditemukan pada 2017 oleh tim Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIX, sampel diambil pada 2019 dan dianalisis di laboratorium Griffith University, Australia sebagai bagian dari kerja sama dengan lembaga riset PAPEX (Palaeoanthropology and Palaeolithic Excavation). Hasilnya diumumkan pada 2023: usia minimum lukisan mencapai 51.200 tahun.

Kerja kolaboratif antar lembaga, dari BRIN hingga mitra internasional seperti PAPEX dan Google, menjadi kunci sukses riset ini. Bagi Adhi, penemuan ini bukan sekadar capaian akademik, tapi warisan sejarah dan budaya yang harus dijaga bersama. “Situs-situs ini tidak mudah dijangkau. Tapi dengan digitalisasi, kita bisa membuka akses kepada masyarakat luas untuk mengenalkan sejarah dan penemuan arkeologi,” tutupnya.

Penemuan lukisan gua tertua di dunia di Maros, Sulawesi Selatan, menjadi pengingat bahwa Indonesia bukan hanya kaya secara alam dan budaya, tetapi juga menyimpan kontribusi penting dalam sejarah umat manusia. Lukisan itu kini diam terpahat di dinding batu, menyampaikan pesan dari masa silam. Sebuah pesan tentang siapa kita, dari mana kita berasal, dan bagaimana sejak dahulu manusia telah memaknai hidup melalui simbol, cerita, dan seni. (jml)

cp: jamalsuteja@gmail.com