Konten dari Pengguna

Mahasiswa dan Literasi

Swara Unsada

Swara Unsada

Swara Unsada

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Swara Unsada tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dok. www.radartasikmalaya.com
zoom-in-whitePerbesar
Dok. www.radartasikmalaya.com

Literasi. Kata tersebut sudah sering kita dengar. Apakah yang dimaksud dengan literasi itu sendiri? Literasi adalah kemampuan seseorang dalam mengolah dan memahami informasi saat membaca dan menulis. Jika dulu definisi literasi adalah kemampuan membaca dan menulis saja, namun saat ini istilah literasi sudah digunakan dalam arti yang lebih luas dan merambah pada praktik kultural yang berkaitan dengan persoalan sosial dan politik.

Berliterasi lewat membaca dan menulis dapat memberi kita bermacam manfaat. Di antaranya ialah meningkatkan keterampilan bahasa dan pengetahuan global, meningkatkan daya ingat dan kreativitas serta fleksibilitas, memperluas jangkauan perasaan, serta dapat mengubah kita menjadi pribadi yang lebih baik dan berwawasan luas. Karenanya literasi sangatlah penting diterapkan dalam lingkup pendidikan terutama perguruan tinggi. Budaya ini tidak boleh hilang dari civitas akademika di lingkungan kampus karena mahasiswa dituntut untuk lebih aktif dalam ruang pembelajaran agar mereka dapat menginterpretasikan apa yang diketahuinya melalui opini yang disampaikan.

Saat ini, budaya literasi di kalangan remaja terutama mahasiswa masih tergolong rendah. Salah satu lembaga survey, PISA (Programme for International Student Assessment) menyebutkan, pada tahun 2012 budaya literasi di Indonesia menempati urutan ke-64 dari 65 negara. Pada penelitian yang sama ditunjukkan, Indonesia menempati urutan ke-57 dari 65 negara dalam kategori minat baca. Data UNESCO juga menyebutkan posisi membaca Indonesia 0.001%—artinya dari 1.000 orang, hanya ada 1 orang yang memiliki minat baca. Hasil survei tersebut cukup memprihatinkan.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan hal itu terjadi dan teknologi menjadi salah satu faktor utama. Dengan berkembangnya teknologi informasi seharusnya akses terhadap literasi juga lebih mudah. Namun semua itu berbanding terbalik dikarenakan sikap kritis yang juga berkurang atau terlalu fokus terhadap baca cepat atau skimming tanpa pemahaman lebih dalam dan kritis. Hal ini menyebabkan kemampuan menyaring informasi pun lemah dan mudah termakan hoax atau berita palsu.

Dr. Roger Farr dalam bukunya Think Reading (1984) menuliskan, “reading is the heart of education” cukup menjelaskan bahwa budaya membaca adalah jantung pendidikan. Yang berarti, pendidikan tanpa berliterasi adalah percuma. Dengan literasi, mahasiswa juga mendapat banyak manfaat terutama untuk penyusunan tugas akhir baik skripsi, tesis, maupun disertasi. Bukan hanya dibutuhkan dalam proses belajar dan akademik mahasiswa itu sendiri, literasi juga berperan dalam melakukan perubahan di skala lebih besar dan ruang lingkup masyarakat lebih luas. “Agent of changes”, agen perubahan, begitulah julukan yang disematkan bagi mahasiswa. Jadi sudah sepatutnya mahasiswa mampu membawa perubahan kepada masyarakat terutama melalui literasi. ( Farhan/SU29 )