Konten dari Pengguna

Dari Ruang Pelatihan, Saya Belajar Arti Pengabdian

Swasti setyorini

Swasti setyorini

staf pelatihan kesehatan

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Swasti setyorini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi pendidikan dokter. Foto: create jobs 51/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pendidikan dokter. Foto: create jobs 51/Shutterstock

Sebagai ASN yang bekerja di bagian pelatihan kesehatan, waktu saya lebih sering dihabiskan di ruang kelas, ruang belajar digital atau mendampingi peserta pelatihan ketika praktek ke lapangan. Pekerjaan di ruang pelatihan memang terkesan seperti rutinitas, namun juga bisa dimaknai sebagai salah satu bentuk pengabdian. Peran dalam pengembangan kompetensi ASN mungkin tidak langsung terlihat dalam pencapaian program kesehatan, tetapi bisa menjadi bagian dari perbaikan pelayanan kepada masyarakat. Hal paling menarik dari pelatihan justru baru terlihat ketika peserta kembali ke tempat kerja dan ilmu yang dipelajari terasa manfaatnya untuk melayani masyarakat.

Suatu ketika saya berkesempatan mendampingi peserta pelatihan Pelayanan Antenatal Care (ANC), Persalinan, Nifas, dan Skrining Hipotiroid Kongenital (SHK) bagi Bidan di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) yang akan melakukan praktek lapangan di Puskesmas. Hari itu, awalnya tidak ada yang berbeda. Peserta mulai melakukan pelayanan ANC kepada ibu hamil sesuai dengan standar yang sudah mereka pelajari. Kali itu saya mengamati edukasi bidan kepada suami yang mengantar istrinya pasca melahirkan. Saya jadi berpikir, kalau saja lebih banyak suami yang ikut mendengar penjelasan penting ini bisa jadi pengetahuan sederhana seperti mengenali tanda bahaya saat hamil dan nifas justru menjadi salah satu hal yang membantu keluarga mengambil keputusan lebih cepat. Karena tanda bahaya pada ibu hamil dan ibu nifas sebenarnya akan lebih dulu terlihat oleh keluarga dibanding oleh bidan ataupun dokter dipuskesmas. Tentu saja, tidak semua suami bisa selalu mendampingi karena ada yang harus bekerja atau punya tanggung jawab lain. Maka perlu peran keluarga, masyarakat dan tenaga kesehatan dalam mendukung ibu hamil, ibu nifas dan ibu menyusui untuk melewati fase-fase beratnya dengan lebih bersemangat.

Ada kejadian lain yang sampai sekarang justru paling saya ingat. Para ibu hamil yang menjadi responden kegiatan praktek lapangan ini mendapatkan goody bag yang berisi sedikit bahan kebutuhan pokok dan kotak konsumsi sebagai bentuk apresiasi atas kesediaannya menjadi responden. Saya pikir hari ini akan berjalan sesuai rencana, goody bag dan konsumsi dibagikan dengan lancar, nyatanya ada sedikit kejutan bahwa konsumsi yang dipesan catering salah antar ke puskesmas lain yang namanya sama namun dengan lokasi yang sangat jauh berbeda, akhirnya saat konsumsi diantar kembali ke lokus praktek lapangan, beberapa ibu hamil sudah pulang ke rumahnya karena tidak bisa menunggu terlalu lama. Meskipun goody bag sudah dibagikan, ada beberapa kotak konsumsi makan siang yang tidak sempat dibagikan karena responden terlanjur pulang.

Kalau soal administrasi sebenarnya kami sudah selesai. Mereka sudah berpartisipasi, sudah mendapat goody bag dan menandatangani SPJ, sedangkan konsumsi yang tersisa dapat disimpan atau diberikan kepada pihak lain. Tapi rasanya ada yang belum lengkap. Mereka sudah datang dan meluangkan waktu untuk membantu kami, sementara sebagian hak mereka ada yang belum sampai ke tangan.

Akhirnya kami memutuskan untuk mengantarkan kotak konsumsi itu langsung ke rumah beberapa responden yang sudah terlanjur pulang. Meskipun tidak banyak, pengalaman ini amat berkesan. Ketika sampai di rumah salah seorang ibu hamil kami disambut dengan senyum yang merekah. Nilai kotak makanan itu mungkin tidak seberapa tetapi melihat ibu tersebut beberapa kali mengucapkan terima kasih membuat saya ikut merasa bahagia.

Sebagai ASN, seringkali kita lebih fokus pada penyusunan program hingga berbagai inovasi dan aplikasi, semuanya memang sangat penting. Tapi di tengah kebutuhan hidup yang serba mahal seperti sekarang, bantuan kecil yang benar-benar dirasakan masyarakat juga punya arti. Melihat senyum ibu tersebut membuat saya membayangkan perjalanan panjang yang masih harus ia jalani. Kehamilan akan terus berlanjut menuju persalinan, dengan segala perubahan fisik, rasa cemas, persiapan, dan tanggung jawab baru yang mungkin sedang dipikirkan bersama keluarganya. Saya jadi bertanya kepada diri sendiri, apakah pekerjaan yang selama ini saya lakukan sudah memberi manfaat?

Saya mulai memahami bahwa pengabdian tidak selalu harus menunggu program besar atau sekedar memenuhi target capaian dalam laporan. Saya membayangkan bagaimana kalau setiap ibu hamil, ibu nifas dan ibu menyusui juga mendapatkan bantuan rutin dari pemerintah di samping layanan kesehatan yang responsif dan nyaman, tentunya akan membuat para ibu semakin bersemangat apalagi jelang menanti kelahiran buah hatinya dan menghadapi masa-masa emas menyusui bayinya nanti.

Mungkin justru kita yang perlu berterima kasih kepada para ibu yang sudah datang ke fasilitas kesehatan, menjaga kehamilannya, dan kelak melahirkan generasi berikutnya. Pekerjaan kami memang terkait erat dengan manusia, mereka yang ingin dilayani dan dihargai. Dari pekerjaan ini, saya belajar memaknai pengabdian sebagai ASN.

Pengabdian ASN tidak hanya tentang menjalankan tugas, tetapi juga memahami kebutuhan dan pengalaman masyarakat. Mussagulova, Padilla, dan Asquith (2025) menunjukkan bahwa empati dalam pelayanan publik dapat diwujudkan melalui tindakan nyata, seperti membantu, memperbaiki komunikasi, dan mempertimbangkan pengalaman masyarakat dalam pengambilan keputusan. Dengan demikian, empati menjadi bagian penting dari pelayanan ASN yang lebih manusiawi.