Konten dari Pengguna

Lebaran Ikut Siapa? Sebuah Pendekatan Sosial Kultural dalam Kehidupan

Swasti setyorini

Swasti setyorini

ASN di bagian pelatihan kesehatan

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Swasti setyorini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Umat Muslim di Medan seusai melaksanakan Salat Idul Fitri Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Umat Muslim di Medan seusai melaksanakan Salat Idul Fitri Foto: Shutterstock

Puasa Ramdhan tahun ini terasa agak berbeda, mungkin juga karena diawali dengan waktu mulai puasa yang berbeda-beda di Indonesia. Muhammadiyah memulai puasa di hari Rabu 20 Februari 2026, sedangkan pemerintah memulai puasa di hari Kamis, 21 Februari 2026

Tetapi justru karena kondisi inilah ada hikmah mendalam yang bisa dirasakan terutama saat sholat Iedul Fitri. Hadirnya bulan Ramadhan tentunya memberikan rasa bahagia tersendiri, bahagia karena masih berkesempatan menjalankan puasa sekaligus khawatir menghitung hari karena Ramadhan selalu terasa cepat berlalu.

Puasa Ramdhan ini entah kenapa saya memilih memulai puasa lebih dulu, sehingga lebarannya pun ikut yang lebih dulu. Meskipun sempat bingung dan ragu karena khawatir sulit mendapatkan tempat sholat Ied, akhirnya pagi hari itu saya niatkan berangkat untuk menunaikan sholat Ied sebelum malam harinya mencari info lokasi mana saja yang menyelenggarakan sholat Ied.

Tanpa survey lokasi terlebih dulu, akhirnya saya memilih salah satu masjid, dan begitu sampai ternyata masjidnya tidak besar dan jamaah wanita mendapat tempat di halaman masjid. Saat waktu menunjukkan pukul 6 lewat, jamaah sholat terlihat sudah banyak yang memenuhi area masjid. Kondisi masjid yang penuh akhirnya membuat para jamaah menggelar sajadah di depan masjid hingga ke area jalan raya. Saya pun segera menggelar sajadah dipinggir jalan raya, sebenarnya bukan pinggir tapi sudah agak ketengah.

Saya berpikir mungkin sebentar lagi jalan rayanya akan ditutup sehingga tidak ada kendaraan yang melintas dibelakang jamaah. Mendekati pukul setengah tujuh jalan belum juga ditutup. Saya masih juga menunggu dan berharap mungkin mendekati pkl 07.00 akan ditutup. Tapi ternyata sampai menjelang dimulainya sholat Ied pun jalan raya tidak ditutup. Padahal untuk alasan kemaanan sangat mungkin panitia meminta ijin penutupan jalan raya selama pelaksanaan ibadah.

Sementara itu ada satu hal lain yang tidak kalah berkesan, dibarisan belakang sebelah kanan seberang jalan raya terlihat jamaah laki-laki belum menggelar sajadah dan hanya berdiri menunggu persiapan sholat dengan shaf yang rapat-rapat karena penuh. Jika dilihat dari logika seharusnya mereka tidak bisa sholat karena tanpa menggelar sajadah pun barisan sudah terisi penuh. Tapi ternyata tanpa ada yang mengatur, tanpa aba-aba barisan sholat pun tiba-tiba rapi, sajadah bisa digelar dan tidak ada satu jamaah pun yang ribut karena tidak mendapat tempat.

Akhirnya sholat Ied pun dimulai dengan suasana yang tetap khusyuk. Meskipun tentunya sangat beresiko sekali menggelar Sholat Ied di sisi jalan raya tanpa menutup jalan tersebut. Saya pun ikut merasakan kekhawatiran para jamaah yang ketika mendengarkan khutbah harus berhati-hati dan mendapati pemandangan truk besar yang lewat tepat dibelakang barisan, begitu juga dengan kendaraan lainnya yang masih lalu lalang.

Namun satu hal yang menjadi perhatian adalah ketika mendengarkan khutbah, ternyata isi ceramahnya sungguh berkesan dan meninggalkan pesan-pesan yang mendalam, terkait hakikat lebaran, memaafkan dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Memang terkesan seperti ceramah pada umumnya tapi entah kenapa, justru dari kesederhanaan pelaksanaan sholat Ied ini membuat hati lebih terbuka menerima nasehat, yang jelas ini sangat berbeda rasanya jika dibandingkan ketika berada di tempat yang nyaman dan sangat aman.

Dalam perspektif Sosiokultural, perbedaan ini mencerminkan adanya praktik toleransi sosial di tengah masyarakat. Toleransi dipahami sebagai kemampuan untuk menerima perbedaan tanpa menghilangkan keyakinan masing-masing (H.A.R. Tilaar, 2004; Rainer Forst, 2013).

Perbedaan tidak serta-merta berakibat memecah belah, tetapi justru dapat menjadi sarana untuk memperkuat hubungan sosial, yakni melalui kohesi sosial; rasa kebersamaan yang tetap terjaga meskipun tidak selalu seragam (OECD, 2011)

Konflik sosial memang kerap muncul akibat perbedaan pendapat yang disertai dengan pemaksaan kehendak. Namun, dalam pendekatan sosiokultural modern, konflik dapat diminimalkan apabila masyarakat memiliki kemampuan untuk berdialog, berempati, dan pencarian solusi bersama (UNESCO, 2017).

Dari sini kita juga bisa mengambil pelajaran bahwa perbedaan yang ada tidak harus menimbulkan konflik jika disikapi dengan lapang dada dan tidak saling menyalahkan.

Konsep toleransi tidak lagi dipahami sebagai sekadar “membiarkan”, tetapi dapat berkembang menjadi toleransi aktif, yaitu kemampuan untuk tetap menghormati dan bahkan memfasilitasi keberadaan pihak lain (Forst, 2013). Dalam situasi ini, masyarakat tidak hanya menerima perbedaan awal puasa dan Idulfitri, tetapi juga memberi ruang praktik ibadah, tidak memaksakan keseragaman dan tetap menjaga hubungan sosial.

Hal ini sejalan dengan sabda Nabi Muhammad SAW:“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.”

(HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim)

Kedepan tentunya kita berharap agar masing-masing pihak bisa saling mendukung. Masjid-masjid dengan daya tampung yang besar bisa digunakan terlebih dulu oleh saudara kita yang akan melaksanakan sholat Ied lebih awal dan disusul besoknya juga dapat digunakan kembali untuk jamaah melaksanakan sholat Ied berikutnya. Seperti yang sudah dilakukan salah satu masjid yaitu Masjid Merah Baiturrahman di Depok yang menggelar Sholat Ied 2 kali untuk menjawab perbedaaan penetapan 1 Syawal.