Konten dari Pengguna

Zulhijah dan Manusia-Manusia yang Mudah Lelah

Swasti setyorini

Swasti setyorini

ASN di bagian pelatihan kesehatan

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Swasti setyorini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Marhaban Ya Bulan Zulhijah. Foto: Generated by AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Marhaban Ya Bulan Zulhijah. Foto: Generated by AI

Bulan Zulhijah sudah hampir setengah berlalu. Sejak awal sudah banyak sekali pesan-pesan menarik yang akhir-akhir ini muncul terkait keutamaan 10 hari pertama bulan Zulhijah. Ya, sejujurnya, salah satu dampak baik media sosial saat ini adalah cepat sekali tersebarnya sebuah pesan.

Jika dulu jangankan mengingat keutamaan bulan Zulhijah, mungkin keutamaan bulan Ramadan saja baru sering tersiar saat menonton TV, atau mengikuti kajian di masjid. Namun saat ini, banyak orang yang mulai tersadar, bahkan sejak jauh-jauh hari.

Semakin bertambah usia, saya mulai menyadari bahwa menjaga semangat beribadah ternyata tidak sesederhana dan semudah yang dibayangkan. Hari ini, hidup terasa jauh lebih padat. Pikiran dipenuhi banyak hal. Tanggung jawab datang hampir bersamaan: pekerjaan, kesehatan, dan berbagai urusan yang membuat hari-hari sering berlalu begitu cepat.

Tidak jarang malam datang bersama tubuh yang sudah terlalu lelah untuk melakukan banyak hal selain beristirahat. Di titik itu, saya mulai memahami bahwa keterbatasan bukan hanya soal usia, melainkan juga soal tenaga, fokus, dan kemampuan mengatur suasana hati agar tetap hidup di tengah rutinitas yang melelahkan.

Hari ini, Bulan Zulhijah datang lagi, bahkan sudah hampir separuh perjalanan. Ada harapan, tetapi juga ada kegelisahan dan perasaan tertinggal. Sering kali ketika mendengar banyak keutamaan bulan ini, awalnya ada semangat untuk ikut mengupayakannya, tapi tidak semua rencana selalu tepat berjalan.

Petugas memantau hilal penentuan awal bulan Zulhijah dan Idul Adha 1446 H di Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (27/5/2025). Foto: Arnas Padda/ANTARA FOTO

Ada kondisi tidak terduga, seperti badan sedang kurang sehat ketika memasuki awal Zulhijah, kesibukan dengan tanggung jawab, bahkan ada juga yang lelah karena masih berdesakan di transportasi umum sekaligus melawan macet jalanan.

Beruntung bagi para remaja atau mereka yang berada di usia lebih muda, rasanya waktu berjalan lebih lapang. Fokus belum terbagi terlalu banyak. Energi masih penuh. Jika ingin menghabiskan waktu untuk mengikuti kajian, semuanya terasa lebih mungkin dilakukan. Namun, tentunya waktu tidak bisa diputar kembali, untuk sekadar kembali ke masa muda dan memperbaiki waktu yang terlewat.

Sementara ketika memasuki usia dewasa, hidup berubah menjadi lebih kompleks. Ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Ada kesehatan yang mulai perlu dijaga. Ada target, dan berbagai tanggung jawab yang terus datang silih berganti. Terkadang, bahkan untuk duduk tenang beberapa menit saja terasa sulit.

Di titik itulah saya mulai memahami mengapa banyak orang dewasa sebenarnya ingin menjadi lebih baik, tetapi sering merasa tertinggal dalam urusan ibadah. Bukan karena tidak peduli, melainkan karena hidup mereka sedang penuh oleh hal-hal yang menuntut perhatian dan energi hampir sepanjang waktu.

Termasuk dalam urusan berkurban. Ada orang-orang yang sebenarnya sangat ingin berkurban setiap tahun. Ingin ikut merasakan kebahagiaan berbagi, ingin menghadirkan amal terbaik di hari-hari istimewa itu. Namun, kenyataan hidup tidak selalu memberi ruang yang mudah. Belum lagi berbagai kondisi ekonomi yang membuat sebagian orang harus menguras hampir seluruh tenaganya hanya untuk bertahan hidup dengan layak.

Ilustrasi ibadah. Foto: Ground Picture/Shutterstock

Dan mungkin, salah satu keterbatasan orang dewasa hari ini adalah ketika keinginan untuk beribadah lebih baik harus berhadapan dengan realitas hidup yang tidak sederhana. Kekhawatiran itu terasa semakin nyata di tengah kehidupan hari ini yang bergerak begitu cepat. Kita hidup dalam budaya yang sering mengukur banyak hal dari capaian yang tampak. Kesuksesan dan prestasi diukur dari yang terlihat, sementara ketenangan batin justru sering terabaikan.

Dalam realitas seperti ini, saya mulai memahami bahwa orang dewasa sering kali bukan tidak ingin beribadah lebih baik. Mereka hanya sedang berusaha bertahan sambil tetap mencari semangat yang sering turun naik.

Lalu saya mulai bertanya pada diri sendiri: Jika hidup orang dewasa memang sedemikian melelahkan, amalan seperti apa yang sebenarnya paling mungkin dijaga? Mungkin jawabannya bukan selalu amal-amal besar, mungkin amal terbaik justru hadir dalam bentuk yang sederhana tetapi terus diupayakan.

Menyempatkan membaca beberapa ayat Al Quran meski hanya sebentar.

Menyisihkan sedikit rezeki walau kondisi ekonomi belum benar-benar longgar.

Mungkin tidak semua sanggup berpuasa karena satu dan lain hal, hanya mampu melafalkan takbir mutlak di sela-sela waktu.

Barangkali di usia dewasa, amal bukan lagi soal seberapa banyak yang mampu dilakukan, melainkan seberapa tulus seseorang tetap berusaha mendekat di tengah segala keterbatasannya. Sebab, ada orang-orang yang mungkin tidak mampu melakukan banyak ibadah tambahan, tetapi setiap hari tetap berjuang mencari nafkah halal, menahan diri agar tidak mengambil hak orang lain, dan tetap mencoba menjadi manusia yang lebih baik meski hidup sedang tidak mudah. Dan berharap perjuangan seperti itu pun dicatat sebagai kebaikan.

Ilustrasi berefleksi. Foto: Priyank Dhami/Shutterstock

Di tengah semua itu, saya juga belajar bahwa semangat beramal ternyata tidak selalu lahir dari diri sendiri. Ada kalanya niat melemah dan langkah terasa berat. Namun justru di saat seperti itu, semangat hadir melalui orang lain.

Kadang lewat teman yang mengingatkan.

Kadang lewat tulisan sederhana yang menyentuh hati.

Kadang lewat percakapan singkat yang membuat kita kembali sadar.

Dari situ saya memahami pentingnya terus belajar dan tetap berada di lingkungan yang menjaga semangat kebaikan. Sebab manusia tidak selalu kuat berjalan sendirian. Ada masa ketika seseorang bertahan bukan karena dirinya paling kuat, melainkan karena masih ada orang-orang yang mengingatkannya untuk terus melangkah.

Mungkin itu pula salah satu makna sosial dari ibadah. Bahwa agama tidak hanya membangun hubungan manusia dengan penciptanya, tetapi juga menjaga hubungan antarmanusia agar tetap saling menguatkan.

Meski langkahnya pelan—tidak selalu mampu berlari cepat—tetapi tetap berusaha berjalan. Karena pada akhirnya, keistimewaan 10 hari pertama Zulhijah bisa dirasakan juga oleh setiap orang meskipun dengan segala keterbatasan—tetapi tetap ingin mengetuk pintu kebaikan sekali lagi.

Mudah-mudahan kita selalu diberikan kesempatan mengupayakan yang terbaik di Bulan Istimewa ini, sekalipun belum setidaknya mengupayakan sesuai kemampuan.

Selamat menanti Hari Raya Idul Adha 1447 H.