Hasil Trombosit vs Hematokrit: Mana yang Lebih Berbahaya pada Demam Berdarah?

Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Safari Wahyu Jatmiko tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kita sering mendengar betapa takutnya keluarga pasien demam berdarah dengue (DBD) mengenai jumlah trombosit yang rendah. Ketakutan ini sebenarnya wajar dan beralasan, karena trombosit rendah terkait dengan DBD berat. Akan tetapi, ada hal lain yang tidak kalah berbahaya selain trombosit, yakni hematokrit.
Trombositopenia pada Demam Berdarah
Secara harfiah, trombositopenia adalah berkurangnya jumlah trombosit atau keping darah. Jadi pada DBD terjadi penurunan jumlah trombosit. Bahkan tidak jarang kita mendengar bahwa jumlah trombosit turun hingga menjadi beberapa ribu saja.
Mungkin muncul pertanyaan, mengapa trombositopenia terjadi pada DBD? Ternyata banyak hal yang mendasarinya, berikut adalah penyebabnya:
Sumsum tulang gagal membentuk trombosit
Trombosit banyak dihancurkan sebagai efek samping respon kekebalan tubuh terhadap virus DBD
Trombosit menjadi hiperaktif ketika terpapar oleh virus DBD yang justru memicu kehancurannya
Trombosit dipakai untuk menambal kerusakan pembuluh darah
Apa Bahayanya Jika Terjadi Trombositopenia?
Fungsi utama trombosit adalah terlibat dalam pembekuan darah. Jumlahnya yang kurang menjadikan pasien DBD berisiko mengalami perdarahan seperti mimisan, gusi berdarah, dan perdarahan di organ lain.
Apakah hanya itu risikonya? Tentu tidak. Perdarahan yang masif bisa memicu sindrom renjatan (syok) dengue yang berbahaya. Sebenarnya renjatan pada DBD tidak hanya karena trombositopenia saja. Tetapi justru lebih ditentukan oleh adanya faktor aktivitas tentara kita (sel-sel imun) yang berlebihan. Aktivasi berlebihan menghasilkan berbagai substansi yang memicu renjatan. Dokter biasanya mengamati renjatan ini dengan melihat kenaikan hematokrit, bukan penurunan trombosit.
Apakah Hematokrit itu?
Jika kita mengamati darah, pasti yang terlihat oleh mata kita adalah cairan berwarna merah. Darah itu cair karena memang mengandung banyak air, sedangkan warna merah karena keberadaan hemoglobin yang berada di dalam sel darah merah.
Darah yang diambil oleh petugas laboratorium atau perawat akan menjalani serangkaian pemeriksaan. Salah satunya adalah darah dimasukkan ke dalam mesin pemutar dengan kecepatan tinggi. Karena sel darah merah itu berat, maka ia mengumpul di bagian bawah tabung, sedangkan bagian cairnya akan berada di bagian atas. Perbandingan antara bagian padat (sel darah merah) dengan bagian cair disebut dengan hematokrit.
Apakah Hematokrit Bisa Naik dan Turun?
Ya, hasil pemeriksaan hematokrit bisa naik dan bisa turun. Perubahan ini bisa terjadi secara kronis maupun akut. Kenaikan hematokrit kronis misalnya pada pasien kelainan darah merah yang kita sebut polisitemia. Penurunan kronis kita sudah sering mendengar penyakitnya, yaitu anemia.
Adapun kenaikan hematokrit akut bisa terjadi pada pasien dehidrasi, sedangkan yang turun contohnya perdarahan hebat mendadak seperti kecelakaan lalu lintas.
Bagaimana Hasil Pemeriksaan Hematokrit pada Demam Berdarah?
Untuk memahami hal ini mari kita bedah bersama.
Pada DBD terjadi kebocoran pembuluh darah dalam berbagai derajat. Semakin berat DBD maka kebocoran pembuluh darah semakin berat.
Kebocoran pembuluh darah menyebabkan berpindahnya cairan dari pembuluh ke jaringan
Perpindahan ini menyebabkan bagian cairan lebih sedikit dibandingkan dengan bagian sel darah merah
Perubahan perbandingan bagian cair dengan bagian sel, menyebabkan hematokrit meningkat.
Penjelasan tersebut membuat kita paham bahwa pada DBD terjadi peningkatan hematokrit. Peningkatan ini berbanding lurus dengan derajat DBD. Maknanya semakin berat DBD maka hematokrit semakin tinggi.
Waspadai Trombosit dan Hematokrit Sebagai Satu Kesatuan!
Fakta yang ada memberikan pemahaman kepada kita bahwa trombositopenia dan hematokrit pada DBD mencerminkan dua kondisi risiko yang berbeda. Trombositopenia mencerminkan risiko perdarahan sedangkan hematokrit mencerminkan derajat kebocoran plasma yang terkait renjatan.
Kalimat yang paling mudah adalah trombositopenia dan peningkatan hematokrit keduanya sama berbahayanya pada DBD. Untuk keduanya ada kaidah yang sangat penting kita ingat:
"Waspadailah peningkatan hematokrit dan penurunan trombosit yang progresif pada pasien DBD".
