Konten dari Pengguna

Tari Kecak di TMII, Tradisi yang Jadi Magnet baru

Syachru Syifa utami

Syachru Syifa utami

mahasiswa Ilmu Komunikasi, institut bisnis dan komunikasi swadaya

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syachru Syifa utami tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tari Kecak hadir di TMII sebagai magnet baru bagi wisata budaya. (Foto: Dokumentasi pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Tari Kecak hadir di TMII sebagai magnet baru bagi wisata budaya. (Foto: Dokumentasi pribadi)

Taman Mini Indonesia Indah (TMII) kembali jadi sorotan publik setelah revitalisasi. Bukan hanya karena fasilitas modern yang semakin rapi, melainkan juga karena hadirnya pertunjukan Tari Kecak yang berhasil memikat ribuan pengunjung. Tari khas Bali ini dikenal dengan koor “cak, cak, cak” yang menggema serentak dari puluhan penari. Suara bergelombang, gerakan tangan yang kompak, serta kisah Ramayana yang dibawakan membuat suasana terasa magis. Banyak penonton larut dan terkesima, seakan terbawa langsung ke suasana pertunjukan di Bali.

Tari Kecak pertama kali diperkenalkan pada 1930-an di Bali dan kini dikenal sebagai “tarian api” yang mengisahkan epos Ramayana. Uniknya, tari ini tidak menggunakan alat musik sama sekali, melainkan hanya paduan suara penari yang menciptakan harmoni khas. UNESCO telah menetapkan Tari Kecak sebagai salah satu warisan budaya tak benda dunia. Data dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (2023) juga menunjukkan bahwa Tari Kecak termasuk dalam lima atraksi budaya Bali yang paling diminati wisatawan mancanegara. Hadirnya pertunjukan Kecak di TMII memperluas akses masyarakat untuk menikmati tradisi ini tanpa harus terbang jauh ke Pulau Dewata.

Sejak diresmikan kembali pada 2022, TMII mengalami lonjakan pengunjung. Kementerian Sekretariat Negara (2023) mencatat jumlah wisatawan naik hingga 40 persen dibanding sebelum revitalisasi. Salah satu faktor pendorongnya adalah program pertunjukan budaya, termasuk Tari Kecak. Bagi keluarga, pengalaman menonton Kecak bukan sekadar hiburan, melainkan sarana edukasi. Anak-anak dapat mengenal cerita Ramayana, nilai kebersamaan, dan filosofi gotong royong yang tercermin dalam formasi penari.

Hadirnya Kecak di TMII menimbulkan dua pandangan. Ada yang berpendapat bahwa tradisi sebaiknya hanya dipentaskan di daerah asalnya. Namun, ada juga yang melihat langkah ini sebagai inovasi agar seni tradisi bisa lebih dekat dengan masyarakat urban. Saya pribadi menilai, selama pertunjukan tetap menjaga keaslian dan menghormati nilai budaya Bali, kehadiran Kecak di TMII justru langkah strategis. Seni tradisi tidak boleh terkurung, melainkan perlu menjangkau ruang-ruang baru agar bisa terus hidup.

Pertunjukan Kecak di TMII membuktikan bahwa masyarakat Indonesia masih haus akan tontonan berbasis tradisi. Antusiasme penonton menunjukkan bahwa budaya lokal tetap punya tempat istimewa, bahkan di tengah dominasi hiburan modern. Kecak di TMII akhirnya bukan sekadar pertunjukan, melainkan simbol semangat pelestarian budaya. Momentum ini seharusnya dijadikan pintu masuk untuk menampilkan lebih banyak tarian dan musik Nusantara secara rutin. Karena pada akhirnya, budaya adalah identitas, dan identitas itu hanya akan hidup jika terus dirawat.