Konten dari Pengguna

Transformasi BUMN: Mencari Titik Temu antara Laba, Pelayanan, dan Meritokrasi

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syaefunnur Maszah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kantor Danantara Indonesia, super holding BUMN, di Cikini, Menteng, Jakarta Pusat. Foto: Fariza Rizky Ananda/ kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Kantor Danantara Indonesia, super holding BUMN, di Cikini, Menteng, Jakarta Pusat. Foto: Fariza Rizky Ananda/ kumparan

Suatu sore, seorang pengemudi taksi daring bercerita tentang pengalamannya mengantar pegawai sebuah BUMN. Di tengah perjalanan, ia melontarkan pertanyaan sederhana. "Menurut Bapak, BUMN itu sebenarnya perusahaan yang mencari keuntungan atau lembaga yang bertugas membantu rakyat?" Pertanyaan itu mungkin terdengar biasa, tetapi sesungguhnya menyentuh salah satu perdebatan penting dalam pembangunan ekonomi Indonesia.

Di satu sisi, BUMN diharapkan menjadi korporasi yang sehat dan kompetitif. Di sisi lain, masyarakat juga berharap BUMN hadir sebagai instrumen negara untuk menyediakan layanan publik dan mendukung pemerataan pembangunan. Di antara dua harapan tersebut, Indonesia tengah menjalani proses transformasi BUMN yang patut diapresiasi sekaligus terus disempurnakan.

Menjaga Independensi di Tengah Beragam Kepentingan

Transformasi BUMN dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan arah yang cukup jelas. Konsolidasi perusahaan, pembentukan holding, digitalisasi, penguatan tata kelola, hingga pengelolaan aset yang lebih terintegrasi merupakan bagian dari upaya meningkatkan daya saing ekonomi nasional. Kehadiran Badan Pengelola Investasi Danantara juga dapat dipandang sebagai ikhtiar untuk mengoptimalkan pengelolaan aset negara agar memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi pembangunan.

Namun, transformasi sebuah organisasi besar tidak hanya ditentukan oleh perubahan struktur atau kebijakan. Faktor yang tidak kalah penting adalah kemampuan menjaga independensi manajemen agar keputusan bisnis dapat diambil secara profesional, dengan tetap memperhatikan mandat negara.

Dalam perspektif ekonomi kelembagaan, ekonom peraih Nobel Oliver E. Williamson menjelaskan bahwa organisasi yang efektif membutuhkan tata kelola yang mampu meminimalkan biaya transaksi dan konflik kepentingan. Sementara itu, Michael C. Jensen melalui teori agensi mengingatkan bahwa dalam setiap organisasi terdapat potensi perbedaan kepentingan antara pemilik dan pengelola sehingga diperlukan mekanisme pengawasan dan akuntabilitas yang baik.

Dalam konteks BUMN, tantangannya menjadi lebih kompleks. Negara sebagai pemegang saham memiliki tanggung jawab ekonomi sekaligus sosial. Oleh karena itu, yang diperlukan bukan menghilangkan peran negara, melainkan menciptakan keseimbangan yang sehat antara fungsi negara sebagai pemilik, regulator, dan pembuat kebijakan.

Prinsip ini juga sejalan dengan pedoman tata kelola perusahaan milik negara yang dikembangkan oleh OECD, yang menekankan pentingnya pemisahan peran agar perusahaan negara dapat bekerja secara efektif sekaligus tetap akuntabel.

Meritokrasi sebagai Fondasi BUMN Modern

Salah satu ukuran penting keberhasilan transformasi adalah sejauh mana sistem meritokrasi diterapkan dalam pengelolaan BUMN. Meritokrasi bukan berarti mengabaikan pertimbangan strategis pemerintah, melainkan memastikan bahwa setiap posisi kepemimpinan diisi oleh individu yang memiliki kompetensi, integritas, pengalaman, dan rekam jejak yang memadai.

Dalam praktiknya, hampir semua negara menghadapi tantangan serupa. Pemerintah sebagai pemilik perusahaan negara tentu memiliki hak menentukan arah kebijakan dan memilih pimpinan perusahaan. Namun, pengalaman berbagai negara menunjukkan bahwa tata kelola yang baik cenderung lahir ketika proses seleksi dilakukan secara transparan dan berbasis kompetensi.

Singapura sering dijadikan contoh bagaimana perusahaan-perusahaan negara dapat berkembang menjadi pemain global melalui tata kelola profesional. Temasek Holdings mengelola portofolio investasinya dengan pendekatan bisnis jangka panjang dan sistem evaluasi yang ketat.

Malaysia juga melakukan berbagai pembenahan melalui Khazanah Nasional dengan memperkuat tata kelola dan orientasi investasi yang berkelanjutan.

Sebaliknya, pengalaman beberapa perusahaan negara di Amerika Latin maupun Afrika menunjukkan bahwa pergantian manajemen yang terlalu sering, intervensi operasional, dan ketidakjelasan tujuan perusahaan dapat mengurangi daya saing dan efisiensi.

Pelajaran yang dapat diambil bukanlah bahwa satu model lebih baik daripada model lainnya, melainkan bahwa keberhasilan perusahaan negara sangat dipengaruhi oleh konsistensi tata kelola, kepastian arah kebijakan, dan kualitas sumber daya manusia yang mengelolanya.

Menyeimbangkan Pelayanan Publik dan Kinerja Bisnis

Perdebatan mengenai BUMN sering kali bermuara pada satu pertanyaan mendasar: apakah BUMN harus memprioritaskan keuntungan atau pelayanan publik

Jawabannya mungkin tidak sesederhana memilih salah satu. Sebagai perusahaan milik negara, BUMN memang diharapkan menghasilkan keuntungan agar dapat memberikan dividen kepada negara, memperkuat investasi, dan mendukung pertumbuhan ekonomi.

Namun, pada saat yang sama, BUMN juga memiliki tanggung jawab strategis yang tidak selalu dapat diukur dengan pendekatan bisnis semata. Penyediaan energi, transportasi, pembiayaan usaha kecil, pembangunan infrastruktur, hingga layanan di wilayah yang secara komersial kurang menarik merupakan bagian dari kontribusi BUMN terhadap pembangunan nasional.

Karena itu, banyak negara mengembangkan konsep Public Service Obligation atau PSO. Melalui mekanisme ini, tugas pelayanan publik diberikan secara jelas dan pembiayaannya dilakukan secara transparan sehingga tidak mengaburkan penilaian terhadap kinerja bisnis perusahaan.

Pendekatan semacam ini membantu menciptakan keseimbangan antara misi sosial dan keberlanjutan usaha. BUMN tidak dipaksa memilih antara melayani masyarakat atau mencari keuntungan, tetapi didorong untuk menjalankan keduanya secara proporsional dan terukur.

Dalam konteks Indonesia, keseimbangan tersebut menjadi semakin penting mengingat peran strategis BUMN sebagai penggerak pembangunan nasional sekaligus pelaku ekonomi yang harus mampu bersaing di tingkat regional dan global.

Mengukur Keberhasilan Transformasi BUMN

Selanjutnya, keberhasilan transformasi BUMN tidak semestinya diukur hanya dari besarnya laba atau dividen yang disetor kepada negara. Ukuran tersebut memang penting karena mencerminkan kesehatan finansial perusahaan. Namun, keberhasilan transformasi memiliki dimensi yang lebih luas.

Kualitas pelayanan kepada masyarakat, kemampuan berinovasi, tingkat kepuasan pelanggan, kontribusi terhadap pembangunan daerah, penciptaan lapangan kerja, penguatan industri nasional, penerapan tata kelola yang baik, serta daya saing di pasar internasional juga merupakan indikator yang tidak kalah penting.

Demikian pula dengan upaya pengelolaan aset negara yang lebih terintegrasi melalui berbagai kebijakan baru, termasuk pembentukan Danantara. Keberhasilannya kelak tidak hanya ditentukan oleh besarnya aset yang dikelola atau investasi yang dihimpun, tetapi juga oleh kemampuan menciptakan nilai ekonomi jangka panjang dengan tetap menjunjung prinsip transparansi, profesionalisme, dan akuntabilitas.

Transformasi BUMN pada hakikatnya adalah sebuah proses panjang. Tidak ada model yang sepenuhnya sempurna, karena setiap negara memiliki karakteristik ekonomi, politik, dan sosial yang berbeda. Yang terpenting adalah terus membangun sistem yang mampu menjaga keseimbangan antara kepentingan bisnis, pelayanan publik, dan tata kelola yang sehat.

Ujungnya, BUMN yang kuat bukanlah BUMN yang semata-mata mengejar laba, juga bukan BUMN yang sepenuhnya menjadi instrumen kebijakan jangka pendek. BUMN yang kuat adalah BUMN yang mampu menghadirkan manfaat ekonomi dan sosial secara berkelanjutan, dikelola oleh sumber daya manusia yang kompeten, bekerja dengan prinsip meritokrasi, serta tetap berpijak pada tujuan utama pembentukannya, yakni memberikan sebesar-besar kemakmuran bagi masyarakat dan mendukung pembangunan nasional.

Transformasi BUMN, dengan demikian, bukan sekadar tentang mengubah struktur organisasi atau memperbesar aset yang dikelola. Transformasi yang sesungguhnya adalah membangun kepercayaan publik bahwa perusahaan milik negara dapat tumbuh sebagai korporasi yang profesional, melayani kepentingan masyarakat, dan menjadi salah satu fondasi penting bagi kemajuan ekonomi Indonesia di masa depan.