Active Trust: Jalan Resiliensi dalam Islam

Sr Human Capital Strategist, Sekjen Parsindo, Wk Ketua Peradi
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Syaefunnur Maszah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Suatu sore, seorang ayah pulang lebih awal dari biasanya. Bukan karena pekerjaannya berakhir, melainkan karena penghasilannya beberapa bulan terakhir terus menurun. Proyek yang biasanya datang silih berganti mulai sepi. Tabungan perlahan menipis, sementara biaya sekolah anak, cicilan rumah, dan kebutuhan sehari-hari tetap berjalan.
Ia tidak mengeluh kepada keluarga, tetapi mengajak istri menyusun ulang anggaran, mengurangi pengeluaran yang tidak mendesak, sekaligus mencari peluang usaha sampingan. Setiap selesai salat, ia memanjatkan doa agar Allah melapangkan rezeki. Baginya, kesulitan ekonomi bukan alasan untuk berhenti berusaha, melainkan momentum memperbaiki ikhtiar dan memperkuat tawakal.
Kisah seperti ini jauh lebih dekat dengan realitas masyarakat saat ini. Banyak keluarga tidak kehilangan pekerjaan, tetapi mengalami shortage of income akibat perlambatan ekonomi, perubahan dunia usaha, maupun disrupsi teknologi.
Tawakal: Active Trust yang Berakar pada Akidah
Dalam literatur Islam klasik, tawakal bukanlah sikap menyerahkan nasib tanpa usaha. Tawakal adalah active trust, yaitu kepercayaan penuh kepada Allah setelah mengerahkan seluruh ikhtiar yang berada dalam kemampuan manusia. Karena itu, tawakal selalu berdiri bersama ikhtiar dan sabar sebagai satu kesatuan nilai.
Landasan utamanya terdapat dalam firman Allah SWT:
«"...Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang bertawakal." (QS. Ali 'Imran [3]: 159).»
Ayat ini menarik ditinjau dari aspek nahwu dan sharaf. Frasa فَإِذَا عَزَمْتَ (fa idzā 'azamta) menggunakan fi'il māḍī (kata kerja lampau) yang secara balaghah menunjukkan ketegasan keputusan setelah melalui proses pertimbangan. Setelah itu baru muncul kalimat فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ (fa tawakkal 'alallāh), berupa fi'il amr (kata kerja perintah) dari akar kata و-ك-ل (wa-ka-la) yang bermakna menyerahkan urusan kepada pihak yang paling mampu menjaganya. Urutan gramatikal tersebut menunjukkan bahwa perintah bertawakal datang setelah adanya tekad dan tindakan, bukan sebelumnya. Dengan kata lain, Al-Quran menempatkan usaha sebagai prasyarat spiritual sebelum seseorang menyerahkan hasil kepada Allah.
Prinsip yang sama ditegaskan Rasulullah SAW ketika seorang sahabat bertanya apakah untanya dilepas saja sambil bertawakal. Beliau menjawab:
«"Ikatlah untamu, kemudian bertawakallah."
(HR. At-Tirmidzi).»
Hadis ini menjadi kaidah universal bahwa ikhtiar dan tawakal bukan dua pilihan yang saling menggantikan, melainkan dua tahapan yang saling menyempurnakan.
Islam dan Growth Mindset: Resiliensi yang Berbasis Harapan
Psikolog Stanford University, Carol S. Dweck, melalui teori Growth Mindset, menjelaskan bahwa kemampuan manusia bukan sesuatu yang tetap, melainkan dapat berkembang melalui latihan, pembelajaran, dan ketekunan. Cara pandang ini terbukti meningkatkan motivasi, kemampuan bangkit dari kegagalan, serta keberanian menghadapi tantangan.
Nilai tersebut memiliki titik temu yang kuat dengan ajaran Islam. Ikhtiar mendorong manusia terus meningkatkan kapasitasnya. Sabar menjaga konsistensi ketika hasil belum tampak. Tawakal melahirkan ketenangan karena seorang muslim memahami bahwa hasil akhir berada dalam ilmu dan kehendak Allah.
Dari perspektif sains, konsep ini dikenal sebagai life resilience, yakni kemampuan seseorang untuk beradaptasi dan bangkit setelah mengalami tekanan hidup. American Psychological Association (APA) menjelaskan bahwa resiliensi bukan bakat bawaan, melainkan kemampuan yang dapat dipelajari dan dikembangkan. Sementara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa depresi dan gangguan kecemasan memengaruhi lebih dari 300 juta penduduk dunia dan menjadi salah satu penyebab utama menurunnya produktivitas.
Pada saat yang sama, laporan International Labour Organization (ILO) menunjukkan bahwa perubahan struktur pekerjaan akibat digitalisasi dan otomatisasi menuntut pekerja untuk terus belajar ulang (reskilling) dan meningkatkan kompetensi (upskilling). Tantangan masa depan bukan sekadar mencari pekerjaan, melainkan mempertahankan daya adaptasi.
Sabar sebagai Kekuatan Mengelola Krisis
Ulama besar Ibn Qayyim al-Jawziyyah menjelaskan bahwa sabar merupakan separuh dari keimanan karena menjadi penopang seseorang dalam menghadapi ujian sekaligus menjaga ketaatan. Dalam perspektif psikologi modern, kemampuan mengendalikan emosi merupakan salah satu indikator utama resiliensi.
Karena itu, sabar bukan berarti diam atau menunggu keajaiban. Sabar adalah kemampuan menjaga arah ketika kondisi ekonomi sedang sulit, usaha mengalami penurunan, atau penghasilan tidak lagi mencukupi kebutuhan. Orang yang sabar tetap berpikir jernih, mengevaluasi strategi, memperbaiki kompetensi, memperluas jejaring, dan tidak kehilangan optimisme.
Nilai ini sejalan dengan firman Allah SWT:
«"Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan." (QS. Al-Insyirah [94]: 6).»
Pengulangan ayat tersebut menegaskan bahwa kesulitan bukan keadaan yang abadi. Dalam ilmu tafsir, pengulangan menjadi bentuk ta'kīd (penegasan) untuk menguatkan keyakinan orang beriman agar tidak mudah berputus asa.
Learning Point: Active Trust Melahirkan Ketangguhan
Perubahan ekonomi global memperlihatkan bahwa stabilitas penghasilan tidak lagi dapat dianggap sebagai sesuatu yang permanen. Di tengah situasi tersebut, Islam menawarkan kerangka yang utuh untuk membangun life resilience. Ikhtiar mengembangkan kompetensi, growth mindset menumbuhkan keyakinan bahwa manusia selalu dapat belajar, sabar menjaga kestabilan emosi, sedangkan tawakal menghadirkan ketenangan karena hasil akhir bukan sepenuhnya berada dalam kendali manusia.
Inilah yang membedakan tawakal dari sikap pasrah. Pasrah menghentikan usaha sebelum perjuangan dimulai. Tawakal justru menggerakkan manusia untuk bekerja lebih baik, belajar lebih keras, dan berdoa lebih khusyuk tanpa diperbudak rasa takut terhadap hasil.
Di tengah ketidakpastian ekonomi, shortage of income, dan perubahan dunia kerja yang semakin cepat, perpaduan antara nilai-nilai Islam dan temuan sains modern menunjukkan bahwa ketangguhan lahir bukan dari hidup yang tanpa ujian, melainkan dari kemampuan memadukan ikhtiar, sabar, dan tawakal dalam setiap langkah kehidupan. Nilai-nilai tersebut menjadikan seorang muslim tidak hanya mampu bertahan menghadapi krisis, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang lebih matang, adaptif, dan penuh harapan.
