Konten dari Pengguna

China di Tengah Api Hormuz: Seni Hedging di Antara Trump dan Iran

Syaefunnur Maszah

Syaefunnur Maszah

Sr Human Capital Strategist, Sekjen Parsindo, Wk Ketua Peradi DPC

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syaefunnur Maszah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi bendera China. Foto: Dominic Kurniawan Suryaputra/Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi bendera China. Foto: Dominic Kurniawan Suryaputra/Unsplash

Ketika eskalasi di Selat Hormuz kembali memanas, dunia tidak hanya menyaksikan konfrontasi antara Amerika Serikat dan Iran, tetapi juga pergerakan halus aktor besar lain yang memilih jalur senyap, tapi strategis: China. Dalam lanskap konflik yang sarat tekanan militer, ekonomi, dan simbolik, Beijing tampak tidak tergesa memilih kubu. Ia justru memainkan permainan yang lebih tua dari perang itu sendiri—mengelola ketidakpastian demi keuntungan maksimal.

Seperti yang saya ikuti di The New York Times—dalam artikel “China Seeks an Advantage With Both Trump and Iran as War Evolves” oleh Edward Wong (3 Mei 2026)—tergambar jelas bagaimana China mendorong Iran untuk tetap membuka jalur negosiasi dengan Amerika Serikat, sambil pada saat yang sama membiarkan perusahaan-perusahaannya menopang kebutuhan komersial Iran—yang secara implisit dapat memperkuat daya tahan militernya. Ini bukan kontradiksi, melainkan strategi.

Pada saat bersamaan, dilaporkan Al Jazeera melalui laporan langsung “Iran war live: US warship attacked with missiles in Hormuz by Iran’s navy” (4 Mei 2026), ketegangan militer meningkat signifikan. Serangan rudal terhadap kapal perang AS dan respons keras Iran menunjukkan bahwa konflik berada dalam fase yang mudah meledak. Narasi ini memperlihatkan konteks tekanan yang menjadi latar bagi kalkulasi China.

Sementara itu, Press TV Iran dalam artikel “Iran’s military vows to target any foreign forces approaching Strait of Hormuz” (4 Mei 2026) menegaskan sikap keras Teheran, termasuk ancaman langsung terhadap kekuatan asing yang mendekati wilayah strategis tersebut. Pernyataan Mayor Jenderal Ali Abdollahi memperlihatkan bahwa Iran tidak sekadar bertahan, tetapi juga ingin mengontrol arsitektur keamanan regional.

Hedging Strategy: Rasionalitas di Tengah Ketidakpastian

Ilustrasi politik. Foto: Shutterstock

Strategi hedging yang dijalankan China bukanlah tanda kebimbangan, melainkan bentuk rasionalitas tingkat tinggi dalam politik internasional. Dalam perspektif realisme—terutama yang dapat ditarik dari pemikiran Thomas Hobbes—dunia internasional adalah arena anarki, tanpa otoritas tertinggi, di mana setiap negara berusaha memastikan kelangsungan dan keunggulannya sendiri.

China membaca konflik ini bukan sekadar sebagai perang antara dua aktor, melainkan juga sebagai peluang distribusi ulang kekuatan global. Dengan tidak mengikat diri secara penuh pada salah satu pihak, Beijing menjaga fleksibilitas strategis. Ia mendorong negosiasi agar konflik tidak berkembang menjadi perang total yang dapat mengganggu stabilitas ekonomi global—yang juga menjadi tulang punggung pertumbuhan China. Namun di sisi lain, ia tetap membuka jalur dukungan ekonomi kepada Iran, memastikan bahwa Teheran tidak runtuh dan tetap menjadi variabel penyeimbang terhadap dominasi Amerika.

Hedging di sini berfungsi sebagai “asuransi geopolitik”—China menghindari risiko kehilangan dari kedua sisi, sambil menyiapkan diri untuk meraih keuntungan dari siapa pun yang keluar sebagai pemenang atau bahkan dari situasi kebuntuan.

China–Iran: Mutual Benefit dalam Bayang-Bayang Sanksi

Ilustrasi membangun relasi. Foto: peoplemages/Shutterstock

Relasi China dan Iran dalam konteks ini menunjukkan pola mutual benefit yang tidak selalu eksplisit, tetapi sangat fungsional. Iran membutuhkan akses terhadap pasar, teknologi, dan dukungan ekonomi untuk bertahan di bawah tekanan militer dan sanksi. China, di sisi lain, melihat Iran sebagai mitra strategis dalam memastikan keamanan energi dan memperluas pengaruhnya di kawasan Timur Tengah.

Dukungan komersial yang diberikan perusahaan China kepada Iran—sebagaimana disinggung dalam laporan The New York Times—bukan hanya soal bisnis, melainkan juga bagian dari strategi jangka panjang untuk membangun ketergantungan struktural. Dalam kondisi perang, ketergantungan ini menjadi semakin dalam, karena opsi Iran semakin terbatas.

Di titik ini, China tidak perlu terlibat langsung dalam konflik militer. Ia cukup memainkan peran sebagai “penopang diam-diam” yang menjaga agar Iran tetap berdiri. Dengan demikian, Iran tetap menjadi aktor yang mampu menahan tekanan Amerika, sementara China memperoleh leverage tambahan dalam percaturan global.

Trump, Hormuz, dan Perang Narasi

Presiden AS Donald Trump memberikan keterangan pers menyusul insiden penembakan selama makan malam tahunan Asosiasi Koresponden Gedung Putih di Washington, D.C., AS, Sabtu (25/4/2026). Foto: Jonathan Ernst/REUTERS

Langkah Donald Trump yang menggagas misi “Project Freedom” untuk membuka jalur Selat Hormuz mencerminkan pendekatan klasik kekuatan besar: mengamankan jalur perdagangan global dengan proyeksi militer. Namun respons Iran—baik dalam laporan Al Jazeera maupun Press TV—menunjukkan bahwa dominasi semacam itu tidak lagi dapat diterima tanpa perlawanan.

Di sinilah China kembali mengambil posisi unik. Ia tidak menantang Amerika secara langsung, tetapi juga tidak mendukung penuh langkah Washington. Sebaliknya, Beijing memanfaatkan situasi ini untuk memperkuat narasi alternatif: bahwa stabilitas global tidak harus bergantung pada dominasi satu kekuatan tunggal.

Perang yang terjadi bukan hanya perang militer, melainkan juga perang narasi—tentang siapa yang berhak mengatur jalur perdagangan, siapa yang menjadi penjaga stabilitas, dan siapa yang sebenarnya mengancamnya. China memainkan peran sebagai aktor yang tampak netral, tetapi sesungguhnya sedang menulis ulang aturan main secara perlahan.

Ilustrasi Selat Hormuz. Foto: DIA TV/Shutterstock

Dalam lanskap yang semakin kompleks, strategi China mencerminkan evolusi baru dalam politik kekuatan global. Ia tidak lagi mengandalkan konfrontasi langsung, tetapi kombinasi antara ekonomi, diplomasi, dan kalkulasi risiko yang presisi.

Konflik Iran–Amerika menjadi panggung di mana Beijing mengasah kemampuannya sebagai pemain utama dunia—tanpa harus menembakkan satu peluru pun.