Dari Figur Otoritas ke Sahabat Cucu: Wajah Baru Kakek Kontemporer

Sr Human Capital Strategist, Sekjen Parsindo, Wk Ketua Peradi DPC
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Syaefunnur Maszah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Betapa senangnya saya bisa bermain dengan Tatja, usia dua tahun, cucu pertama dari anakku pertama dan Kaecetta, jelang usia satu tahun, cucu dari anakku ke dua. Ada kebahagiaan yang sulit dijelaskan ketika seorang kakek menyaksikan tumbuhnya generasi baru, bukan hanya sebagai penerus biologis, tetapi sebagai ruang hidup bagi nilai, kasih sayang, dan makna keberadaan keluarga itu sendiri. Sentuhan kecil, tawa sederhana, dan interaksi sehari-hari ternyata menjadi bahasa yang paling kuat dalam membangun kedekatan lintas generasi.
Di tengah perubahan sosial yang cepat, keluarga tidak lagi berdiri dalam pola lama yang kaku. Peran ayah dan kakek mengalami transformasi yang cukup mendasar. Dari yang sebelumnya cenderung berjarak dan berfungsi simbolik, kini bergerak menuju keterlibatan aktif, emosional, dan partisipatif. Pergeseran ini bukan sekadar tren, tetapi refleksi dari kebutuhan psikologis anak dan kesadaran baru tentang pentingnya relasi sejak dini.
Pergeseran Makna Kehadiran dalam Keluarga
Dalam banyak budaya tradisional, kakek sering ditempatkan sebagai figur otoritas yang dihormati, tetapi tidak selalu dekat secara emosional. Kehadirannya lebih banyak terasa dalam nasihat dan keputusan, bukan dalam interaksi sehari-hari dengan anak kecil. Namun, realitas kontemporer menunjukkan bahwa anak-anak membutuhkan lebih dari sekadar figur simbolik; mereka membutuhkan kehadiran nyata.
Kehadiran ini bukan hanya soal fisik, tetapi juga keterlibatan emosional. Ketika seorang kakek bersedia bermain, mendengarkan, atau sekadar menemani cucunya, ia sedang membangun fondasi kepercayaan dan rasa aman. Dalam psikologi perkembangan, fase awal kehidupan anak adalah periode krusial untuk pembentukan ikatan (attachment). Relasi yang hangat di fase ini akan membentuk karakter, empati, dan rasa percaya diri anak di masa depan.
Contoh nyata bisa dilihat dalam banyak keluarga urban saat ini, di mana kakek tidak lagi sekadar duduk di ruang tamu, tetapi ikut mengantar cucu ke taman, membacakan cerita, atau bahkan belajar menggunakan teknologi agar bisa terhubung dengan cucunya. Ini adalah bentuk adaptasi yang menunjukkan bahwa peran keluarga bersifat dinamis.
Nilai Universal dalam Relasi Antar Generasi
Jika ditarik ke nilai universal, hampir semua peradaban menempatkan keluarga sebagai unit dasar pembentukan manusia. Kasih sayang, perhatian, dan tanggung jawab lintas generasi adalah nilai yang melampaui batas budaya dan agama. Interaksi antara kakek dan cucu bukan sekadar aktivitas sosial, tetapi proses pewarisan nilai kemanusiaan.
Ibnu Khaldun dalam karya monumentalnya Muqaddimah menekankan pentingnya lingkungan sosial dalam membentuk kepribadian manusia. Keluarga menjadi ruang pertama di mana nilai-nilai itu ditanamkan. Dalam konteks ini, kakek memiliki peran sebagai penghubung antara masa lalu dan masa depan, antara pengalaman dan harapan.
Di sisi lain, Urie Bronfenbrenner melalui teori ekologi perkembangan manusia dalam The Ecology of Human Development menjelaskan bahwa perkembangan anak dipengaruhi oleh berbagai lapisan lingkungan, termasuk keluarga besar. Kehadiran kakek sebagai bagian dari “microsystem” memberikan kontribusi nyata terhadap stabilitas emosional anak.
Nilai-nilai ini menunjukkan bahwa keterlibatan kakek bukan sekadar pilihan gaya hidup, tetapi bagian dari kebutuhan dasar dalam membangun manusia yang utuh.
Ketegangan antara Preferensi Pribadi dan Tuntutan Zaman
Dalam artikel The Washington Post berjudul “Asking Eric: Grandfather doesn’t want to hold grandbabies” karya R. Eric Thomas (6 Mei 2026), digambarkan seorang kakek yang secara jujur mengakui bahwa ia tidak nyaman berinteraksi dengan bayi dan memilih menunggu hingga cucunya lebih besar untuk membangun hubungan. Pandangan ini mencerminkan preferensi pribadi yang sebenarnya tidak jarang ditemui, terutama pada generasi yang tumbuh dengan pola pengasuhan yang berbeda.
Namun, respons terhadap kasus tersebut menunjukkan adanya perubahan ekspektasi sosial. Banyak yang menilai bahwa keterlibatan sejak dini adalah bagian penting dari relasi keluarga modern. Di sinilah muncul ketegangan antara kenyamanan individu dan tuntutan relasi.
Jika ditarik ke refleksi yang lebih luas, preferensi pribadi memang perlu dihargai, tetapi dalam konteks keluarga, ada dimensi tanggung jawab yang tidak bisa diabaikan. Interaksi dengan cucu bukan hanya soal kesukaan, tetapi juga tentang membangun jembatan emosional yang akan menentukan kualitas hubungan di masa depan.
Dalam kerangka nilai klasik, pemikir seperti Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulum al-Din mengingatkan bahwa hati manusia, terutama anak-anak, sangat dipengaruhi oleh lingkungan terdekatnya. Sentuhan kasih sayang sejak dini akan membentuk kecenderungan jiwa yang positif. Perspektif ini memperkuat argumen bahwa keterlibatan awal memiliki dampak jangka panjang.
Kakek sebagai Sumber Makna di Era Digital
Di era digital, anak-anak tumbuh dalam dunia yang sangat berbeda dari generasi sebelumnya. Informasi begitu cepat, interaksi sering kali dimediasi oleh layar, dan relasi sosial mengalami pergeseran. Dalam situasi ini, kehadiran kakek yang aktif dapat menjadi penyeimbang yang penting.
Kakek dapat menghadirkan dimensi manusiawi yang tidak tergantikan oleh teknologi: sentuhan, cerita, pengalaman hidup, dan kebijaksanaan. Ketika seorang kakek duduk bersama cucunya, bercerita tentang masa lalu, atau sekadar menemani bermain tanpa distraksi digital, ia sedang menghadirkan ruang keheningan yang penuh makna.
Banyak keluarga kini mulai menyadari pentingnya hal ini. Ada kakek yang belajar menggunakan video call agar tetap terhubung dengan cucunya yang tinggal jauh, ada yang aktif dalam kegiatan sekolah cucu, bahkan ada yang menjadi “teman bermain” yang setia. Ini bukan sekadar perubahan peran, tetapi transformasi identitas.
Peran ini juga menjadi semakin relevan ketika orang tua menghadapi tekanan pekerjaan dan kehidupan modern. Kakek yang hadir secara aktif dapat menjadi sumber dukungan emosional, tidak hanya bagi cucu, tetapi juga bagi orang tua mereka.
Menemukan Keseimbangan Baru dalam Relasi Keluarga
Transformasi peran ayah dan kakek dalam keluarga modern bukan berarti menghapus tradisi, tetapi menyesuaikannya dengan kebutuhan zaman. Nilai-nilai universal seperti kasih sayang, tanggung jawab, dan kedekatan tetap menjadi fondasi, tetapi cara mengekspresikannya mengalami perubahan.
Kakek yang dahulu mungkin merasa cukup dengan menjadi figur yang dihormati, kini dihadapkan pada kebutuhan untuk menjadi figur yang dirasakan. Dari jarak menuju kedekatan, dari simbol menuju relasi, dari kehadiran pasif menuju keterlibatan aktif.
Dalam ruang keluarga yang terus berubah, satu hal tetap konstan: anak-anak membutuhkan cinta yang nyata. Dan cinta itu, sering kali, hadir dalam bentuk paling sederhana—waktu yang diberikan, perhatian yang tulus, dan kesediaan untuk hadir sejak awal kehidupan mereka.
