Konten dari Pengguna

Dunia Makin Gerah dengan Sikap Netanyahu?

Syaefunnur Maszah

Syaefunnur Maszah

Sr Human Capital Strategist, Sekjen Parsindo, Wk Ketua Peradi DPC

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syaefunnur Maszah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Demonstrasi dukung kemerdekaan Palestina (Foto: Merch HÜSEY, under the Unsplash License)
zoom-in-whitePerbesar
Demonstrasi dukung kemerdekaan Palestina (Foto: Merch HÜSEY, under the Unsplash License)

Gelombang kritik terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terus membesar di berbagai belahan dunia. Negara-negara yang sebelumnya cenderung hati-hati kini mulai bersuara keras, menuding kebijakan Israel di Gaza sudah melampaui batas kemanusiaan. Dari Eropa hingga Pasifik, pernyataan resmi para pemimpin dunia kian tegas, menandakan ketidaksabaran internasional terhadap tindakan yang dianggap menyalahi prinsip hukum internasional.

Salah satu suara paling lantang datang dari Selandia Baru. Negeri di ujung selatan Pasifik itu, yang selama ini dikenal moderat dalam isu Timur Tengah, secara terbuka menyatakan penyesalan dan kemarahan terhadap kebijakan Netanyahu. Nada bicara yang biasanya diplomatis kini bergeser menjadi kritik langsung, memperlihatkan bahwa kesabaran negara-negara sahabat Israel mulai menipis.

Dalam pemberitaan The Jakarta Post berjudul: New Zealand prime minister says Netanyahu has 'lost the plot', Reuters, Wellington, Selandia Baru – Rabu, 13 Agustus 2025, Perdana Menteri Christopher Luxon mengatakan bahwa kurangnya bantuan kemanusiaan, pengusiran paksa warga Gaza, dan upaya aneksasi wilayah adalah “benar-benar mengerikan”. Ia bahkan menyebut Netanyahu telah “kehilangan arah”, suatu ungkapan yang jarang sekali keluar dari pemimpin negara sahabat Barat terhadap Israel.

Pernyataan Luxon tidak datang dari ruang hampa. Sebelumnya, Australia, Kanada, Inggris, dan Prancis telah mengumumkan akan mengakui negara Palestina pada konferensi PBB September mendatang. Langkah ini merupakan sinyal kuat bahwa dunia mulai menggeser pendekatan diplomasi dari sekadar mengimbau, menjadi memberikan legitimasi langsung kepada Palestina.

Bagi gerakan pro-Palestina, perkembangan ini adalah angin segar. Selama puluhan tahun, dukungan terhadap Palestina sering terkendala oleh kepentingan politik dan ekonomi negara-negara besar. Namun, ketika tindakan Israel di Gaza mencapai titik yang dianggap “tak terbayangkan” secara kemanusiaan, kalkulasi politik itu mulai berubah.

Sikap tegas Selandia Baru juga membawa pesan simbolis: bahwa negara kecil pun bisa mempengaruhi percaturan diplomasi global jika berbicara dengan moralitas dan konsistensi. Pernyataan Luxon memicu diskusi di parlemen, unjuk rasa di jalan, bahkan menguji kesetiaan koalisi pemerintahannya terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang mereka junjung.

Bagi Netanyahu, kritik terbuka seperti ini adalah pukulan ganda. Pertama, karena datang dari negara-negara yang sebelumnya tidak terlalu konfrontatif. Kedua, karena memberi ruang bagi negara-negara lain yang masih ragu untuk ikut bersuara lantang tanpa takut dianggap memusuhi Israel.

Di mata negara-negara dunia, krisis Gaza kini bukan sekadar isu geopolitik, tetapi telah menjadi ujian kredibilitas terhadap komitmen mereka pada hukum humaniter internasional. Semakin banyak negara yang menyuarakan kecaman, semakin besar pula tekanan bagi Dewan Keamanan PBB untuk mengambil langkah konkret.

Pengakuan terhadap negara Palestina, jika semakin meluas, akan menjadi tantangan besar bagi Israel. Tidak hanya mengikis klaim Israel atas wilayah-wilayah tertentu, tetapi juga memperkuat posisi Palestina di forum internasional. Dalam jangka panjang, ini bisa mengubah peta diplomasi Timur Tengah secara signifikan.

Proses ini memang tidak akan instan. Israel memiliki dukungan kuat dari sekutu utamanya, terutama Amerika Serikat. Namun, jika opini publik global terus menguat di pihak Palestina, bahkan Washington akan kesulitan mengabaikan perubahan arus ini.

Pernyataan seperti yang diucapkan Luxon juga memberi keberanian bagi aktivis dan parlemen di negara lain untuk mendorong kebijakan yang lebih progresif. Misalnya, wacana pemberian sanksi atau pembatasan kerja sama militer terhadap Israel mulai mendapat ruang diskusi yang lebih luas di Eropa dan Asia.

Dalam konteks perjuangan kemerdekaan Palestina, semakin banyaknya negara yang bersuara keras adalah modal diplomasi yang sangat berharga. Setiap pengakuan baru akan mempersempit ruang gerak diplomasi Israel dan meningkatkan legitimasi perjuangan rakyat Palestina.

Bagi masyarakat internasional, inilah saatnya membuktikan bahwa nilai kemanusiaan lebih tinggi dari kalkulasi politik sesaat. Sikap berani Selandia Baru, Australia, Kanada, Inggris, dan Prancis membuka jalan bagi babak baru diplomasi pro-Palestina.

Jika tren ini terus berkembang, bukan mustahil dalam beberapa tahun mendatang, peta pengakuan internasional terhadap Palestina akan bergeser drastis. Netanyahu boleh saja mengabaikan kritik hari ini, tetapi sejarah akan mencatat bahwa semakin keras ia menekan Gaza, semakin banyak negara yang justru berbalik menentangnya.