Konten dari Pengguna

Dunia untuk Akhirat, Bukan untuk Dilupakan

Syaefunnur Maszah

Syaefunnur Maszah

Sr Human Capital Strategist, Sekjen Parsindo, Wk Ketua Peradi DPC

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syaefunnur Maszah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi kemegahan masjid harus diikuti dengan karya peradaban seperti sains dan teknologi. (Foto: Alessa Ciraulo. Unsplash)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kemegahan masjid harus diikuti dengan karya peradaban seperti sains dan teknologi. (Foto: Alessa Ciraulo. Unsplash)

“Ngapain terlalu sibuk urusan dunia? Yang penting ibadah, nanti dunia ikut sendiri.”

Kalimat itu pernah saya dengar dari seorang kenalan seusai salat berjamaah di sebuah masjid kampung. Ia rajin ke masjid, hampir mayoritas waktunya dipakai untuk zikir dan mengikuti majelis taklim, atau ibadah mahdhah.

Saya salut dan menghormati semangat ibadahnya. Tetapi di dalam hati muncul pertanyaan: apakah Islam memang mengajarkan umatnya meninggalkan urusan dunia? Bukankah Nabi Muhammad ﷺ sendiri berdagang, mengatur masyarakat, membangun ekonomi, memimpin umat, bahkan menata strategi perang dan diplomasi? Kalau Islam hanya bicara akhirat, mengapa Al-Qur’an juga membahas perdagangan, warisan, pertanian, keadilan sosial, hingga tata kelola publik?

Dari situlah saya memahami bahwa Islam sesungguhnya tidak mengajarkan ekstremitas. Tidak tenggelam total dalam dunia hingga melupakan Allah, tetapi juga tidak lari dari dunia dengan alasan mengejar akhirat. Islam justru mengajarkan keseimbangan: dunia sebagai jalan, akhirat sebagai tujuan.

Islam Menolak Ekstrem Dunia maupun Ekstrem Akhirat

Salah satu ayat paling terkenal tentang keseimbangan hidup terdapat dalam Surah Al-Qashash ayat 77:

“Wabtaghi fīmā ātākallāhud-dāral-ākhirah wa lā tansa nashībaka minad-dunyā.”

“Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah engkau melupakan bagianmu di dunia.”

Secara nahwu, frasa “lā tansa” adalah fi‘il mudhāri‘ majzum karena didahului lā an-nāhiyah (larangan). Artinya bukan sekadar anjuran ringan, tetapi larangan keras agar manusia tidak melupakan urusan dunia. Sedangkan kata “nashīb” berarti bagian yang wajar dan proporsional.

Dalam kitab tafsir klasik Imam Al-Qurthubi melalui karya Al-Jāmi‘ li Ahkām al-Qur’an, dijelaskan bahwa ayat ini adalah bantahan terhadap dua kelompok: mereka yang tenggelam dalam syahwat dunia dan mereka yang meninggalkan dunia secara total seperti rahbaniyyah ekstrem.

Hal yang sama ditegaskan dalam hadis Nabi ﷺ ketika ada sahabat yang ingin terus berpuasa tanpa berbuka, salat malam tanpa tidur, dan menjauhi pernikahan. Nabi bersabda:

“Aku berpuasa dan berbuka, aku salat dan tidur, dan aku menikahi perempuan. Barang siapa membenci sunnahku maka bukan dari golonganku.”

Dalam syarah hadis klasik karya Imam An-Nawawi, dijelaskan bahwa Islam melarang ghuluw atau sikap berlebihan dalam agama karena dapat merusak fitrah manusia dan menimbulkan ketimpangan sosial.

Secara sharaf, kata “ghuluw” berasal dari akar kata ghalā–yaghlū yang bermakna melampaui batas. Maka ekstremitas, bahkan dalam ibadah, tetap dianggap penyimpangan bila menghilangkan keseimbangan hidup.

Peradaban Besar Lahir dari Keseimbangan Ilmu dan Iman

Sejarah membuktikan bahwa kejayaan Islam tidak lahir dari umat yang malas dunia. Pada masa Islamic Golden Age, dunia Islam menjadi pusat ilmu pengetahuan global. Kota Baghdad, Cordoba, dan Kairo melahirkan ilmuwan astronomi, kedokteran, matematika, filsafat, hingga teknik sipil.

Menurut data sejarawan sains George Saliba dan Jonathan Lyons, pada abad ke-10 hingga ke-12, dunia Islam menjadi pusat produksi manuskrip ilmu terbesar di dunia. Perpustakaan Bayt al-Hikmah di Baghdad disebut memiliki ratusan ribu manuskrip ketika sebagian besar Eropa masih berada dalam masa kegelapan intelektual.

Tokoh seperti Ibnu Sina menulis Al-Qanun fi at-Tibb yang menjadi rujukan kedokteran Eropa berabad-abad. Al-Khawarizmi melahirkan konsep aljabar yang menjadi fondasi teknologi modern.

Mereka semua adalah ahli ibadah, tetapi juga ilmuwan produktif. Mereka memahami bahwa bekerja, meneliti, berdagang, membangun ekonomi, dan mengembangkan ilmu adalah bagian dari ibadah sosial.

Ulama klasik Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah menjelaskan teori ‘umran atau pembangunan peradaban. Menurutnya, peradaban maju lahir dari keseimbangan spiritual, solidaritas sosial, ilmu pengetahuan, dan kekuatan ekonomi. Ketika umat hanya sibuk ritual tanpa produktivitas sosial, maka peradaban akan melemah.

Pandangan ini relevan dengan pemikiran ulama modern Yusuf al-Qaradawi melalui konsep Fiqh al-Awlawiyyat (fikih prioritas). Ia mengkritik umat Islam yang terlalu sibuk pada simbol dan perdebatan kecil tetapi tertinggal dalam sains, teknologi, ekonomi, dan tata kelola publik.

Data hari ini memperlihatkan kenyataan yang perlu disikapi. Berdasarkan laporan UNESCO dan World Bank beberapa tahun terakhir, kontribusi negara-negara mayoritas Muslim terhadap publikasi sains global masih jauh di bawah negara-negara maju. Banyak negeri Muslim kaya sumber daya alam, tetapi lemah dalam inovasi teknologi. Ini menunjukkan bahwa sebagian umat masih gagal memahami ajaran Islam tentang keseimbangan dunia dan akhirat.

Bahaya Jika Hidup Hanya Fokus pada Salah Satunya

Ketika manusia hanya mengejar dunia, lahirlah krisis moral. Kita melihat negara maju secara teknologi tetapi mengalami kehampaan spiritual, depresi tinggi, individualisme ekstrem, kerusakan keluarga, dan eksploitasi manusia demi keuntungan ekonomi. Kemajuan material tanpa nilai ilahiah melahirkan kapitalisme yang rakus.

Sebaliknya, jika umat hanya fokus akhirat secara sempit dan meninggalkan urusan dunia, maka lahirlah kemiskinan struktural, ketertinggalan ilmu, ketergantungan ekonomi, dan lemahnya posisi politik umat. Akibatnya, umat mudah dijajah secara pemikiran, budaya, bahkan ekonomi.

Ironisnya, sebagian orang mengira kemiskinan adalah tanda kesalehan. Padahal Nabi ﷺ pernah berdoa agar dilindungi dari kefakiran. Dalam banyak kitab kuning dijelaskan bahwa kemiskinan ekstrem bisa menyeret manusia pada kehinaan sosial bahkan kerusakan akidah.

Imam Al-Ghazali dalam Ihyā’ ‘Ulūmiddīn menjelaskan bahwa dunia ibarat ladang untuk akhirat. Dunia bukan musuh, tetapi alat. Karena itu, harta, kekuasaan, ilmu, dan teknologi dapat menjadi jalan menuju ridha Allah bila digunakan dengan benar.

Learning point terbesar dari kejayaan peradaban Islam masa lalu adalah: umat Islam dahulu tidak mempertentangkan masjid dengan laboratorium, zikir dengan riset, ibadah dengan perdagangan, atau akhirat dengan pembangunan sosial. Mereka memadukan semuanya dalam satu visi tauhid.

Islam tidak mengajarkan manusia menjadi sosok yang lari dari kehidupan, juga tidak mendorong manusia menjadi mesin materialisme tanpa ruh. Jalan Islam adalah jalan tengah: bekerja keras di bumi sambil hati tetap terikat kepada langit.

Karena itu, ukuran kesalehan seorang Muslim seharusnya bukan hanya panjangnya zikir atau lamanya ibadah mahdhah, tetapi juga sejauh mana ia memberi manfaat bagi manusia, membangun ilmu, menegakkan keadilan, menguatkan ekonomi umat, dan menghadirkan rahmat bagi kehidupan.

Sebab dalam pandangan Islam, dunia dan akhirat bukan dua kutub yang harus dipilih salah satunya. Dunia adalah kendaraan menuju akhirat. Dan kendaraan yang rusak tidak akan pernah mengantarkan penumpangnya sampai ke tujuan.