Jakarta–Paris: Membaca Arah Baru Diplomasi Prabowo

Sr Human Capital Strategist, Sekjen Parsindo, Wk Ketua Peradi DPC
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Syaefunnur Maszah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Beberapa tempo lalu dalam suatu 'business trip', saya berkesempatan menyusuri jalan-jalan di Paris. Wajar saja bila banyak orang jatuh hati pada kota ini. Paris bukan hanya menawarkan keindahan arsitektur, museum, dan sejarah panjang peradaban Eropa, tetapi juga memancarkan aura kepercayaan diri sebuah bangsa yang mampu menjaga identitas sekaligus mempertahankan pengaruh globalnya.
Saat berjalan di sepanjang Sungai Seine, menyaksikan kemegahan Menara Eiffel, hingga mengamati ritme kehidupan masyarakat Prancis yang begitu menghargai ilmu pengetahuan dan kebudayaan, saya memahami mengapa negara ini tetap menjadi salah satu kekuatan penting dunia. Namun hubungan Indonesia dengan Prancis hari ini tidak dibangun karena romantisme sejarah atau pesona Paris semata. Hubungan itu semakin erat karena adanya pertemuan kepentingan strategis di tengah perubahan geopolitik dunia yang semakin kompleks.
Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Prancis yang menghasilkan rencana peningkatan hubungan menjadi Kemitraan Strategis Komprehensif (Comprehensive Strategic Partnership) menunjukkan bahwa Jakarta dan Paris melihat peluang besar untuk bekerja sama dalam menghadapi berbagai tantangan abad ke-21. Di tengah rivalitas Amerika Serikat dan China, konflik berkepanjangan di berbagai kawasan, serta ketidakpastian ekonomi global, Indonesia dan Prancis menemukan banyak titik temu yang saling menguntungkan.
Dunia Sedang Berubah, Indonesia Mencari Mitra Baru
Tatanan internasional saat ini sedang mengalami pergeseran besar. Dominasi tunggal Amerika Serikat mulai menghadapi tantangan dari kebangkitan China. Di saat yang sama, konflik di Ukraina, Timur Tengah, dan Indo-Pasifik memperlihatkan bahwa dunia sedang bergerak menuju sistem multipolar.
Dalam kondisi seperti itu, Indonesia membutuhkan lebih banyak mitra strategis agar tidak terlalu bergantung pada satu kekuatan besar. Politik luar negeri bebas aktif yang diwariskan para pendiri bangsa mengharuskan Indonesia membangun hubungan baik dengan berbagai negara tanpa terjebak dalam blok-blok kekuatan.
Prancis menawarkan sesuatu yang menarik. Berbeda dengan Amerika Serikat atau China yang sering dipersepsikan memiliki agenda geopolitik yang sangat dominan, Prancis tampil sebagai kekuatan menengah global yang relatif lebih fleksibel. Sebagai anggota tetap Dewan Keamanan PBB, anggota G7, kekuatan nuklir, sekaligus negara dengan pengaruh luas di Eropa, Afrika, dan Indo-Pasifik, Prancis memiliki kapasitas besar tanpa menimbulkan kekhawatiran ketergantungan berlebihan bagi Indonesia.
Di sinilah kepentingan kedua negara bertemu. Indonesia membutuhkan mitra yang kuat, sementara Prancis membutuhkan mitra penting di Asia Tenggara.
Pertahanan Menjadi Jantung Kemitraan
Seperti yang saya ikuti dari The Jakarta Post melalui artikel berjudul “Indonesia, France Grow Closer Amid Global Uncertainty” yang ditulis oleh Yvette Tanamal dan Yerica Lai pada 30 Mei 2026, Presiden Prabowo dan Presiden Emmanuel Macron menegaskan semakin kuatnya keselarasan strategis kedua negara di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dunia. Artikel tersebut juga menyoroti bahwa kerja sama pertahanan tetap menjadi inti hubungan bilateral Indonesia-Prancis.
Tidak mengherankan jika sektor pertahanan menjadi fokus utama pemerintahan Prabowo. Sebelum menjadi presiden, Prabowo telah lama dikenal memiliki perhatian besar terhadap modernisasi alat utama sistem senjata Indonesia.
Pembelian pesawat tempur Rafale dan kerja sama kapal selam Scorpène bukan sekadar transaksi dagang biasa. Ada dimensi transfer teknologi, peningkatan kemampuan industri pertahanan nasional, penguatan sumber daya manusia, hingga peluang kerja sama riset militer jangka panjang.
Indonesia menghadapi tantangan besar sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan wilayah laut yang sangat luas. Pengamanan jalur perdagangan, perlindungan sumber daya alam, hingga menjaga kedaulatan di kawasan strategis memerlukan kemampuan pertahanan yang semakin modern.
Prancis merupakan salah satu negara yang memiliki teknologi militer paling maju di dunia. Pengalaman panjang mereka dalam industri pertahanan memberikan nilai tambah yang sangat besar bagi Indonesia. Dari perspektif pemerintahan Prabowo, kerja sama ini dapat mempercepat proses modernisasi militer yang selama puluhan tahun berjalan relatif lambat.
Lebih penting lagi, diversifikasi sumber alutsista membuat Indonesia tidak terlalu bergantung pada satu negara pemasok. Pelajaran dari berbagai embargo di masa lalu menunjukkan bahwa kemandirian dan keragaman mitra merupakan kebutuhan strategis yang tidak dapat ditawar.
Indo-Pasifik dan Diplomasi Kekuatan Menengah
Ada faktor lain yang sering luput dari perhatian publik. Prancis sesungguhnya adalah negara Indo-Pasifik.
Banyak orang menganggap Prancis hanya negara Eropa. Padahal Prancis memiliki wilayah seberang laut dan jutaan warga negaranya yang tinggal di kawasan Indo-Pasifik. Karena itu stabilitas kawasan ini merupakan kepentingan langsung bagi Paris.
Indonesia dan Prancis sama-sama melihat pentingnya menjaga Indo-Pasifik tetap terbuka, damai, dan tidak didominasi oleh satu kekuatan tertentu. Keduanya juga mendukung penghormatan terhadap hukum internasional dan kebebasan navigasi.
Konsep kerja sama sebagai "middle powers" atau kekuatan menengah yang disampaikan Prabowo dan Macron memiliki makna strategis yang sangat penting. Dunia tidak hanya terdiri atas negara-negara adidaya. Negara-negara menengah seperti Indonesia, Prancis, India, Turki, Brasil, atau Australia semakin memainkan peran penting dalam membentuk keseimbangan global.
Bagi Prabowo, kedekatan dengan Prancis memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain yang semakin diperhitungkan dalam percaturan internasional. Indonesia tidak lagi hanya menjadi objek persaingan geopolitik, melainkan mulai tampil sebagai subjek yang aktif membangun jaringan kemitraan global.
Manfaat Ekonomi, Pendidikan, dan Teknologi
Hubungan Indonesia-Prancis tidak berhenti pada sektor pertahanan. Presiden Prabowo secara khusus menyoroti energi terbarukan, pendidikan, dan riset sebagai bidang kerja sama yang akan terus diperluas.
Prancis merupakan salah satu negara terdepan dalam teknologi energi, transportasi, penerbangan, dan pengelolaan lingkungan. Pengalaman mereka sangat relevan dengan agenda pembangunan Indonesia yang membutuhkan investasi besar dalam transisi energi dan hilirisasi industri.
Di sektor pendidikan, kerja sama dengan universitas dan lembaga riset Prancis dapat membantu meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Negara-negara yang berhasil melakukan lompatan ekonomi hampir selalu ditopang oleh investasi besar pada pendidikan, sains, dan inovasi.
Prancis juga memiliki tradisi intelektual yang kuat dalam bidang filsafat, ilmu sosial, teknik, kedokteran, hingga teknologi tinggi. Bagi Indonesia yang bercita-cita menjadi negara maju pada 2045, akses terhadap ekosistem ilmu pengetahuan tersebut merupakan aset yang sangat berharga.
Dari perspektif ekonomi, hubungan yang semakin erat juga membuka peluang investasi baru, perluasan pasar ekspor, serta peningkatan kepercayaan investor Eropa terhadap Indonesia.
Ketika banyak negara sedang menghadapi ketidakpastian global, kemampuan membangun kemitraan dengan kekuatan ekonomi dan teknologi seperti Prancis menjadi modal penting untuk menjaga pertumbuhan nasional.
Hubungan Indonesia dan Prancis yang kini disebut Presiden Prabowo sebagai "berada pada titik terkuat sepanjang sejarah" bukanlah fenomena yang muncul secara kebetulan. Hubungan itu lahir dari kebutuhan strategis kedua negara yang sama-sama ingin memperkuat posisi di tengah dunia yang semakin tidak menentu.
Bagi pemerintahan Prabowo, kemitraan yang lebih erat dengan Prancis memberikan manfaat berlapis: memperkuat pertahanan nasional, memperluas ruang diplomasi bebas aktif, meningkatkan akses terhadap teknologi maju, memperdalam kerja sama pendidikan dan riset, serta memperbesar peluang investasi dan pertumbuhan ekonomi.
Di tengah kompetisi global yang semakin tajam, kedekatan Jakarta dan Paris menunjukkan bahwa Indonesia sedang berusaha membangun kekuatan melalui jejaring kemitraan yang luas, seimbang, dan berorientasi pada kepentingan nasional jangka panjang.
