Kritik Perenialisme atas Sekularisme Modern

Sr Human Capital Strategist, Sekjen Parsindo, Wk Ketua Peradi DPC
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Syaefunnur Maszah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Suatu malam saya berbincang dengan seorang kawan lama di sebuah warung kopi kecil. Ia baru pulang dari Amerika Serikat setelah beberapa tahun bekerja di sana. Dengan nada kagum, ia bercerita tentang jalan-jalan yang tertib, teknologi yang canggih, universitas kelas dunia, dan produktivitas masyarakatnya.
Namun, setelah jeda cukup panjang, ia berkata pelan, “Anehnya, banyak orang di sana tampak sukses secara materi, tapi kosong secara batin.” Kalimat itu membuat percakapan kami berubah arah. Kami lalu membahas bagaimana modernitas, sekularisme, dan orientasi hidup yang terlalu materialistik bisa menciptakan kemajuan luar biasa sekaligus melahirkan krisis makna manusia modern.
Fenomena ini sebenarnya telah lama dikritik oleh para pemikir filsafat perenialisme. Mereka melihat bahwa manusia modern kehilangan hubungan dengan nilai-nilai abadi (perennial values) yang dahulu menjadi fondasi moral dan spiritual peradaban. Dalam konteks negara sekuler modern seperti Amerika Serikat, kritik ini menjadi relevan untuk dibahas, bukan untuk menyerang suatu bangsa atau agama tertentu, melainkan untuk memahami bagaimana peradaban yang sangat maju pun dapat mengalami kegelisahan sosial dan spiritual yang mendalam.
Sekularisme: Dari Eropa Menuju Amerika Modern
Sekularisme lahir dari pengalaman sejarah Eropa, terutama setelah konflik panjang antara gereja dan negara pada Abad Pertengahan. Revolusi Ilmiah dan Zaman Pencerahan (Enlightenment) melahirkan pemikiran bahwa urusan publik harus dipisahkan dari otoritas agama. Tokoh seperti John Locke dalam A Letter Concerning Toleration dan Voltaire melalui kritiknya terhadap dominasi gereja mendorong lahirnya negara modern yang netral terhadap agama.
Di Amerika Serikat, sekularisme berkembang dalam bentuk yang khas. Negara tidak didasarkan pada agama resmi, namun memberi kebebasan penuh kepada warga untuk beragama. Dalam praktiknya, sekularisme modern Amerika kemudian berkembang bukan hanya sebagai pemisahan agama dan negara, tetapi juga menjadi budaya sosial yang sangat menekankan individualisme, kebebasan personal, dan rasionalitas ekonomi.
Sosiolog klasik Max Weber dalam karya terkenalnya The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism menjelaskan bagaimana etos kerja dan kapitalisme modern berkembang menjadi kekuatan besar yang mengubah kehidupan manusia. Namun Weber juga memperingatkan lahirnya “iron cage” atau “sangkar besi” modernitas: manusia menjadi terperangkap dalam sistem rasional dan materialistik yang kehilangan jiwa spiritual.
Kritik serupa datang dari filsuf modern Charles Taylor melalui bukunya A Secular Age. Taylor menjelaskan bahwa masyarakat modern memang memberi kebebasan individu lebih luas, tetapi juga menciptakan kondisi “cross pressure”, yakni kegelisahan eksistensial akibat hilangnya makna transenden dalam kehidupan.
Data empiris menunjukkan paradoks tersebut. Amerika Serikat merupakan salah satu ekonomi terbesar dunia dengan GDP lebih dari US$29 triliun pada 2025 menurut IMF. Namun di saat yang sama, berbagai survei kesehatan mental menunjukkan tingginya tingkat depresi, kesepian, dan kecemasan sosial. Laporan World Happiness Report beberapa tahun terakhir juga mencatat meningkatnya fenomena loneliness di negara-negara maju. Bahkan survei Gallup menunjukkan banyak generasi muda Amerika mengalami krisis makna hidup meskipun hidup dalam kemakmuran material.
Perenialisme dan Nilai-Nilai Abadi Manusia
Filsafat perenialisme hadir sebagai kritik terhadap keterputusan manusia modern dari nilai-nilai spiritual universal. Tokoh utama aliran ini seperti Frithjof Schuon dalam The Transcendent Unity of Religions dan Seyyed Hossein Nasr dalam Knowledge and the Sacred berpendapat bahwa seluruh tradisi spiritual besar memiliki inti kebijaksanaan yang sama: manusia bukan hanya makhluk biologis dan ekonomi, tetapi juga makhluk ruhani.
Menurut para pemikir perenialis, krisis modern terjadi karena manusia memutus hubungan dengan “the Sacred” atau dimensi kesucian hidup. Kemajuan teknologi tanpa orientasi moral akhirnya menciptakan kehampaan, konsumerisme, dan alienasi.
Pandangan ini sebenarnya memiliki irisan kuat dengan pemikiran filosof Muslim klasik. Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin mengingatkan bahwa hati manusia tidak akan tenang hanya dengan kenikmatan duniawi. Sementara Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah menjelaskan bahwa peradaban yang hanya mengejar kemewahan material tanpa fondasi moral akan mengalami kemunduran sosial dan politik.
Dalam tradisi Islam, kesejahteraan manusia selalu dipahami secara lahir dan batin. Konsep sa’adah bukan sekadar kekayaan, tetapi juga ketenangan jiwa, keadilan sosial, dan kedekatan spiritual kepada Tuhan. Karena itu, filsafat perenialisme memiliki titik temu dengan nilai-nilai Islam klasik dalam menolak reduksi manusia menjadi sekadar “makhluk ekonomi”.
Implikasi Negatif Sekularisme Ekstrem
Tentu sekularisme memiliki sisi positif, seperti perlindungan kebebasan beragama dan pengembangan ilmu pengetahuan. Namun ketika sekularisme berkembang menjadi pengosongan total nilai spiritual dari ruang publik, muncul berbagai implikasi negatif.
Pertama, lahirnya krisis identitas dan makna hidup. Banyak manusia modern hidup dalam ritme kompetisi ekonomi tanpa arah eksistensial yang jelas. Mereka sukses secara materi tetapi mengalami kekosongan batin. Fenomena meningkatnya konsumsi obat antidepresan, bunuh diri, dan kecanduan digital menjadi gejala sosial yang sulit diabaikan.
Kedua, berkembangnya budaya hiper-individualisme. Filsuf klasik Aristoteles menyebut manusia sebagai zoon politikon, makhluk sosial yang membutuhkan komunitas moral. Namun masyarakat modern sering mendorong manusia menjadi sangat individualistik hingga solidaritas sosial melemah.
Ketiga, dominasi kapitalisme konsumtif. Erich Fromm dalam To Have or To Be? mengkritik masyarakat modern yang mengukur nilai manusia berdasarkan kepemilikan materi, bukan kualitas keberadaan dirinya. Akibatnya, manusia terus mengejar konsumsi tanpa pernah merasa cukup.
Keempat, degradasi keluarga dan komunitas sosial. Banyak penelitian menunjukkan bahwa keterikatan keluarga dan komunitas spiritual memiliki hubungan kuat dengan kesehatan mental. Ketika institusi-institusi ini melemah, manusia menjadi lebih rentan terhadap kesepian dan disorientasi hidup.
Contoh nyata dapat dilihat dari meningkatnya angka isolasi sosial di berbagai negara maju. Mantan U.S. Surgeon General Vivek Murthy bahkan pernah menyebut loneliness sebagai “epidemi kesehatan publik” di Amerika modern.
Pelajaran Penting bagi Indonesia
Indonesia tidak perlu meniru secara mentah model sekularisme ekstrem. Indonesia memiliki fondasi unik melalui Pancasila yang mengakui dimensi Ketuhanan yang Maha Esa sekaligus menjaga Persatuan Indonesia.
Pelajaran penting dari pengalaman Barat adalah bahwa pembangunan tidak boleh hanya diukur dengan angka pertumbuhan ekonomi, gedung pencakar langit, atau kecanggihan teknologi. Jika pembangunan mengabaikan dimensi moral dan spiritual, maka manusia bisa kehilangan arah hidupnya.
Indonesia perlu menjaga keseimbangan antara modernitas dan nilai-nilai luhur dan agama. Pendidikan misalnya, jangan hanya mencetak tenaga kerja kompetitif, tetapi juga manusia berkarakter, berahlak dan berempati. Kemajuan digital harus diimbangi dengan penguatan etika, keluarga, dan komunitas sosial.
Di sinilah relevansi pemikiran perenialisme dan tradisi filosof Muslim klasik. Kemajuan material memang penting, tetapi manusia juga membutuhkan makna, cinta, ketenangan jiwa, dan orientasi moral. Peradaban yang sehat bukan hanya menghasilkan manusia kaya, melainkan manusia yang utuh secara lahir dan batin.
Akhirnya, percakapan saya dengan kawan tadi menyisakan satu renungan sederhana: modernitas memang mampu membuat hidup manusia lebih nyaman, tetapi belum tentu membuat manusia lebih damai. Dan mungkin, tantangan terbesar abad ini bukan lagi bagaimana manusia menaklukkan dunia, melainkan bagaimana manusia kembali menemukan dirinya sendiri.
