Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.99.1
28 Ramadhan 1446 HJumat, 28 Februari 2025
Jakarta
imsak04:10
subuh04:25
terbit05:30
dzuhur11:30
ashar14:45
maghrib17:30
isya18:45
Konten dari Pengguna
Membaca Al-Qur’an sebagai Terapi Psikologis dan Spiritual
28 Februari 2025 22:13 WIB
·
waktu baca 3 menitTulisan dari Syaefunnur Maszah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Membaca Al-Qur’an telah lama diyakini sebagai aktivitas yang memberikan ketenangan jiwa dan mengurangi stres. Tradisi ini tidak hanya berfungsi sebagai ibadah, tetapi juga memiliki dampak signifikan terhadap kesejahteraan mental. Studi terbaru menunjukkan bahwa membaca dan mendengarkan Al-Qur’an dapat menghasilkan efek relaksasi yang sebanding dengan terapi musik dan meditasi. Dalam jurnal Membaca Al-Qur’an sebagai Media untuk Menenangkan Pikiran, Mengurangi Stres, dan Relaksasi yang ditulis oleh Ipin Tajul Aripin, diterbitkan oleh Institut Agama Islam Tasikmalaya pada 1 April 2024, disebutkan bahwa mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an yang berirama mengaktifkan wilayah otak tertentu dan memberikan manfaat psiko-spiritual yang signifikan.
ADVERTISEMENT
Interaksi dengan Al-Qur’an menciptakan rutinitas yang dapat membantu individu dalam mengelola tekanan hidup. Aktivitas ini sering dilakukan pada waktu-waktu tertentu, seperti setelah salat atau sebelum tidur, sehingga membentuk kebiasaan yang menenangkan. Selain itu, membaca Al-Qur’an juga dilakukan secara kolektif dalam berbagai forum, seperti pengajian, majelis taklim, atau halaqah, yang memperkuat hubungan sosial berbasis nilai spiritual. Dalam lingkungan keluarga, kebiasaan ini sering diwariskan secara turun-temurun, memperkuat identitas keagamaan dan membangun harmoni dalam kehidupan sehari-hari.
Dari perspektif ilmu saraf, efek terapeutik Al-Qur’an dapat dijelaskan melalui mekanisme yang melibatkan sistem limbik, yaitu bagian otak yang mengatur emosi dan respons terhadap stres. Penelitian yang dikaji dalam jurnal tersebut menunjukkan bahwa mendengarkan bacaan Al-Qur’an menurunkan kadar kortisol—hormon yang berkaitan dengan stres—dan meningkatkan aktivitas gelombang otak yang berhubungan dengan ketenangan. Aktivasi ini menyerupai efek yang dihasilkan oleh terapi berbasis suara, seperti musik klasik atau teknik meditasi berbasis ritme. Dengan demikian, Al-Qur’an bukan sekadar bacaan spiritual, tetapi juga memiliki dampak neuropsikologis yang dapat dimanfaatkan dalam terapi pengelolaan stres dan kecemasan.
ADVERTISEMENT
Dalam buku Psikoterapi Islam: Terapi Islami untuk Sehat Jiwa dan Hidup Bahagia karya Rifyal Novalia, M.A., dijelaskan bahwa Al-Qur’an memiliki peran fundamental dalam membentuk kesehatan mental yang seimbang. Novalia menekankan bahwa membaca Al-Qur’an dapat menjadi bagian dari terapi psikologis Islami yang tidak hanya berorientasi pada ketenangan batin, tetapi juga pada pembentukan pola pikir positif dan peningkatan ketahanan emosional. Al-Qur’an memberikan panduan bagi individu untuk memahami kehidupan dengan perspektif yang lebih luas, menghindarkan dari kecemasan berlebihan, dan membangun optimisme dalam menghadapi tantangan hidup.
Al-Qur’an juga berperan dalam membangun ketahanan spiritual. Ayat-ayatnya diyakini sebagai sumber ketenangan yang mampu menenangkan hati dan memberikan rasa damai. Dalam berbagai tradisi keagamaan, bacaan Al-Qur’an sering digunakan dalam proses penyembuhan spiritual, baik secara individu maupun dalam komunitas. Fenomena ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an memiliki dimensi terapeutik yang melampaui aspek ritual, menjadikannya sebagai instrumen yang relevan dalam kehidupan modern yang penuh dengan tekanan dan ketidakpastian.
ADVERTISEMENT
Meskipun bukti empiris mengenai manfaat membaca Al-Qur’an semakin berkembang, penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk memahami mekanisme ilmiah di balik efek psiko-spiritual ini. Seperti yang disarankan dalam jurnal tersebut, studi transdisipliner yang melibatkan ahli neurologi, psikologi, dan kesehatan dapat memperkuat pemahaman tentang hubungan antara bacaan Al-Qur’an dan kesehatan mental. Dengan pendekatan yang lebih sistematis, Al-Qur’an dapat dikembangkan sebagai bagian dari terapi yang lebih terstruktur dalam bidang psikologi dan kedokteran.
Membaca Al-Qur’an bukan hanya bentuk ibadah, tetapi juga metode efektif untuk menenangkan pikiran, mengurangi stres, dan meningkatkan kualitas hidup. Dengan semakin banyaknya penelitian yang mendukung manfaatnya, Al-Qur’an dapat diposisikan sebagai media terapi psikologis dan spiritual yang dapat diterapkan secara luas, baik dalam konteks individual maupun dalam sistem kesehatan yang lebih komprehensif.
ADVERTISEMENT