Pintar Saja Tak Cukup: Ketika HR Management Bertemu Islam

Sr Human Capital Strategist, Sekjen Parsindo, Wk Ketua Peradi
·waktu baca 10 menit
Tulisan dari Syaefunnur Maszah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Seorang manajer pernah bercerita tentang dua anak buahnya. Yang pertama lulusan perguruan tinggi ternama, cepat memahami angka, piawai membuat analisis dan hampir selalu menjadi orang pertama yang menyelesaikan tugas. Namun, setiap kali terjadi perbedaan pendapat, ia mudah tersinggung, sulit menerima kritik dan cenderung menganggap rekan kerja yang berbeda pandangan sebagai penghambat. Yang kedua kemampuan akademiknya biasa saja. Ia tidak selalu menjadi yang tercepat menyelesaikan pekerjaan, tetapi mampu mendengarkan, menjaga emosi ketika menghadapi tekanan, membantu rekannya dan tetap tenang ketika keputusan pimpinan tidak sesuai dengan keinginannya. Ketika sebuah tim menghadapi krisis, justru orang kedua yang dicari.
Cerita semacam itu memperlihatkan satu persoalan penting dalam manajemen sumber daya manusia: kecerdasan intelektual memang penting, tetapi tidak selalu cukup untuk membuat seseorang efektif di tempat kerja. Seseorang dapat sangat pintar tetapi buruk dalam mengelola emosi. Seorang pemimpin dapat memiliki kemampuan analitis luar biasa, tetapi kehilangan kepercayaan bawahannya karena tidak memiliki empati, kesabaran dan integritas.
Di sinilah konsep emotional intelligence (EI) dan spiritual intelligence (SI) menjadi relevan. Menariknya, sejumlah kemampuan yang dalam HR Management modern disebut emotional intelligence—pengendalian diri, empati, kemampuan membangun relasi dan kesadaran diri—memiliki irisan yang kuat dengan nilai Islam seperti sabr, hilm, ukhuwah, amanah dan ihsan. Bedanya, Islam tidak berhenti pada efektivitas perilaku manusia, tetapi menghubungkannya dengan dimensi moral dan pertanggungjawaban kepada Allah.
Ketika Kepintaran Tidak Otomatis Menjadi Kematangan
Dunia kerja modern semakin menyadari bahwa kompetensi teknis tidak berdiri sendiri. Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum menempatkan analytical thinking sebagai keterampilan inti yang paling banyak dibutuhkan perusahaan, tetapi setelah itu muncul resilience, flexibility and agility, leadership and social influence, creative thinking, motivation and self-awareness, serta empathy and active listening. Sekitar 61 persen perusahaan yang disurvei memasukkan leadership and social influence sebagai keterampilan inti, sementara 50 persen memasukkan empathy and active listening.
Angka tersebut menunjukkan perubahan menarik dalam paradigma HR. Perusahaan tetap membutuhkan orang yang mampu menghitung, menganalisis dan menguasai teknologi. Namun, kemampuan tersebut harus berjalan bersama kemampuan mengelola diri dan bekerja dengan manusia lain.
Riset Ernest H. O'Boyle Jr., Ronald H. Humphrey, Jeffrey M. Pollack, Thomas H. Hawver dan Paul A. Story dalam Journal of Organizational Behavior melalui meta-analisis menemukan korelasi antara emotional intelligence dan job performance sekitar 0,24–0,30, tergantung model EI yang digunakan. Yang menarik, beberapa model EI tetap memberikan kontribusi prediktif terhadap kinerja setelah memperhitungkan kemampuan kognitif dan kepribadian.
Namun, temuan tersebut juga perlu dibaca secara kritis. Penelitian Dana Joseph, Jing Jin, Daniel Newman dan O'Boyle menunjukkan bahwa sebagian ukuran mixed emotional intelligence ternyata tumpang tindih dengan kepribadian, self-efficacy dan kemampuan kognitif. Setelah sejumlah variabel tersebut dikendalikan, hubungan EI dengan kinerja menjadi jauh lebih kecil.
Artinya, EI bukan mantra yang otomatis membuat seseorang sukses. Yang lebih penting adalah kemampuan nyata untuk mengelola emosi, membaca situasi sosial dan mengambil keputusan secara matang.
Dalam perspektif HR, ini berkaitan dengan human capital yang bersifat sosial, bukan hanya kemampuan individual. Seorang pegawai yang sangat cerdas tetapi membuat tim kehilangan kepercayaan dapat menjadi persoalan organisasi. Sebaliknya, pegawai yang mampu membangun kolaborasi dapat menciptakan nilai yang jauh melampaui uraian tugas formalnya.
Di sinilah teori emotional labor dari Ronald H. Humphrey menjadi menarik. Pekerjaan manusia tidak hanya membutuhkan tenaga dan pikiran, tetapi juga pengelolaan ekspresi emosi ketika berinteraksi dengan orang lain. Seorang customer service, dokter, guru, pemimpin maupun pejabat publik tidak cukup hanya mengetahui apa yang harus dilakukan; ia juga perlu mengetahui bagaimana menghadapi manusia yang sedang marah, kecewa, takut atau tertekan.
Dari Emotional Intelligence Menuju Pengendalian Diri
Islam memiliki konsep yang sangat dekat dengan kemampuan regulasi emosi. Al-Qur'an menggambarkan orang bertakwa antara lain sebagai mereka yang mampu menahan amarah dan memaafkan.
«وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ»
“...orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan.” (QS Ali 'Imran: 134).
Secara nahwu, الْكَاظِمِينَ (al-kāẓimīna) merupakan ism fā‘il dari akar kata كَظَمَ – يَكْظِمُ – كَظْمًا, yang bermakna menahan atau mengendalikan. Bentuk jamak mudzakkar salim ini berada dalam posisi na‘at/‘athaf yang mengikuti konteks gramatikal ayat. Sementara الْغَيْظَ (al-ghayẓ) menjadi objek yang ditahan.
Secara makna, ayat ini menarik jika dibaca dari perspektif HR. Islam tidak mengatakan bahwa orang baik adalah orang yang tidak pernah marah. Yang ditekankan adalah kemampuan mengendalikan kemarahan.
Ini sangat dekat dengan konsep self-regulation dalam emotional intelligence.
Seorang manajer tentu boleh kecewa ketika bawahannya melakukan kesalahan. Tetapi keputusan yang dibuat ketika amarah sedang memuncak sering berbeda dengan keputusan yang lahir setelah emosi terkendali. Kritik dapat berubah menjadi penghinaan, evaluasi menjadi pelampiasan, dan disiplin menjadi tindakan yang merusak harga diri.
Al-Ghazali dalam Ihya' 'Ulum al-Din membahas secara panjang mengenai pengendalian hawa nafsu, kemarahan dan pembentukan akhlak. Baginya, kematangan moral bukan sekadar menghilangkan dorongan manusiawi, tetapi menempatkannya dalam kendali akal dan syariat. Gagasan tersebut relevan dengan HR modern: kompetensi bukan hanya kemampuan melakukan sesuatu, tetapi juga kemampuan mengendalikan diri ketika kemampuan itu digunakan.
Ibn Miskawayh dalam Tahdzib al-Akhlaq wa Tathir al-A'raq juga menempatkan pembentukan karakter sebagai proses membangun kebiasaan moral. Akhlak tidak lahir dalam satu malam. Ia dibentuk melalui latihan yang berulang sampai perilaku baik menjadi karakter.
Bagi organisasi, gagasan ini penting. Pelatihan satu hari tentang leadership tidak otomatis melahirkan pemimpin berkarakter. Karakter dibentuk melalui kebiasaan, budaya organisasi, keteladanan pimpinan dan sistem yang konsisten.
Empati, Ukhuwah dan Psychological Safety
Ada satu hal yang sering dilupakan dalam pengembangan SDM: manusia tidak bekerja hanya dengan job description, tetapi juga dengan perasaan aman.
Amy Edmondson melalui teori psychological safety menunjukkan pentingnya lingkungan kerja di mana anggota tim merasa aman untuk berbicara, mengakui kesalahan, bertanya dan menyampaikan pendapat tanpa takut dipermalukan. Dalam lingkungan seperti itu, kesalahan dapat menjadi bahan pembelajaran, bukan sekadar alasan untuk mencari kambing hitam.
Konsep tersebut memiliki irisan menarik dengan ukhuwah dan adab interaksi dalam Islam.
Al-Qur'an mengingatkan:
«لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ»
“Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain.” (QS Al-Hujurat: 11).
Larangan tersebut bukan hanya persoalan etika sosial. Dalam organisasi, mempermalukan orang lain dapat menghancurkan keberanian untuk berbicara. Karyawan yang takut ditertawakan akan memilih diam. Orang yang takut dimarahi ketika menyampaikan kesalahan akan menyembunyikan masalah. Akibatnya, organisasi mungkin terlihat tenang, padahal persoalan sedang membesar di bawah permukaan.
Ukhuwah dalam konteks organisasi tidak harus dipahami sebagai hubungan emosional yang berlebihan. Ia dapat diterjemahkan menjadi respect, empathy, mutual trust dan willingness to help.
Contoh sederhananya adalah seorang supervisor yang menemukan kesalahan bawahannya. Ada dua cara. Pertama, memarahi di depan seluruh tim agar menjadi “pelajaran”. Kedua, memanggil secara pribadi, menjelaskan kesalahan, mencari penyebab dan bersama-sama menemukan perbaikan.
Keduanya sama-sama dapat menghasilkan koreksi. Tetapi dampak psikologis dan budaya organisasinya berbeda.
Dalam bahasa HR, cara kedua membangun learning culture. Dalam bahasa akhlak, ia lebih dekat dengan menjaga martabat manusia.
Al-Mawardi dalam Adab al-Dunya wa al-Din memberikan perhatian besar terhadap adab, hubungan sosial dan pengelolaan perilaku manusia. Kepemimpinan tidak hanya berkaitan dengan kewenangan, tetapi juga kemampuan menjaga keteraturan hubungan antarmanusia.
Dengan demikian, pemimpin yang efektif bukan hanya orang yang mampu memberikan instruksi, tetapi orang yang membuat orang lain mampu memberikan kemampuan terbaiknya.
Dari Spiritual Intelligence Menuju Amanah dan Ihsan
Jika emotional intelligence membantu manusia mengelola hubungan dengan dirinya dan orang lain, spiritual intelligence memberi pertanyaan yang lebih mendasar: untuk apa kemampuan itu digunakan?
Seseorang dapat memiliki IQ tinggi dan EI tinggi tetapi menggunakannya untuk manipulasi. Ia bisa sangat pandai membaca emosi orang lain, tetapi justru memanfaatkan kelemahan tersebut untuk kepentingan pribadi.
Karena itu, kompetensi membutuhkan kompas moral.
Al-Qur'an memberikan prinsip:
«إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا»
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.” (QS An-Nisa: 58).
Secara nahwu, إِنَّ merupakan harf nasikh yang menashabkan isimnya dan merafa'kan khabarnya. اللَّهَ menjadi ism inna dalam keadaan manshub. Sementara يَأْمُرُكُمْ berasal dari fi'il أَمَرَ – يَأْمُرُ – أَمْرًا, berarti memerintahkan. أَنْ تُؤَدُّوا adalah konstruksi an + fi'il mudhari' yang menjadikan tindakan “menunaikan/menyampaikan” sebagai sesuatu yang diperintahkan. Kata الْأَمَانَاتِ adalah bentuk jamak dari أَمَانَة, berasal dari akar أَمِنَ – يَأْمَنُ, yang berkaitan dengan rasa aman, kepercayaan dan sesuatu yang dipercayakan.
Dalam HR Management, amanah dapat diterjemahkan secara lebih luas menjadi integrity, accountability dan responsibility.
Seorang direktur yang memiliki kecerdasan bisnis tetapi menyalahgunakan kewenangan adalah contoh bahwa IQ tidak cukup. Seorang pegawai yang sangat kompeten tetapi memanipulasi data menunjukkan bahwa kemampuan teknis tanpa integritas justru dapat memperbesar risiko organisasi.
Karena itu, konsep ihsan memiliki relevansi yang kuat. Ihsan bukan hanya “berbuat baik”, tetapi melakukan sesuatu dengan kualitas terbaik karena merasa berada dalam pengawasan Allah.
Dalam hadis Jibril, Nabi Muhammad SAW menjelaskan:
«أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ»
Ihsan membangun kesadaran bahwa kualitas tindakan tidak semata-mata bergantung pada ada atau tidaknya pengawasan manusia.
Jika diterapkan dalam dunia kerja, seorang pegawai tidak bekerja baik hanya karena takut kepada atasan. Ia bekerja baik karena memiliki standar internal.
Di sinilah spiritual intelligence berbeda dari sekadar religiusitas formal. Spiritualitas yang relevan bagi organisasi bukan banyaknya simbol keagamaan yang ditampilkan, melainkan sejauh mana nilai batin melahirkan integritas perilaku.
Riset mengenai intervensi spiritual di tempat kerja juga memberikan indikasi bahwa pendekatan spiritual tertentu dapat membantu outcome kesehatan dan mengurangi stres pekerja, meskipun peneliti menegaskan bahwa bukti yang tersedia masih terbatas dan heterogen sehingga belum layak dijadikan kesimpulan universal.
Dengan kata lain, spiritual intelligence sebaiknya tidak diposisikan sebagai pengganti kompetensi profesional. Ia menjadi dimensi nilai yang mengarahkan kompetensi tersebut.
IQ, EQ dan SQ: Bukan Kompetisi, tetapi Integrasi
Dunia kerja tidak membutuhkan pilihan antara IQ, EQ atau SQ. Organisasi justru membutuhkan integrasi ketiganya.
IQ membantu seseorang memahami persoalan.
EQ membantu seseorang memahami dirinya dan manusia lain.
SQ membantu seseorang memahami nilai dan tujuan yang seharusnya mengarahkan kemampuan tersebut.
Seorang engineer membutuhkan IQ untuk menyelesaikan persoalan teknis. Ia membutuhkan EQ ketika bekerja dalam tim. Ia membutuhkan integritas ketika menentukan apakah sebuah solusi aman atau sekadar murah.
Seorang CEO membutuhkan kemampuan analitis untuk membaca laporan keuangan. Ia membutuhkan EQ untuk menghadapi karyawan yang kehilangan pekerjaan. Ia membutuhkan spiritual-moral intelligence agar kekuasaan dan keuntungan tidak menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan.
Dalam konteks ini, gagasan muhasabah yang banyak dibahas dalam tradisi tasawuf dapat dibaca sebagai bentuk refleksi diri. Al-Ghazali menjadikan evaluasi terhadap diri sebagai bagian penting dari perjalanan pembentukan karakter. Sementara dalam perspektif modern, praktik refleksi diri berkaitan dengan self-awareness, salah satu komponen penting dalam kecerdasan emosional.
Ada sebuah titik temu yang menarik: HR Management modern bertanya, “Seberapa efektif perilaku seseorang di dalam organisasi?” Islam menambahkan pertanyaan, “Menjadi manusia seperti apa ia ketika menggunakan efektivitas tersebut?”
Pertanyaan kedua penting karena organisasi tidak hanya menghasilkan produk dan keuntungan. Organisasi juga membentuk manusia, budaya dan kebiasaan.
Karyawan pintar belum tentu mampu bekerja sama. Pemimpin cerdas belum tentu bijaksana. Orang yang mampu berbicara belum tentu mampu mendengarkan. Orang yang mampu mencapai target belum tentu mampu menjaga amanah.
Karena itu, ukuran keberhasilan SDM mungkin perlu diperluas. Bukan hanya how much do you know, tetapi juga how well do you manage yourself, how do you treat others, dan yang lebih mendasar, for what purpose do you use your knowledge and power?
Di tengah perkembangan artificial intelligence yang semakin mampu mengolah data, membuat analisis dan menghasilkan informasi, pertanyaan tersebut justru semakin relevan. WEF mencatat bahwa keterampilan yang sangat bergantung pada interaksi manusia, termasuk empati dan active listening, saat ini memiliki keterbatasan besar untuk digantikan oleh GenAI.
Barangkali masa depan HR bukan tentang memilih antara manusia yang pintar atau manusia yang berkarakter. Yang dibutuhkan adalah manusia yang kompeten sekaligus matang secara emosional dan kokoh secara moral.
Sebab, kecerdasan dapat membuat seseorang menemukan jalan menuju tujuan. Tetapi hanya kematangan emosi dan kekuatan nilai yang membantu menentukan apakah tujuan itu layak dicapai dan bagaimana cara mencapainya.
