Konten dari Pengguna

Resiliensi Ekonomi Singapura: Tiga Kebijakan Baru Ketenagakerjaan

Syaefunnur Maszah
Sr Human Capital Steategist, Sekjen Parsindo, Wk Ketua Peradi DPC
19 Agustus 2025 12:04 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Resiliensi Ekonomi Singapura: Tiga Kebijakan Baru Ketenagakerjaan
Tiga kebijakan baru ketenagakerjaan Singapura perkuat resiliensi ekonomi. Apa pelajaran penting yang bisa dipetik Indonesia?
Syaefunnur Maszah
Tulisan dari Syaefunnur Maszah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi: Human capital development di Singapura. (Dok. Syaefunnur Maszah)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi: Human capital development di Singapura. (Dok. Syaefunnur Maszah)
ADVERTISEMENT
Sebagai seseorang yang pernah menjabat sebagai Director of Human Resources di sebuah perusahaan multinasional, saya terbiasa melihat bagaimana strategi ketenagakerjaan menentukan daya saing sebuah negara. Dari perekrutan lulusan baru hingga program peningkatan keterampilan pekerja paruh baya, semua itu berpengaruh langsung pada resiliensi ekonomi. Karena itu, menarik untuk mengamati tiga kebijakan baru ketenagakerjaan yang kini tengah diperkuat di Singapura.
ADVERTISEMENT
Singapura, negara kota yang kecil secara geografis tetapi besar dalam visi pembangunan, memahami bahwa tenaga kerja adalah modal utama. Mereka menyadari bahwa resiliensi ekonomi tidak hanya dibangun lewat infrastruktur dan investasi, melainkan juga melalui kebijakan kerja yang tepat sasaran. Maka, muncul tiga inisiatif penting: skema magang pemerintah bagi lulusan baru, skema pencocokan kerja di tingkat Community Development Council (CDC), serta peningkatan Program SkillsFuture Level-Up bagi pekerja paruh baya.
The Straits Times, dalam laporan berjudul “Jobs, infrastructure and homes at the core of Singapore’s resilience: Economists” oleh Angela Tan, 19 Agustus 2025, menyoroti bagaimana pemerintah Singapura menjadikan lapangan kerja sebagai pilar utama resiliensi ekonomi. Fokus pada tiga kebijakan baru ketenagakerjaan ini menunjukkan keseriusan negara dalam merancang ekosistem kerja yang inklusif dan adaptif. Ekonom Tan Ern Ser dari National University of Singapore menekankan bahwa pembangunan manusia harus berjalan beriringan dengan pembangunan fisik. Pandangan ini sejalan dengan teori Human Capital Gary Becker, yang menyatakan bahwa investasi pada keterampilan dan pendidikan tenaga kerja akan meningkatkan produktivitas sekaligus pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
ADVERTISEMENT
Skema magang pemerintah bagi lulusan baru, misalnya, adalah langkah visioner. Lulusan universitas atau politeknik tidak hanya diberikan teori, tetapi juga kesempatan langsung untuk merasakan pengalaman kerja nyata. Magang ini tidak sebatas praktik kerja, tetapi bagian dari strategi mempercepat transisi mereka dari dunia kampus ke dunia kerja.
Skema kedua, pencocokan kerja di tingkat CDC, memberikan jawaban terhadap tantangan klasik: mismatch antara keterampilan tenaga kerja dan kebutuhan industri. Dengan pendekatan komunitas, proses pencocokan kerja menjadi lebih dekat dengan kebutuhan lokal. Tenaga kerja tidak hanya dipandang sebagai angka statistik, melainkan bagian dari ekosistem sosial yang spesifik.
Sementara itu, peningkatan Program SkillsFuture Level-Up bagi pekerja paruh baya menjadi simbol inklusivitas kebijakan. Di tengah disrupsi teknologi, pekerja berusia di atas 40 tahun sering kali merasa tertinggal. Program ini bukan sekadar pelatihan ulang, tetapi juga bentuk penghargaan terhadap kontribusi mereka sekaligus jembatan menuju pekerjaan baru yang lebih relevan.
ADVERTISEMENT
Jika ditarik ke gambaran besar, tiga kebijakan ini memperlihatkan pendekatan holistik. Singapura tidak ingin hanya mencetak tenaga kerja muda yang siap pakai, tetapi juga memastikan generasi pekerja senior tetap produktif. Dengan begitu, tidak ada kelompok yang tertinggal dalam perjalanan menuju ekonomi masa depan.
Implikasinya terhadap resiliensi ekonomi Singapura sangat jelas. Dengan menutup celah keterampilan, mempercepat penyerapan kerja, dan mengoptimalkan potensi seluruh generasi pekerja, Singapura memperkuat daya tahan terhadap guncangan global. Krisis ekonomi dunia, perlambatan perdagangan, hingga revolusi teknologi dapat dihadapi dengan lebih percaya diri karena sumber daya manusianya siap beradaptasi.
Lalu, apa pelajaran yang bisa dipetik Indonesia? Pertama, perlunya sistem magang nasional yang benar-benar terstruktur dan bersinergi dengan dunia industri. Selama ini, program magang di Indonesia sering bersifat seremonial, bukan strategis.
ADVERTISEMENT
Kedua, Indonesia bisa belajar dari model pencocokan kerja berbasis komunitas. Dengan basis geografis yang luas, Indonesia seharusnya mengoptimalkan pemerintah daerah dan komunitas lokal untuk memetakan kebutuhan kerja. Model CDC Singapura bisa diadaptasi ke level kabupaten/kota.
Ketiga, program pelatihan ulang untuk pekerja paruh baya harus diperkuat. Bonus demografi Indonesia tidak boleh membuat kita melupakan pekerja senior. Justru mereka, dengan pengalaman panjang, bisa menjadi aset bila diberi keterampilan baru yang sesuai kebutuhan zaman.
Pada akhirnya, resiliensi ekonomi bukan hanya tentang kemampuan negara menghadapi badai krisis global, tetapi juga tentang sejauh mana rakyatnya mampu beradaptasi. Kebijakan ketenagakerjaan yang inklusif dan adaptif adalah fondasi utama dari daya tahan itu.
Singapura sekali lagi menunjukkan bahwa ukuran negara tidak menentukan besarnya visi. Indonesia, dengan sumber daya yang jauh lebih besar, seharusnya bisa melampaui pencapaian itu bila mampu belajar dan berani berbenah.
ADVERTISEMENT
Resiliensi ekonomi bukan hadiah, melainkan hasil kerja keras membangun manusia. Dan kebijakan ketenagakerjaan adalah titik awal dari perjalanan panjang itu.