Masjid-Masjid Tua Cirebon: Saksi Diam Penyebaran Islam di Tanah Jawa

Alumni IAIN Syeikh Nurjati Cirebon, kini Fokus pada penulisan sejarah dan warisan spiritual Nusantara
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Syaefullah Firmansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di Cirebon, sejarah tidak hanya hidup dalam buku atau museum. Ia berdiri tegak, mengalun dalam adzan, dan mengendap dalam lantai-lantai batu yang telah disujudkan ribuan kali. Masjid-masjid tua di kota ini bukan sekadar tempat ibadah—mereka adalah saksi bisu dari peristiwa besar penyebaran Islam di Tanah Jawa.
Salah satu yang paling dikenal adalah Masjid Agung Sang Cipta Rasa, dibangun pada tahun 1480 M oleh Sunan Gunung Jati bersama para Wali Songo. Masjid ini tidak hanya tua, tapi sarat filosofi. Atapnya bersusun sembilan, melambangkan tingkatan spiritual dalam Islam. Mihrabnya dikerjakan oleh Sunan Kalijaga, sementara arsitektur keseluruhannya mencerminkan akulturasi budaya Hindu, Islam, dan lokal Jawa-Sunda.
Yang menarik, dalam satu waktu salat Jumat, masjid ini memiliki tujuh bilal yang melantunkan adzan secara bergantian. Tradisi ini bukan sekadar ritual, tapi juga bentuk penghormatan terhadap peran para wali dalam menyebarkan Islam secara damai dan santun.
Tak jauh dari sana, ada Masjid Merah Panjunan, dibangun oleh para keturunan Arab dan warga Panjunan pada abad ke-15. Ciri khasnya langsung terasa: dinding bata merah tanpa plester dan ornamen kaligrafi sederhana, mencerminkan semangat kesederhanaan tapi kokoh. Masjid ini menjadi pusat dakwah komunitas pedagang Arab di masa lalu yang sangat berperan dalam menjembatani Islam dan kehidupan maritim di pesisir utara Jawa.
Kemudian, ada pula Masjid Jagabayan, yang lokasinya kini agak tersembunyi di pemukiman padat. Meski tak setenar dua masjid sebelumnya, ia menyimpan peran penting sebagai tempat berkumpulnya para santri dan pejuang di masa peralihan kerajaan Hindu ke Islam. Konon, di sinilah banyak dilakukan pembaiatan para pemuda untuk misi dakwah ke daerah pedalaman.
Masjid-masjid ini tidak dibangun sebagai simbol kekuasaan, tapi sebagai pusat peradaban—di mana ilmu, akhlak, dan budaya tumbuh berdampingan. Mereka tidak berdiri di atas ego politik, melainkan di atas semangat menyatukan umat dari berbagai latar belakang.
Namun zaman berubah.
Kini, masjid-masjid tua itu mulai tergeser dari percakapan publik. Banyak yang lebih mengenal masjid-masjid besar dengan arsitektur megah, tapi lupa bahwa akar spiritual dan budaya Islam di Jawa dimulai dari tempat-tempat sederhana seperti ini.
Menjaga keberadaan mereka bukan hanya soal merawat bangunan, tapi juga merawat ingatan kolektif tentang bagaimana Islam datang ke Nusantara: tidak dengan pedang, melainkan dengan kasih, seni, dan dialog.
Cirebon memang kota kecil, tapi jejak sejarahnya besar. Dan selama masjid-masjid tuanya masih berdiri, kita masih punya pintu untuk mengingat dari mana kita memulai.
