Konten dari Pengguna

Kisah Teladan dari Relokasi Pasar Godean

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syafa Arshinta Nabila tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Suwarno (67), saat sedang menjaga kiosnya  di Pasar Relokasi, Sidoluhur (Foto : Syafa Arshinta Nabila)
zoom-in-whitePerbesar
Suwarno (67), saat sedang menjaga kiosnya di Pasar Relokasi, Sidoluhur (Foto : Syafa Arshinta Nabila)

Fakta bahwa para pedagang Pasar Godean akhirnya direlokasi ke Lapangan Sidoluhur menorehkan banyak kisah sedih. Salah satunya adalah ketidakberdayaan mereka untuk menolak kebijakan yang berakibat pada hilangnya banyak pelanggan. Meskipun demikian, mereka tetap berusaha menjajakan dagangannya demi kelangsungan mata pencaharian.

Lokasi bangunan Pasar Relokasi tepat berada di belakang SDN Sidoluhur, Godean. Dari jalan Godean, akses jalan masuk pasar masih perlu melewati 150 meter jalanan berpasir yang tidak rata dan sering digenangi air saat hujan sehingga menyulitkan pengendara untuk melintas.

Bangunan yang memiliki luas 8000 meter persegi ini memiliki tiang-tiang kerangka dari baja ringan. Warna abu-abunya menjadi pemandangan yang mendominasi saat mengedarkan pandangan. Kebersihan pasar dapat dibuktikan begitu mendapati lingkungan pasar yang bebas dari sampah dan bau busuk.

Meskipun kebersihan pasar cukup terjaga, hal ini tidak cukup menenangkan hati para pedagang. Walau terlihat sedikit ragu, Suwarno, salah satu pedagang yang ikut pindah ke Pasar Relokasi menceritakan keresahannya kehilangan pelanggan sejak pindah ke Pasar Relokasi. Bahkan di kiosnya hari itu, ia hanya memajang beberapa barang dagangannya dan meninggalkan yang lainnya tetap berada dalam kardus karena berniat tutup cepat.

Lapak-lapak yang disediakan di Pasar Relokasi tersebut ditempati oleh para pedagang tanpa pungutan biaya sewa sepeser pun. Namun Wilah (45), seorang pedagang pakaian di sana mengatakan bahwa hal tersebut bukanlah sebuah keuntungan, “betul di sini gratis, tapi saya jadi tidak punya pemasukan. Dan selisihnya itu lumayan banyak daripada saat di sana. Kalau di sana sehari bisa dapat sampai 100 ribu, di sini hanya 20 ribu,” ungkap ibu dua anak itu sambil merapihkan baju-baju daster jualannya.

Hal serupa juga disampaikan oleh Rusmiatun (50), yang merasa lokasi pasar relokasi sangat tidak strategis dan sepi dibandingkan dengan lokasi sebelumnya. Relokasi ini menunjukkan tantangan besar bagi para pedagang dalam beradaptasi dengan kondisi baru yang tidak mendukung kelangsungan bisnis mereka. Meskipun fasilitas pasar relokasi cukup memadai, faktor lokasi dan aksesibilitas menjadi kendala utama yang berdampak pada pendapatan mereka.

Suasana Pasar Relokasi Sidoluhur (Foto : Syafa Arshinta Nabila)

Sungguh sebuah ironi bahwa pasar yang dulunya menjadi pusat perekonomian masyarakat, sekarang hanya dipandang sebagai komunitas warga kelas dua. Hal ini dilihat dari para pedagang Pasar Godean yang sama sekali tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan dalam menentukan tempat relokasi, “pemberitahuannya hanya secara lisan dan menggunakan poster-poster yang ditempel di sekitar pasar. Tapi setelah itu proses pemindahannya sudah diurus semua secara gratis,” ucap Mukinem, salah satu pedagang sembako.

Tentu saja kekosongan jembatan komunikasi antara pihak pemerintah dan para pedagang bukan hal yang seharusnya terjadi. Denis Hida Lutfiana Stefani, S.I.Kom, M.A, seorang dosen Ilmu Komunikasi di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, menyampaikan bahwa forum diskusi adalah tahapan paling penting dalam proses relokasi pasar. Dalam forum tersebut, para pedagang pasar mampu menyampaikan pendapat ataupun melakukan negosiasi terkait lokasi relokasi, “hal yang sering terjadi di pasar adalah informasi yang dadakan. Tiba-tiba direlokasi tanpa adanya informasi yang official dan hanya berbekal informasi dari mulut ke mulut, tentu saja itu bukan hal yang baik juga. Jadi harus ada forum diskusi yang dilaksanakan antara pedagang, pengelola pasar, pemerintah dan dinas terkait,” ungkapnya.

Sementara hampir 2 tahun dilewati para pedagang beraktivitas di Pasar Relokasi, bangunan baru Pasar Godean telah berdiri dengan eloknya setelah diresmikan revitalisasinya langsung oleh Mantan Presiden Indonesia Jokowi pada 28 Agustus lalu. Dan kesamaan jawaban mereka mengenai alasan mengapa para pedagang belum kembali ke pasar induk adalah tidak adanya kepastian.

“Saya menunggu aba-aba dulu. Kalau belum ada instruksi saya tidak akan berani, nanti saya kena masalah. Ikut teman-teman saja,” ucap Wilah.

Rusmiatun, masih sambil mengupas papaya melontarkan jawaban senada, “kemarin pengumumannya memang di tahun 2025 tapi belum tau bulan apa, bulannya belum pasti. Tapi parkirannya belum ada, atap bangunannya masih ada yang bocor juga,” ucapnya. Suwarno juga setuju mengenai ketidakpastian kapan para pedagang dapat menempati bangunan Pasar Godean yang baru, “itu bangunannya sudah jadi karena ingin segera dilakukan peresmiannya terlebih lebih dulu, tapi fasilitas lainnya masih belum ada,” ucap pedagang sembako tersebut.

Menanggapi hal tersebut, Denis juga menyebutkan bahwa suatu hal yang dikerjakan secara buru-buru tidak akan menghasilkan sesuatu yang baik. Ia juga melanjutkan betapa pentingnya hubungan komunikasi yang baik antara pemerintah khususnya Pemkab Sleman dan para pedagang pasar, “seharusnya Pemkab Sleman yang bisa lebih mengerti bagaimana dinamika warga Sleman. Maka sebagai pihak yang menjembatani antara pemerintah pusat dengan masyarakat, mereka yang harus mengetahui solusi terbaik untuk keduanya,” ucap dosen yang berfokus dalam bidang public relation tersebut.

Begitu mengetahui ketidakberdayaan para pedagang selama ini, seolah sedang diajarkan sebuah kisah teladan bagaimana agar kita memiliki keyakinan sekokoh karang. Mereka menghadapi segala yang terjadi dengan sabar sambil mengharapkan kecukupan dari berapa pun penghasilan yang didapat.

Salah satu kisah teladan itu juga datang dari Jumiati, pedagang jamu yang sudah berjualan sejak 25 tahun lalu, “rezeki itu pasti selalu ada, tidak perlu khawatir karena pasti sudah ditentukam setiap orangnya. Jika sedang dapat banyak atau sedikit, harus tetap disyukuri.”

Memang, rasa syukur adalah harta paling berharga bagi tiap insan. Sekali memilikinya, segala hal akan terasa baik-baik saja. Namun bukan berarti hal tersebut dapat menjadi alasan untuk disepelekan. Para Pedagang Pasar Godean ini selalu berhak mendapatkan kembali tempat berdagang yang dapat dengan mudah diakses oleh para pelangganya, tanpa menempuh jarak dua kilometer lebih jauh.