Masjid sebagai Ruang Belajar: KKN UMY Gelar Pelatihan Pemulasaran Jenazah

Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Syafa Arshinta Nabila tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Masjid selama ini lebih dikenal sebagai ruang ibadah ritual. Namun di Dusun Cepit, Kalurahan Pendowoharjo, Bantul, fungsi tersebut mulai berkembang ke arah yang lebih luas, termasuk sebagai ruang pembelajaran sosial berbasis kebutuhan masyarakat.
Perkembangan ini terlihat di Masjid Islamic Centre Al-Muqorrobin, yang menjadi lokasi pelaksanaan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Melalui program tersebut, mahasiswa KKN tidak hanya menjalankan kegiatan keagamaan rutin, tetapi juga menginisiasi kegiatan pemberdayaan yang berbasis pada hasil identifikasi kebutuhan warga.
Berdasarkan observasi dan wawancara yang dilakukan oleh tim KKN UMY bersama takmir masjid, ditemukan bahwa praktik pemulasaran jenazah di lingkungan Dusun Cepit masih bergantung pada individu tertentu yang dianggap memiliki keahlian. Ketika individu tersebut tidak tersedia, proses pemulasaran berpotensi mengalami keterlambatan. Kondisi ini menunjukkan adanya keterbatasan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam menjalankan kewajiban fardhu kifayah.
Merespons temuan tersebut, mahasiswa KKN UMY merancang workshop pemulasaran jenazah dengan pendekatan partisipatif. Dalam hal ini, mahasiswa berperan sebagai fasilitator yang menghubungkan kebutuhan masyarakat dengan sumber pembelajaran yang relevan, sekaligus memastikan kegiatan dapat diikuti secara aktif oleh warga.
Workshop dilaksanakan di Masjid Islamic Centre Al-Muqorrobin dalam dua tahap. Tahap pertama berfokus pada penyampaian materi dasar mengenai konsep dan tahapan pemulasaran jenazah sesuai syariat Islam. Tahap kedua berupa praktik langsung, di mana peserta mencoba setiap tahapan pemulasaran melalui simulasi, mulai dari memandikan hingga mengkafani jenazah.
Sebanyak sekitar 50 warga mengikuti kegiatan ini, dengan latar belakang usia yang beragam. Tingkat kehadiran yang tetap tinggi pada setiap pertemuan menunjukkan bahwa program yang dirancang oleh KKN UMY sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Selain itu, keterlibatan peserta dalam sesi praktik menunjukkan adanya respons yang aktif terhadap metode pembelajaran yang digunakan.
Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman dan keterampilan peserta. Warga yang sebelumnya hanya mengetahui pemulasaran secara umum mulai mampu menjelaskan urutan proses serta mempraktikkan tahapan dasar. Partisipasi aktif dalam praktik juga menunjukkan perubahan pola keterlibatan masyarakat dari yang sebelumnya cenderung pasif.
Dalam konteks ini, peran mahasiswa KKN UMY tidak hanya sebagai pelaksana program, tetapi juga sebagai penggerak pemberdayaan masyarakat. Melalui pendekatan yang berbasis kebutuhan dan praktik langsung, mahasiswa turut berkontribusi dalam memperkuat fungsi Masjid Islamic Centre Al-Muqorrobin sebagai ruang edukasi sosial.
Meskipun demikian, program ini masih memerlukan tindak lanjut agar dampaknya dapat berkelanjutan. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah pembentukan kelompok pemulasaran jenazah berbasis warga, sehingga keterampilan yang telah diperoleh dapat terus digunakan dan dikembangkan.
Secara keseluruhan, kegiatan ini menunjukkan bahwa keterlibatan mahasiswa KKN UMY dapat mendorong optimalisasi peran masjid dalam kehidupan masyarakat. Melalui program yang terarah dan partisipatif, masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan sosial warga.
