Fenomena FOMO Lari: Saat Tren Kesehatan Bertemu Gengsi Media Sosial

Mahasiswa aktif semester 1 Universitas Negeri Jakarta, fakultas ilmu sosial dan hukum,program studi pendidikan sosiologi
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Syafa Illiyin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tidak ada yang salah dengan viralnya olahraga lari. Dibandingkan dengan cabang olahraga lain, lari adalah salah satu olahraga paling simpel. Cukup dengan sepatu dan niat, siapa saja bisa memulainya.
Namun, kehadiran media sosial mengubah cara pandang. Ketika satu circle pertemanan mengunggah capaian 5K atau 10K mereka, timbul dorongan psikologis untuk ikut serta. Seseorang yang tadinya jarang berolahraga mendadak membeli sepatu lari seharga jutaan rupiah, mendaftar berbagai event race, dan tak lupa mengunggah hasil latihannya di media sosial agar dapat FYP.
FOMO di sini bekerja sebagai pemicu ganda: di satu sisi mendorong untuk hidup lebih aktif, tetapi di sisi lain menciptakan standar sosial baru yang terkadang membebankan.
Sisi Terang vs Sisi Gelap "FOMO Lari"
Dampak Positif: FOMO dapat menjadi awal yang baik (kickstart). Banyak orang yang dulunya kurang bergerak akhirnya tergerak untuk mulai berolahraga karena melihat keseruan teman-temannya. Selain itu komunitas lari juga membuka ruang bersosialisasi yang positif.
Dampak Negatif: Bahaya terbesar muncul ketika ego dan dorongan FOMO mengalahkan kesadaran akan batas kemampuan tubuh. Banyak pelari pemula yang langsung memaksakan jarak atau pace tinggi demi konten atau ajang pamer, tanpa melalui fase latihan terstruktur. Hasilnya? Cedera seperti shin splints, nyeri lutut, hingga kelelahan ekstrem.
Selain itu, biaya yang dikeluarkan untuk mendukung "estetika lari" seperti sepatu carbon-plated, jam tangan pintar mahal, hingga outfit bermerek yang menguras kantong hanya demi diakui dalam circle pergaulan
Mengubah FOMO Menjadi JOMO (Joy of Missing Out)
Lari pada hakikatnya adalah kompetisi antara diri sendiri dengan hari kemarin. Agar tren lari yang kamu jalani tetap menyehatkan fisik dan mental, berikut beberapa tips yang bisa diterapkan:
Kenali Motivasi Diri: Tanyakan pada diri sendiri, "Apakah saya berlari untuk kesehatan tubuh saya, atau sekadar butuh validasi di media sosial?"
Dengarkan Sinyal Tubuh: Jangan paksakan jarak atau kecepatan hanya demi mengunggah statistik yang impresif. Istirahat (recovery) sama pentingnya dengan latihan.
Mulai Secara Bertahap: Jika baru memulai, terapkan metode run-walk (kombinasi jalan dan lari). Jangan terburu-buru mendaftar Half Marathon jika persiapan belum matang.
Nikmati Prosesnya: Nikmati momen setiap kali kakimu menyentuh aspal, udara segar di pagi hari, dan perasaan lega setelah selesai berolahraga, tanpa memikirkan berapa banyak likes yang akan kamu dapatkan.
FOMO lari tidak sepenuhnya buruk jika dijadikan langkah awal untuk membangun pola hidup yang lebih sehat. Namun, jangan sampai tren ini justru menjadi beban finansial atau memicu cedera fisik hanya demi konten semenit.
Ikat tali sepatumu, atur ritme napasmu, dan larilah untuk dirimu sendiri bukan untuk algoritma media sosial.
