Konten dari Pengguna

Kenalan dengan Konsep Kepribadian 'Ideal Self' dan 'Actual Self' di Media Sosial

Syafa Raissa Afrinia

Syafa Raissa Afrinia

Mahasiswa Universitas Airlangga

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syafa Raissa Afrinia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

source: unsplash.com
zoom-in-whitePerbesar
source: unsplash.com

Seseorang akan selalu ingin menunjukkan sisi terbaiknya, bukan?

Tapi bagaimana ketika ‘sisi lain’ itu bersifat terlalu kontradiktif dengan dirinya yang asli?

Yuk, berkenalan dengan konsep kepribadian ideal self dan actual self!

Dunia maya memang sesuatu yang tidak memiliki batas. Pada dasarnya, manusia memiliki tendensi ingin merasa disegani dan diterima oleh orang lain. Seringkali ketika hal tersebut sulit diraih di dunia nyata, maka mereka akan lari ke sosial media. Siapapun berhak membuat dan menyusun persona mereka masing-masing hingga seringkali terlihat idealis, meskipun tidak semuanya.

Berangkat dari teori Carl Rogers tentang keberhargaan bersyarat (conditions of worth) seseorang yang merupakan sebuah keadaan di mana seorang individu menganggap cinta dan hormat bersifat bersyarat dan perlu memenuhi persetujuan orang lain.

Teori ini menjelaskan bahwa fenomena ideal self yang seringkali kita lihat di sosial media merupakan produk dari sejarah perkembangan seorang individu sejak belia hingga sekarang. Perkembangan seseorang akan sangat dipengaruhi oleh jenis respons positif yang ia terima dari lingkungan sekitarnya.

Seorang anak dalam proses perkembangannya akan mengalami banyak pencapaian dan kegagalan. Hal-hal tersebut bertujuan untuk mengajarkan anak agar dapat mengevaluasi dirinya sendiri sehingga dapat tumbuh menjadi individu yang lebih baik. Selama proses perkembangan ini berlangsung, tentu peran orang tua menjadi sangat krusial karena seorang anak akan mengartikan segala respons orang tua terhadap hal yang ia lakukan dan memiliki tendensi untuk membentuk pribadi yang disenangi orang tuanya ketika dewasa.

Respons positif tanpa syarat termasuk kasih sayang orang tua dan penerimaan tanpa memandang dengan sebelah mata bagaimana anak tersebut berperilaku. Sedangkan respons positif bersyarat merupakan kebalikannya, dalam kasus ini orang tua tidak akan selalu merespons dengan positif perilaku dari anak.

Seringkali perilaku orang tua yang diterima anak kemudian diartikan bahwa kasih sayang orang tua tidak selamanya tanpa syarat, seorang anak hanya akan diterima apabila berperilaku sesuai dengan ekspektasi orang tua dan akan dihukum ketika tidak sesuai keinginan orang tua.

Oleh karena itu, seorang anak kemudian akan belajar untuk berperilaku secara selektif dan tidak lagi bebas. Hal ini disebabkan oleh adanya kebutuhan untuk mengevaluasi perilaku dan sikap mereka dengan sangat hati-hati, serta menahan diri dari mengambil tindakan tertentu yang menyebabkan pencegahan diri mereka sendiri dalam mengembangkan atau mengaktualisasikan diri secara optimal. Secara tidak langsung, mereka menghambat perkembangan diri mereka dengan hidup dalam batas-batas keberhargaan diri mereka.

Di kehidupan sosial, seringkali manusia membuat persepsi yang ideal tentang dirinya di sosial media agar dapat merasa disegani dan dihargai oleh sekitarnya. Misalnya dalam pertemanan, seseorang ingin merasa unik dan ‘dilihat’ sehingga ia membuat persona yang dilebih-lebihkan di sosial media. Namun kenyataannya persona yang ia buat di sosial media (ideal self) bertolakbelakang dengan dirinya di kehidupan nyata (actual self).

Fenomena seperti ini memang bukan lagi hal yang tidak biasa kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Maka dari itu, penting bagi kita untuk menyadari bahwa setiap manusia telah diciptakan dengan keunikannya masing-masing. Alangkah baiknya apabila kita dapat memulai dari diri sendiri dengan berdamai dengan diri sendiri dan menerima segala kekurangan yang ada di diri kita.