Pelatihan Tidak Menyelesaikan Masalah, Perusahaan Salah Meramal Kebutuhan SDM?

Mahasiswa Semester 6 Program Studi Manajemen Universitas Pamulang
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Syafa Meisya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah persaingan industri yang semakin dinamis, perusahaan dituntut untuk memiliki sumber daya manusia yang mampu beradaptasi dengan perubahan. Ketika produktivitas menurun, target tidak tercapai, atau kualitas pekerjaan mulai bermasalah, salah satu respons yang sering dilakukan perusahaan adalah memberikan pelatihan kepada karyawan. Pelatihan dianggap sebagai cara untuk meningkatkan kompetensi sekaligus memperbaiki kinerja.
Namun, muncul pertanyaan yang perlu dipikirkan lebih jauh: apakah setiap masalah kinerja karyawan memang dapat diselesaikan melalui pelatihan?
Menurut saya, perusahaan perlu berhati-hati dalam menjadikan pelatihan sebagai solusi utama. Pelatihan memang penting dalam pengembangan sumber daya manusia, tetapi pelatihan bukanlah obat untuk semua permasalahan organisasi. Sebelum menentukan program pelatihan, perusahaan perlu memahami terlebih dahulu akar masalah yang terjadi.
Dalam materi Analisis Kebutuhan Pelatihan, salah satu komponen penting yang perlu dilakukan adalah analisis organisasional. Analisis ini digunakan untuk mengevaluasi strategi, tujuan, dan lingkungan organisasi guna mengetahui kebutuhan pelatihan pada tingkat perusahaan secara keseluruhan. Hal yang paling penting adalah perusahaan perlu menjawab dua pertanyaan: di mana pelatihan benar-benar dibutuhkan dan apakah pelatihan merupakan solusi yang tepat terhadap permasalahan yang terjadi.
Ketika masalah kinerja langsung dianggap sebagai masalah kompetensi, bayangkan sebuah perusahaan mengalami penurunan produktivitas. Target yang sebelumnya dapat dicapai mulai tidak terpenuhi. Respons yang muncul kemudian adalah mengadakan pelatihan produktivitas bagi karyawan.
Sekilas, keputusan tersebut terlihat masuk akal. Namun, bagaimana jika sebenarnya penyebab penurunan produktivitas bukan karena karyawan tidak memiliki kemampuan?
Bisa saja masalahnya berasal dari beban kerja yang terlalu tinggi, prosedur kerja yang tidak efisien, komunikasi antarbagian yang buruk, kepemimpinan yang kurang efektif, atau sistem kerja yang tidak mendukung karyawan.
Jika akar masalahnya adalah sistem, tetapi solusi yang diberikan hanya berupa pelatihan, maka perusahaan berpotensi menghabiskan waktu dan biaya tanpa menyelesaikan persoalan utama.
Di sinilah analisis kebutuhan pelatihan menjadi penting. Materi menjelaskan bahwa analisis organisasional tidak hanya melihat kemampuan karyawan, tetapi juga mempertimbangkan konteks organisasi, kesenjangan kinerja, sumber daya yang tersedia, serta iklim dan budaya organisasi. Dengan kata lain, sebelum bertanya “pelatihan apa yang dibutuhkan karyawan?”, perusahaan seharusnya bertanya “mengapa kinerja tersebut mengalami masalah?”
Angka kinerja dapat menjadi alarm bagi perusahaan, salah satu cara untuk mengetahui adanya masalah dalam organisasi adalah melihat berbagai indikator efektivitas organisasional. Produktivitas, kualitas produk atau layanan, profitabilitas, pendapatan, pangsa pasar, tingkat absensi, turnover, kecelakaan kerja, hingga pencapaian tujuan strategis dapat digunakan sebagai indikator untuk melihat kondisi organisasi.
Misalnya, tingginya turnover karyawan tidak selalu berarti karyawan tidak memiliki loyalitas terhadap perusahaan. Tingginya turnover dapat menjadi tanda adanya persoalan dalam manajemen, budaya organisasi, atau kesempatan pengembangan karier. Begitu pula dengan menurunnya kualitas produk. Masalah tersebut memang dapat berkaitan dengan kurangnya keterampilan teknis, tetapi perusahaan tetap perlu melakukan analisis sebelum menyimpulkan bahwa pelatihan adalah jawabannya.
Menurut saya, pendekatan seperti ini penting karena HR tidak seharusnya hanya menjadi pihak yang “mengadakan training”. HR perlu menjadi pihak yang mampu membaca data dan memahami hubungan antara kondisi SDM dengan tujuan organisasi.
Permasalahan lainnya adalah perusahaan terkadang terlalu fokus pada kualitas program pelatihan, tetapi kurang memperhatikan lingkungan tempat karyawan bekerja setelah pelatihan selesai.
Padahal, materi menjelaskan bahwa iklim organisasi dapat mendukung maupun menghambat keberhasilan pembelajaran. Ketidakpercayaan, komunikasi yang buruk, resistensi terhadap perubahan, serta kurangnya dukungan dapat membuat program pelatihan tidak berjalan secara efektif.
Sebagai contoh, seorang karyawan dapat mengikuti pelatihan komunikasi dan mendapatkan pemahaman mengenai cara berkomunikasi yang efektif. Namun, jika lingkungan kerjanya tidak memberikan ruang untuk menyampaikan pendapat, atasannya tidak terbuka terhadap masukan, atau budaya organisasi masih sangat hierarkis, pengetahuan yang diperoleh dari pelatihan tersebut belum tentu dapat diterapkan. Artinya, perusahaan tidak cukup hanya meningkatkan kemampuan individu. Perusahaan juga perlu memastikan lingkungan organisasi mendukung penerapan kemampuan tersebut.
Hal yang menarik dari analisis organisasional adalah adanya perubahan cara pandang terhadap permasalahan SDM. Ketika terjadi masalah kinerja, perusahaan tidak seharusnya langsung mencari siapa yang salah, tetapi perlu mencari faktor apa yang menyebabkan masalah tersebut.
Analisis iklim organisasi, misalnya, dapat dilakukan melalui survei keterlibatan karyawan, wawancara keluar, focus group discussion, serta analisis data keluhan dan disipliner. Metode tersebut dapat memberikan gambaran mengenai bagaimana karyawan memandang lingkungan kerja mereka.
Dari sini, perusahaan dapat mengetahui apakah masalah yang terjadi memang membutuhkan peningkatan kompetensi atau justru membutuhkan intervensi lain.
Menurut saya, inilah tantangan bagi praktisi HR di dunia industri saat ini. HR perlu memiliki kemampuan untuk membedakan skill gap dengan system gap. Skill gap berkaitan dengan kesenjangan kemampuan yang memang dapat dikembangkan melalui pelatihan. Sementara itu, system gap dapat berkaitan dengan proses, kebijakan, kepemimpinan, budaya, atau lingkungan kerja yang membutuhkan solusi berbeda.
Pada akhirnya, pelatihan tetap memiliki peran penting dalam pengembangan SDM. Namun, pelatihan seharusnya menjadi bagian dari strategi organisasi, bukan sekadar agenda rutin HR.
Analisis organisasional dapat membantu perusahaan menghubungkan kebutuhan pelatihan dengan tujuan strategis. Bahkan dalam konteks ekspansi bisnis, analisis kebutuhan dapat digunakan untuk mengidentifikasi kompetensi baru yang diperlukan organisasi.
Perusahaan juga perlu memikirkan kesiapan SDM untuk masa depan melalui perencanaan suksesi. Proses ini membantu organisasi mengidentifikasi karyawan yang berpotensi mengisi posisi penting di masa mendatang sekaligus menentukan kompetensi apa yang perlu dikembangkan. Dengan demikian, pelatihan tidak lagi dipandang sebagai kegiatan satu kali untuk memperbaiki masalah, tetapi sebagai investasi untuk mendukung keberlanjutan organisasi.
Dunia industri membutuhkan SDM yang kompeten, tetapi perusahaan juga membutuhkan cara berpikir yang tepat dalam mengembangkan kompetensi tersebut. Ketika kinerja menurun, memberikan pelatihan memang dapat menjadi salah satu pilihan. Namun, keputusan tersebut seharusnya dibuat setelah perusahaan memahami akar masalahnya. Menurut saya, perusahaan perlu mengubah pola pikir dari “ada masalah, maka adakan training” menjadi “ada masalah, lakukan analisis terlebih dahulu.”
Sebab, pelatihan yang tidak didasarkan pada kebutuhan yang jelas hanya berpotensi menjadi kegiatan administratif tanpa dampak yang berarti. Sebaliknya, ketika perusahaan mampu mengidentifikasi kesenjangan kinerja, memahami kondisi organisasi, membaca iklim kerja, dan menentukan kompetensi yang benar-benar dibutuhkan, pelatihan dapat menjadi instrumen strategis untuk meningkatkan kinerja sekaligus mendukung tujuan organisasi.
Pada akhirnya, keberhasilan pengembangan SDM bukan hanya ditentukan oleh seberapa banyak pelatihan yang diberikan perusahaan, tetapi oleh seberapa tepat perusahaan memahami masalah dan kebutuhan SDM-nya.
