Konten dari Pengguna

Media Sosial dan Budaya Konsumtif: Kita Membeli atau Membeli Pengakuan?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syafara Ardefya Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di era digital, media sosial tidak lagi hanya menjadi tempat untuk berkomunikasi dan berbagi cerita. Media sosial juga telah menjadi ruang untuk menunjukkan gaya hidup, membangun citra diri, bahkan memengaruhi keputusan seseorang dalam melakukan konsumsi. Kita dapat melihat berbagai tren makanan, pakaian, skincare, gadget, tempat nongkrong, hingga barang-barang yang sedang viral hanya dalam hitungan detik. Tidak jarang, sesuatu yang awalnya tidak kita butuhkan tiba-tiba terasa penting setelah melihat orang lain menggunakannya. Muncul pertanyaan sederhana: apakah kita benar-benar membeli karena membutuhkan barang tersebut, atau karena ingin mendapatkan pengakuan dari lingkungan sosial? Dalam perspektif sosiologi ekonomi, kegiatan ekonomi tidak berdiri sendiri. Keputusan seseorang dalam membeli dan menggunakan barang juga dipengaruhi oleh lingkungan sosial, budaya, status, serta hubungan dengan orang lain. Artinya, konsumsi bukan hanya persoalan ekonomi mengenai bagaimana seseorang menggunakan pendapatannya, tetapi juga berkaitan dengan bagaimana seseorang ingin dipandang oleh masyarakat. Media sosial memperkuat kondisi tersebut. Kehadiran influencer, selebritas, dan konten kreator membuat gaya hidup tertentu terlihat menarik dan seolah menjadi standar yang harus diikuti. Ketika sebuah produk digunakan oleh banyak orang dan terus muncul di media sosial, muncul anggapan bahwa produk tersebut sedang menjadi simbol tren atau bahkan bagian dari gaya hidup. Fenomena ini dapat dilihat dari kebiasaan membeli barang yang sedang viral. Misalnya, ketika suatu makanan menjadi tren di TikTok atau Instagram, banyak orang rela mengantre dan membelinya meskipun sebelumnya tidak pernah tertarik dengan makanan tersebut. Begitu pula dengan pakaian, kosmetik, atau tempat nongkrong yang dianggap “Instagramable”. Pengalaman mengonsumsi kemudian tidak hanya tentang produk, tetapi juga tentang bagaimana pengalaman tersebut dapat ditampilkan kepada orang lain. Di sinilah konsumsi mulai berkaitan dengan identitas dan pengakuan sosial. Seseorang mungkin membeli sepatu tertentu bukan semata-mata karena membutuhkan sepatu baru, tetapi karena sepatu tersebut dianggap keren dan dapat meningkatkan citra dirinya. Seseorang juga mungkin memilih nongkrong di tempat tertentu bukan hanya karena makanannya, tetapi karena tempat tersebut memberikan pengalaman yang dapat dibagikan melalui media sosial. Budaya konsumtif semakin kuat ketika muncul fenomena FOMO atau fear of missing out, yaitu rasa takut tertinggal dari tren atau pengalaman yang sedang dilakukan orang lain. Melihat teman atau figur publik membeli barang tertentu dapat menimbulkan dorongan untuk ikut membeli agar tidak merasa berbeda atau tertinggal. Persoalannya, budaya konsumtif dapat membuat batas antara kebutuhan dan keinginan semakin kabur. Kemudahan pembayaran digital dan layanan paylater juga membuat seseorang dapat memperoleh barang dengan lebih mudah. Namun, kemudahan tersebut perlu diimbangi dengan kemampuan mengendalikan diri agar konsumsi tidak berubah menjadi beban ekonomi. Meski demikian, tidak berarti setiap aktivitas konsumsi melalui media sosial selalu buruk. Media sosial juga memberikan manfaat ekonomi. Pelaku UMKM dapat mempromosikan produknya dengan biaya yang relatif terjangkau, konsumen dapat memperoleh informasi sebelum membeli, dan produk lokal memiliki kesempatan untuk dikenal lebih luas. Artinya, persoalannya bukan terletak pada media sosial atau kegiatan konsumsi itu sendiri, melainkan pada bagaimana masyarakat menggunakannya. Kita perlu mulai membangun kesadaran bahwa nilai diri tidak ditentukan oleh barang yang kita miliki atau tren yang kita ikuti. Membeli sesuatu tentu merupakan bagian dari kehidupan ekonomi, tetapi keputusan tersebut sebaiknya didasarkan pada kebutuhan, kemampuan, dan pertimbangan yang rasional, bukan semata-mata karena tekanan sosial. Pada akhirnya, media sosial telah mengubah cara kita melihat konsumsi. Barang yang kita beli tidak lagi hanya memiliki nilai guna, tetapi juga dapat memiliki makna sosial. Karena itu, sebelum menekan tombol “checkout”, mungkin ada baiknya kita bertanya kepada diri sendiri: apakah saya benar-benar membutuhkan barang ini, atau saya hanya ingin terlihat seperti orang yang memilikinya? Pertanyaan sederhana tersebut penting di tengah budaya konsumtif yang semakin berkembang. Sebab, dalam masyarakat digital, terkadang yang kita beli bukan hanya barang, melainkan juga sebuah citra, status, dan pengakuan.

Coffeshop viral, foto by Syafara
zoom-in-whitePerbesar
Coffeshop viral, foto by Syafara