Pembangunan untuk Siapa? Menimbang Kembali Arah Ekonomi Indonesia

Mahasiswa Universitas Pamulang, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Program Studi Pendidikan Ekonomi.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Syafara Ardefya Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Gedung-gedung tinggi terus bertambah. Jalan tol membentang semakin panjang. Pusat perbelanjaan tumbuh di berbagai kota. Investasi terus didorong, sementara angka pertumbuhan ekonomi menjadi kabar yang selalu dinantikan. Dari luar, semua itu terlihat seperti sebuah cerita keberhasilan: Indonesia sedang berkembang. Namun, di tengah berbagai simbol kemajuan tersebut, masih ada masyarakat yang setiap hari harus menghitung apakah pendapatannya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Masih ada keluarga yang menghadapi keterbatasan akses pendidikan dan kesehatan. Masih ada daerah yang tertinggal ketika kota-kota besar bergerak semakin cepat menuju modernisasi.
Di sinilah sebuah pertanyaan sederhana, tetapi penting, perlu diajukan: pembangunan untuk siapa?
Pertanyaan tersebut bukan berarti menolak pembangunan atau mengabaikan pentingnya pertumbuhan ekonomi. Justru sebaliknya, pertanyaan itu menjadi pengingat bahwa pembangunan seharusnya tidak berhenti pada angka pertumbuhan, nilai investasi, atau megahnya infrastruktur. Pembangunan harus dilihat dari sejauh mana kehidupan masyarakat benar-benar menjadi lebih baik. Selama ini, pertumbuhan ekonomi sering menjadi salah satu ukuran utama keberhasilan sebuah negara. Ketika Produk Domestik Bruto meningkat, investasi bertambah, dan aktivitas ekonomi berkembang, kondisi tersebut dianggap sebagai tanda positif. Namun, pertumbuhan ekonomi tidak selalu berarti bahwa kesejahteraan telah dirasakan secara merata.
Ekonomi dapat tumbuh, tetapi kesenjangan tetap ada. Investasi dapat meningkat, tetapi kesempatan kerja yang layak belum tentu tersedia secara merata. Infrastruktur dapat berkembang, tetapi sebagian masyarakat masih menghadapi kesulitan dalam mengakses pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan dasar lainnya. Inilah persoalan utama ketika pembangunan terlalu berorientasi pada pertumbuhan. Angka ekonomi memang penting, tetapi angka tidak selalu mampu menceritakan seluruh kenyataan yang dialami masyarakat.
Pembangunan yang hanya mengejar pertumbuhan berpotensi menciptakan kesenjangan yang semakin besar. Kelompok masyarakat yang memiliki modal, pendidikan, akses teknologi, dan jaringan ekonomi yang kuat akan lebih mudah memanfaatkan peluang dari pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya, masyarakat yang memiliki keterbatasan justru berisiko semakin tertinggal. Kesenjangan tersebut juga terlihat dalam pembangunan antarwilayah. Kota-kota besar terus berkembang sebagai pusat ekonomi dengan fasilitas pendidikan, kesehatan, teknologi, dan lapangan pekerjaan yang semakin lengkap. Sementara itu, masih terdapat daerah yang menghadapi keterbatasan infrastruktur dan akses terhadap berbagai layanan penting. Kondisi ini menunjukkan bahwa pembangunan Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam hal pemerataan. Indonesia bukan hanya Jakarta atau kota-kota besar lainnya. Indonesia terdiri dari ribuan pulau dan daerah dengan karakteristik serta potensi ekonomi yang berbeda-beda. Karena itu, pembangunan tidak seharusnya hanya berpusat pada wilayah yang sudah maju. Daerah-daerah memiliki potensi besar dalam sektor pertanian, perikanan, pariwisata, industri kreatif, dan berbagai sektor lainnya. Yang dibutuhkan adalah kesempatan dan dukungan agar potensi tersebut dapat berkembang menjadi kekuatan ekonomi. Pemerataan pembangunan bukan berarti setiap daerah harus memiliki bentuk pembangunan yang sama. Namun, setiap daerah harus memiliki kesempatan yang adil untuk berkembang sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Selain pembangunan wilayah, persoalan penting lainnya adalah pembangunan manusia. Infrastruktur fisik memang menjadi bagian penting dalam pembangunan ekonomi, tetapi pembangunan manusia tidak boleh ditempatkan sebagai urusan kedua. Jalan yang baik akan lebih bermakna ketika masyarakat memiliki akses menuju sekolah, tempat kerja, dan layanan kesehatan. Teknologi akan memberikan manfaat lebih besar ketika masyarakat memiliki kemampuan untuk menggunakannya. Pertumbuhan ekonomi juga akan menjadi lebih inklusif ketika masyarakat memiliki pendidikan dan keterampilan yang memadai. Dengan kata lain, pembangunan tidak cukup hanya membangun jalan, gedung, dan kawasan industri. Pembangunan juga harus membangun manusia. Hal ini semakin penting di tengah perkembangan ekonomi digital. Transformasi teknologi telah membuka berbagai peluang baru. Masyarakat dapat menjalankan usaha melalui platform digital, memasarkan produk secara lebih luas, dan memperoleh informasi dengan lebih mudah. Namun, perkembangan teknologi juga membawa risiko baru berupa kesenjangan digital. Tidak semua masyarakat memiliki akses internet yang memadai. Tidak semua memiliki perangkat teknologi atau kemampuan untuk memanfaatkannya. Jika kondisi ini tidak menjadi perhatian, transformasi digital justru dapat memperlebar jarak antara kelompok yang mampu beradaptasi dan mereka yang tertinggal. Karena itu, arah pembangunan ekonomi Indonesia perlu terus dievaluasi. Pertumbuhan tetap penting, investasi tetap diperlukan, dan pembangunan infrastruktur tetap harus dilakukan. Namun, semua itu seharusnya menjadi alat untuk mencapai tujuan yang lebih besar: Kejahteraan masyarakat. Sudah saatnya keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dengan pertanyaan, "seberapa tinggi ekonomi kita tumbuh?" Pertanyaan yang tidak kalah penting adalah, “siapa yang menikmati pertumbuhan tersebut?” Apakah manfaat pembangunan telah dirasakan oleh masyarakat di berbagai daerah? Apakah kelompok berpenghasilan rendah memiliki kesempatan yang sama untuk meningkatkan taraf hidupnya? Apakah generasi muda memiliki akses terhadap pendidikan dan pekerjaan yang layak? Apakah kemajuan ekonomi benar-benar menciptakan kesempatan yang lebih luas? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut akan menentukan kualitas pembangunan Indonesia. Pembangunan yang berhasil bukan sekadar pembangunan yang terlihat megah dari luar. Bukan hanya tentang gedung pencakar langit, kawasan industri, atau angka pertumbuhan yang meningkat setiap tahun. Pembangunan yang berhasil adalah ketika masyarakat merasakan perubahan nyata dalam kehidupannya. Ketika anak-anak memiliki akses terhadap pendidikan yang layak. Ketika masyarakat dapat memperoleh layanan kesehatan dengan mudah. Ketika lapangan pekerjaan tersedia secara lebih luas. Ketika masyarakat di daerah memiliki kesempatan untuk berkembang tanpa harus selalu meninggalkan kampung halamannya. Pada akhirnya, pembangunan ekonomi harus menempatkan manusia sebagai pusatnya. Sebab pertumbuhan ekonomi hanyalah salah satu jalan, bukan tujuan akhir. Maka, pertanyaan "pembangunan untuk siapa?” seharusnya terus dikemukakan dalam setiap arah kebijakan ekonomi. Pertanyaan itu menjadi pengingat bahwa kemajuan tidak boleh hanya dinikmati oleh mereka yang sudah berada di depan. Indonesia membutuhkan pembangunan yang tidak hanya tumbuh, tetapi juga merata. Tidak hanya menghasilkan keuntungan, tetapi juga menciptakan kesempatan. Tidak hanya membangun kota, tetapi juga membangun manusia. Sebab pada akhirnya, sebuah negara tidak dapat disebut benar-benar maju hanya karena ekonominya tumbuh tinggi. Sebuah negara dapat disebut maju ketika kemajuan tersebut mampu membawa sebanyak mungkin masyarakat menuju kehidupan yang lebih baik. Karena pembangunan yang sesungguhnya bukan tentang seberapa tinggi sebuah negara mampu tumbuh, melainkan tentang seberapa banyak masyarakat yang ikut tumbuh bersamanya.
