Konten dari Pengguna

Anak Selalu Terluka, Kita Selalu Abai?

Syafbrani ZA

Syafbrani ZA

X cekgu - Penulis paruh waktu & suami penuh waktu - Kornas PAPPA ID yang sesekali menulis buku - Ketum PTIC DKI 2021/2026 - Bergiat di Univ. Trilogi & Center for Teacher Mind Transformation (CTMT) FKIP Univ. Riau

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syafbrani ZA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi kekerasan terhadap anak yang membuat anak sering 'luka'. Sumber foto: magnific.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kekerasan terhadap anak yang membuat anak sering 'luka'. Sumber foto: magnific.com

Tiap tahun, bahkan beberapa kali dalam setahun, kita terus disuguhi laporan terkait jumlah kasus kekerasan terhadap anak. Mulai dari lembaga resmi pemerintahan, pegiat atau pemerhati anak, sampai hasil penelitian akademisi. Padahal, di sisi lainnya, kita juga sering melihat aduan-aduan ‘personal’ yang mencuat di berbagai media sosial.

Pertanyaan sederhana, apakah data itu hanya sebatas laporan atau menjadi bagian dari usaha sadar untuk segera bergegas meminimalisir jumlah kasusnya?

Oleh karena itu, tanpa perlu diuraikan kasus per kasus yang hanya membuat sedih berkepanjangan. Karena, lebih sedih dari itu semua adalah ketika setiap kasus hadir dan ketika semua elemen bangsa sudah mendeklarasikan kedaruratannya, kita justru tidak melihat langkah-langkah sistemik yang hadir untuk memastikan agar angka-angka kekerasan tersebut bisa dinihilkan.

Memang, tragedi yang hadir ini tidak bisa dipandang dari sumber yang tunggal. Banyak zona yang terlibat dan bisa jadi saling memberikan kontribusi sehingga para pelaku merasa aman-aman saja. Bahkan, bisa jadi di tengah masih rapuhnya aspek hukum di negara ini, pelaku semakin merasa aman.

Toh, pada akhirnya ruang maaf selalu terbuka, masyarakat akan mudah lupa, dan hukuman pun bisa disesuaikan sedemikian rupa.

Akhirnya, kita bertanya-tanya kembali: mengapa kekerasan terhadap anak terus berulang, tetapi keresahan kita seperti tidak pernah benar-benar berubah menjadi gerakan yang menghujam?

Kita marah ketika kasus mencuat, bersedih ketika video tersebar, lalu perlahan kembali menjalani kehidupan seperti biasa.

Kalaulah kita sebagai masyarakat biasa memang disibukkan dengan kecamuk mencari nafkah demi menyambung hidup anak-anak di rumah, seharusnya negara tidak. Mengapa? Jelas, karena ada lembaganya, ada anggarannya, dan negara telah diamanahi melindungi warganya, termasuk anak-anak di dalamnya.

Membangun Kesadaran Kolektif

Jika sadar, secara bersama-sama keresahan kita sering berhenti sebagai ledakan emosi sesaat, bukan kesadaran kolektif yang mampu mendorong perubahan sistemik. Tanpa sadar, kondisi demikian membuat kekerasan terhadap anak seakan menjadi tragedi yang terus diwariskan dari waktu ke waktu.

Ketika kasus hadir, hampir semua lini masa melihat bahwa persoalan ini sekadar perilaku individu yang kehilangan kendali. Itu tidak salah. Tetapi kita juga harus menyadari bahwa kekerasan terhadap anak tumbuh dari lingkungan yang permisif.

Kekhawatiran semakin bertambah ketika anak-anak sering kali tidak memiliki ruang aman untuk mengadu. Ketika mereka berbicara, tidak sedikit yang justru diminta diam demi menjaga nama baik keluarga, sekolah, atau lembaga tertentu. Dalam berbagai kasus, ada di antaranya justru orang tuanya yang memaksa anaknya untuk “mengalah”.

Padahal anak-anak itu sudah memberikan sinyal agar segera ditolong, tetapi sering kali karena rasa takut dan merasa tidak dipercaya. Ada juga yang malah aduannya dianggap berlebihan. Jadilah mereka takut disalahkan.

Ketakutan-ketakutan itulah yang akhirnya membuat banyak luka tumbuh diam-diam tanpa pernah benar-benar sembuh. Sedihnya, ada di antara mereka yang akhirnya terbiasa menikmati luka-luka itu dan kelak menjalarkannya kepada adik-adik kelasnya.

Dengan kondisi yang demikian, apakah cukup hanya dengan mendeklarasikan kondisi darurat? Keresahan kita seharusnya tidak lagi diwujudkan sebatas simpati di media sosial. Keresahan harus berubah menjadi keberanian untuk membenahi sistem perlindungan anak secara serius.

Sebab selama negara dan masyarakat hanya sibuk bereaksi setelah kasus viral, selama itu pula anak-anak akan terus menjadi korban yang datang silih berganti. Kegaduhan kita hanya seketika, tetapi lupa menyiapkan energi untuk menjaga.

Menjaga Kemanusiaan

Setidaknya ada beberapa langkah mendesak yang harus dilakukan saat ini. Jika perlu, hari ini juga.

Pertama, negara harus membangun sistem perlindungan anak yang berbasis pencegahan, bukan sekadar penanganan kasus. Setiap sekolah, daycare, pesantren, rumah ibadah, hingga ruang publik yang bersinggungan dengan anak wajib memiliki standar perlindungan yang jelas. Bukan sekadar aturan, tetapi juga bentuk pengawasan berkala terhadap tenaga pendidik dan seluruh pihak yang bersinggungan dengan anak-anak itu.

Perlindungan anak tidak boleh berhenti pada slogan “ramah anak” yang dipasang di dinding-dinding lembaga, lalu dihiasi berbagai unggahan media sosial hanya agar terlihat ramah.

Kedua, penegakan hukum harus benar-benar berpihak kepada korban. Sudah terlalu banyak kasus kekerasan terhadap anak yang berakhir dengan damai, mediasi, atau sekadar permintaan maaf. Padahal, luka anak tidak bisa disembuhkan hanya dalam hitungan tahun. Lukanya bisa membekas seumur hidup. Belum lagi ketika kita berbicara tentang dampak panjang dari luka itu.

Jadi, betapa naifnya kita ketika pelaku diberikan hukuman yang bisa dinegosiasikan. Jika demikian, kekerasan akan terus menemukan keberaniannya.

Negara harus menunjukkan bahwa keselamatan anak lebih penting daripada kenyamanan pelaku atau citra lembaga. Negara harus memandang kebiadaban pelaku bukan hanya membunuh masa depan anak, tetapi juga meruntuhkan masa depan bangsa.

Ketiga, kita perlu membangun ulang budaya pengasuhan dan pendidikan di tengah masyarakat. Orang tua, guru, dan lingkungan sosial harus mulai meninggalkan pola-pola kekerasan yang selama ini diwariskan atas nama didikan.

Selain itu, budaya pengasuhan dan pendidikan harus dibangun serta dijaga secara kolektif. Kelak kita harus memandang setiap anak sebagai sosok yang harus dipertanggungjawabkan bersama.

Lagi, kita harus sadar bahwa kekerasan terhadap anak bukan lagi sekadar berita kriminal yang datang silih berganti. Tragedi demi tragedi ini sebenarnya telah berubah menjadi cermin besar yang memperlihatkan wajah kegagalan kita menjaga kemanusiaan.

Ketika keresahan ini hanya berhenti sebagai percakapan sesaat, maka kita sedang membiarkan anak-anak tumbuh dalam dunia yang kehilangan rasa aman. Namun, jika keresahan ini mampu kita ubah menjadi keberanian untuk memperbaiki sistem, memperkuat hukum, dan memanusiakan kembali anak di ruang pendidikan dan pengasuhan.

Kita masih memiliki harapan untuk menyelamatkan masa depan anak-anak itu sekaligus masa depan bangsa ini.