Jadikan Rasa Iri dan Rendah Diri Sebagai Motivasi

hanya seorang mahasiswa jurnalistik
Konten dari Pengguna
12 Mei 2020 15:01
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Syafira Akhtari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Masa remaja tidaklah luput dari kisah percintaan, yaitu masa jatuh cinta pada seseorang atau menyukai seseorang. Masa SMA adalah masa remaja yang indah karena semua temanku merasakan cinta masa SMA. Semua temanku merasakan hal itu, kecuali diriku.
ADVERTISEMENT
Kenapa di antara teman-temanku hanya diriku yang tidak merasakan hal itu?
Semua teman-temanku bahagia karena merasakan hal itu, menceritakan tentang kekasihnya kepada diriku dengan muka bahagia. Setiap hari tanpa absen selalu menceritkan kekasihnya, kegiatan yang mereka lakukan, hadiah apa yang akan diberikan, dan lainnya. Jujur, hal itu membuatku iri sekali. Namun, aku hanya terdiam sambil menahan iri dalam hatiku. Dengan muka ikut bahagia, aku mendengarkan setiap keluh dan kesah mereka tentang percintaan yang mereka alami.
Terkadang, aku bercermin dan melihat diriku sendiri. Ada apa dengan diriku? Mengapa hanya mereka yang merasakan hal itu? Apakah aku tidak berhak bahagia? Apakah aku tidak menarik perhatiaan lawan jenis? Apakah aku jelek? Apa aku tidak cantik? Semua pertanyaan itulah yang menghantuiku selama masa SMA. Meskipun begitu, aku tetap menikmati setiap momen SMA yang aku alami.
ADVERTISEMENT
Aku bahagia dengan diriku apa pun keadaanya. Walaupun tidak mempunyai kekasih selama SMA, aku tetap bahagia karena bisa menghabiskan masa SMA dengan teman-teman yang kusayangi. Walau terkadang iri menggrogoti jiwaku saat melihat temanku menghabiskan waktu bersama kekasihnya, aku bahagia bagaimana pun perasaanku.
Menyukai lawan jenis pun aku lakukan agar mendapatkan kekasih. Namun, aku hanya memendam perasaanku. Tidak ada yang tahu aku menyukai orang tersebut kecuali diriku dan Tuhan. Entah apa yang aku pikirkan, mengapa aku tidak mencoba mendekatinya dan mulai menyapanya agar dirinya tahu bahwa aku selalu di sekitarnya. Aku hanya diam memendam perasaan itu. Sering kali aku merasa diriku rendah dan aku merasa tidak pantas untuk disukai kembali.
ADVERTISEMENT
Selama memendam perasaan itu, tak sengaja, aku melihat dirinya membonceng salah satu teman kelasnya. Aku hanya terdiam melihat kejadian tersebut dengan hati yang panas. Ingin rasanya aku mendorong perempuan tersebut. Namun, aku bertanya pada diriku sendiri, siapa kah diriku sampai ingin menjauhkan perempuan tersebut dari laki-laki yang aku sukai.
Di rumah, aku becermin dan melihat diriku. Aku perhatikan baik-baik diriku dengan perasaan campur aduk setelah melihat kejadian tersebut. Tanpa sadar aku membandingkan diriku dengan perempuan tersebut. Hal itu semakin membuat diriku buruk dan memang tidak pantas disukai oleh seseorang.
Aku menangis karena merasa diriku jelek dan tidak pantas mendapatkan siapa pun. Sampai Ibuku masuk dan menanyakan alasan aku menangis. Cinta akan datang pada waktunya, jadi tidak perlu mencari cinta. Yang perlu kamu lakukan adalah memantaskan diri agar cinta datang sendiri kepadamu, jadilah yang terbaik dan tetap menjadi dirimu serta jangan lupa menerima dirimu sendiri, kata-kata itulah yang membuat aku sadar bahwa aku membiarkan diriku terjebak dengan perasaan iri dan dengki.
ADVERTISEMENT
Akhirnya, aku sadar bahwa aku hanya perlu menerima diriku sendiri serta memperbaiki dirku sendiri dengan memantaskan diriku agar cinta datang kepadaku tanpa perlu aku mencarinya. Hal ini membuatku sadar bahwa semua akan indah pada waktunya. Walau kadang perasaan iri hadir dalam diriku, aku tidak akan membiarkan perasaan itu berlarut-larut dalam diriku dan membiarkan perasaan ini sebagai motivasi untuk memperbaiki diriku sendiri menjadi lebih baik lagi.