Kenapa Anak Bukan Investasi Masa Tua Orang Tua?
Tulisan dari syafira allysa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kita semua pasti sudah akrab dengan kalimat, “Banyak anak, banyak rezeki.” Sebuah ungkapan klasik yang dulu sering dipakai untuk menyemangati orang tua. Sayangnya, di zaman sekarang, makna kalimat itu pelan-pelan bergeser menjadi sesuatu yang bisa menghawatirkan: “Anak adalah investasi, dan hari tua adalah waktu untuk mencairkan dividenya.”
Mungkin kamu pernah mendengar atau bahkan mengalami sendiri obrolan di meja makan yang nadanya seperti bercanda tapi bikin kepikiran. “Ibu kan udah capek-capek biayain kamu kuliah, besok kalau ada kerja gantian kamu yang tanggung adek-adekmu, ya.” Atau, “nanti kalau udah sukses, jangan lupa beliin papa mobill baru.”
Sekilas, itu terdengar seperti harapan wajar seorang orang tua. Tapi, kalau kita jujur pada diri sendiri, ada beban mental yang luar biasa berat yang langsung menumpuk di pundak anak sejak kalimat itu diucapkan. Mengubah ikatan darah menjadi hitung-hitungan akuntasi adalah awal dari renggangnya kehangatan sebuah keluarga.
Saat Bakti Berubah Menjadi Nota Tagihan
Berbakti dan membatu orang tua itu adalah hal yang sangat mulia. Anak yang dibesarkan dengan penuh kasih sayang, secara alami akan tergerak hatinya untuk membahagiakan orang tuanya saat mereka suskses nanti. Itu adalah hukum alam yang lahir dari rasa cinta yang organik.
Namun, ceritanya bakal beda total kalau kerelaan itu dipaksa berubah menjadi kewajiban yang di tuntut.
Ketika orang tua menganggap anak sebagai “dana pensiun” berjalan, hubungan keluarga berubah menjadi transaksional. Anak akan mulai merasa bahwa pelukan, fasilitas sekolah, dan uang jajan yang mereka terima waktu kecil dulu ternyata tidak gratis. Ada “nota tagihan” terselubung yang siap disodorkan begitu mereka menerima gaji pertama. Akhirnya, uang bulanan yang dikirim anak ke rumah bukan lagi didasari rasa syukur, melainkan rasa takut, rasa bersalah, dan kecemasan dicap sebagai anak durhaka.
Terjepit di Tengah Lingkaran Setan
Dampak paling nyata dari pola pikir ini adalah suburnya fenomena sandwich generation yang terjepit karena harus membiayai masa lalu (orang tua) dan masa depan (anak-anak mereka sendiri) di waktu yang bersamaan.
Bayangkan jika seorang anak muda yang baru meniti karier di kota besar dengan gaji yang pas-pasan. Di satu sisi, dia punya mimpi untuk mandiri, menabung untuk masa depannya, atau mungkin menyiapkan dana pendidikan untuk anaknya kelak agar hidup lebih baik. Tapi di sisi lain, kenyataan memaksa sebagian besar penghasilannya habis untuk menompang hidup orang tuanya yang barangkali tidak mempersiapkan masa pensiun dengan matang.
Kalau lingkaran ini tidak diputus, tebak apa yang terjadi? Anak muda ini tidak akan punya sisa uang untuk menabung buat masa tuanya sendiri. Nanti ketika dia tua dan kehabisan uang, dia terpaksa melakukan hal yang sama, bersandar dan menuntut anaknya lagi . pola beracun ini akan terus berputar seperti lingkaran setan tanpa ujung.
Sebuah Fakta yang Sering Kita Lupakan
Sebagai masyarakat yang menjujung tinggi adat timur, kita sering kali lupa pada satu fakta sederhana yang sangat mendasar: anak tidak minta dilahirkan ke dunia.
Keputusan untuk membawa seorang manusia baru ke bumi adalah murni pilihan ego, dan tanggung jawab penuh dari orang tua. Oleh karena itu, merawat, memberikan kasih sayang, dan menyekolahkan anak sampai tinggi adalah kewajiban mutlak orang tua bukan sebuah "Pinjaman modal" yang harus dikembalikan dengan bunga di kemudian hari. Ketika kita membesarkan anak dengan pamrih, kita sedang merampas hak mereka untuk merdeka atas hidup dan pilihan mereka sendiri.
Memutus Rantai untuk Hubungan yang Lebih Tulus
Membongkar narasi "anak sebagai investasi" bukan berarti kita sedang menghasut anak muda untuk menjadi egois, pelit, lalu menelantarkan orang tua mereka yang sedang kesulitan. Sama sekali bukan itu poinnya. Menolong orang tua saat mereka membutuhkan akan selalu mejadi nilai kemanusiaan yang sangat indah.
Namun, ini adalah soal mengubah cara pandang demi masa depan
Generasi muda saat ini termasuk kita semua sedang berjuang harus punya kesadaran baru, pemberian terbaik dari kita untuk anak-anak kita kelak bukanlah warisan tanah yang luas atau rumah yang megah, melainkan kemandirian finansial kita di hari tua.
Mari mulai menabung untuk dana pensiun dan menjaga kesehatan kita sendiri sejak dini. Dengan begitu, saat rambut kita memutih nanti, kita bisa melihat anak-anak kita terbang bebas mengejar mimpi mereka, tanpa perlu merasa bersalah, dan tanpa ada beban utang budi yang menggelayuti pundak mereka. Kita mencintai mereka dengan tulus, dan mereka pun membalasnya dengan ketulusan yang sama, bukan karena keterpaksaan.

