Konten dari Pengguna

Jadi Korban Perselisihan Orang Tua

Syafira Maulidia

Syafira Maulidia

Seorang mahasiswa Jurnalistik di Politeknik Negeri Jakarta.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syafira Maulidia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pertengkaran orang tua selalu berdampak terhadap psikologis anak.

Dalam sebuah buku berjudul Marital Conflict and Children: An Emotional Security Perspective, Cummings dan rekannya Patrick Davies dari University of Rochester menyatakan, ketika orang tua berulang kali beradu pendapat, anak bisa menjadi bingung, khawatir, cemas, dan putus asa.

Berdasarkan pengalaman, tak pernah sekali pun saya tenang setiap orang tua terlihat sedang bersitegang. Bahkan saya pernah melakukan hal di luar dugaan. Suatu hari mereka bertengkar, lalu saat melihatnya, saya refleks menghentikan mereka dengan cara membanting handphone ke lantai. Saya pun tak sadar melakukan hal tersebut. Mulai hari itu, mereka memutuskan untuk tidak bertengkar di depan saya.

Untuk menghindari kejadian yang sama, orang tua berhenti bertengkar di depan saya, alhasil mereka jadi lebih sering “perang dingin”. Meskipun tak terlalu nampak, saya bisa menebak hanya dari raut wajah hingga perilaku mereka. Terutama saat mereka saling berbicara. Meskipun hanya sekilas terdengar, emosi mereka dapat terbaca jelas dari intonasi suaranya.

Menurut Cummings, anak memperhatikan dengan cermat emosi orang tua mereka untuk mengetahui informasi tentang seberapa aman mereka dalam keluarga. Hal ini menunjukkan, sebesar apa pun usaha orang tua menutup-nutupi masalah, anak selalu bisa mencium bau konflik di antara kedua orang tuanya.

Setiap mereka berusaha menutupi masalah, sebenarnya saya selalu mengetahuinya dalam diam. Tak bisa dipungkiri, sulit sekali menahan rasa ingin bertanya. Setiap kali ingin mencoba mencari tahu, hal itu saya urungkan karena Ayah dan Ibu saya selalu menjawab dengan “Ini urusan orang tua, tidak perlu ikut campur,” sehingga rasa penasaran saya harus pupus.

Memang, anak tak perlu mengetahui semua masalah orang tuanya. Namun, apabila bahasa tubuh mereka tak bisa dikontrol, maka di situlah saya merasakan keterlibatan. Saya merasa, dibandingkan “perang dingin” terlalu lama, akan lebih baik jika dibicarakan dan mengkomunikasikannya dengan baik kepada saya, sehingga saya mengerti keadaannya.

Selalu sulit rasanya di saat-saat orang tua saya sedang tak saling bicara. Saya jadi tertutup tentang masalah-masalah yang sedang dihadapi. Akhirnya harus memendam perasaan dan mencari solusinya sendiri sehingga tak jarang saya mengalami stres.

Sebuah studi yang dilakukan para peneliti di University of Oregon, menunujukkan, pernikahan berkonflik tinggi berdampak pada kesehatan mental anak. Di bawah ini adalah beberapa dampak yang bisa dirasakan.

Menyebabkan insecurity atau ketidakamanan

Anak-anak ragu tentang stabilitas keluarga. Biasanya mereka khawatir akan perceraian atau bertanya-tanya kapan pertengkaran akan berakhir. Hal itu dapat mempersulit mereka untuk memiliki perasaan aman dalam keluarga karena perselisihan tak dapat diprediksi.

Setiap Ayah dan Ibu saya saling memberi silent treatment terhadap satu sama lain, sering kali saya takut mereka bercerai. Ketakutan itu menghantui kepala saya terus-menerus. Saya tak bisa membayangkan harus memilih salah satu dari mereka untuk tinggal bersama. Bayang-bayang itu selalu muncul dan membuat saya merasa tak aman berada di lingkungan keluarga.

Penurunan Kinerja Kognitif

Sebuah studi 2013 yang diterbitkan dalam Child Development menemukan, stres yang terkait dengan tinggal di rumah tangga berkonflik tinggi dapat merusak kinerja kognitif anak. Ketika orang tua sering berselisih, anak cenderung lebih sulit mengatur perhatian dan emosi mereka.

Menyaksikan banyak pertengkaran orang tua sejak remaja, tak semerta-merta membuat saya terbiasa dengan hal tersebut. Kejadian-kejadian itu selalu traumatis dan membuat emosi saya tidak stabil. Sulit bagi saya untuk mengontrol emosi terutama saat marah. Kalau sudah tak tertahan, emosi saya bagai bom yang meledak-ledak.

Pandangan Negatif Tentang Kehidupan

Sebuah studi tahun 2012 yang diterbitkan dalam Journal of Youth and Adolescence menemukan bahwa anak-anak yang dibesarkan di rumah berkonflik tinggi cenderung memiliki kepercayaan diri yang rendah.

Saya sering pesimis tentang kemampuan diri sendiri. Alhasil, putus asa dan mudah menyerah sering jadi teman. Setiap melihat teman-teman dengan keluarganya yang harmonis, saya merasa rendah diri. Memikirkan betapa beruntungnya mereka tak perlu khawatir dan memikirkan masalah di rumah.

Meskipun sudah beranjak dewasa, perselisihan orang tua tak pernah gagal membuat saya kehilangan mood. Ketakutan, cemas dan kesedihan, bagai rem yang membuat saya berhenti dari melakukan hal-hal yang saya suka. Sebegitu berpengaruhnya keadaan hubungan orang tua terhadap kehidupan saya sehari-hari.

Pertengkaran memang tak akan bisa dihindari. Namun, sebaiknya orang tua berhati-hati dengan cara mereka menyelesaikan setiap permasalahan. Sehingga anak-anak, yang tak tahu apa-apa, dapat menjalani kehidupannya dengan normal. Kalau tidak, hal itu akan terus membuat anak ketakutan. Belum lagi jika ada hal-hal yang menimbulkan traumatis jangka panjang. Ingatan tentang orang tua akan selalu tersimpan di memori dan tak akan pernah hilang.