20 Cara Melawan Tirani

Juru tulis: puisisyafri, peresensi di resensi.co.id, buruh suara di Radio Banua Malaqbi, relawan lterasi di Kamar Literasi & Teras Aksara Mamuju
·waktu baca 9 menit
Tulisan dari Syafri Arifuddin Masser tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kudeta masih saja terjadi di berbagai negara. Peralihan kekuasaan dengan cara-cara yang mengkhianati supremasi sipil di negara demokratis yang dilakukan oleh militer adalah awal kediktatoran. Menurut Edward luttwak dalam bukunya Kudeta, militer setidaknya selalu berhasil melakukan kudeta ketimbang penantang sipil untuk mengambil alih kekuasaan diktator.
Kudeta Mursi di Mesir dan yang terjadi di Myanmar adalah contoh yang paling baru. Sebagai masyarakat sipil kita seakan tidak pernah memetik preseden di abad 20 ketika Fasisme, Nazisme, dan Komunisme berkembang di Eropa. Dan karena itulah buku "Tentang Tirani" dari Timothy Snyder ini penting untuk dibaca.
Peristiwa keruntuhan kediktatoran dan kudeta-kudeta masa lalu menunjukkan kalau negara bisa gagal dan demokrasi dapat tumbang, etika bisa menguap dan masyarakat dapat terberai. Sejarah keruntuhan itu seharusnya menjadi pegangangan bagaimana menghadapi tirani di masa depan.
Sejarah yang dimaksud adalah sejarah di abad 20 ketika demokrasi semu ala Fasis, Komunis, dan Nazi menjadi pilihan setelah kekalahan feodalisme. Pada kenyataannya, tirani berkembang tidak jauh beda dan barangkali jauh lebih mengerikan.
Tirani adalah sebuah kekuasaan yang dilakukan dengan sewenang-wenang. Baik dilakukan oleh raja atau presiden yang dipilih berdasarkan pemilihan umum sepanjang autokrasi dan otoritarianisme menjadi ciri kekuasaannya.
Timothy Snyder setidaknya merumuskan 20 hal pelajaran yang bisa kita petik dari abad 20 untuk mempersiapkan diri kita terhadap ancaman pemerintahan kediktatoran masa depan. Adapun 20 hal itu adalah:
Jangan patuh begitu saja: Di masa lalu, di Jerman dan Ceko kepatuhan diberikan begitu saja oleh rakyat. Begitupun di Rusia, Italia dan negara tirani lainnya pada abad dua puluh. Orasi yang agitatif dan intrik politik berbasis ras dan ideologi berhasil menyihir rakyat untuk mencintai keseragaman—yang akhirnya membawa petaka. Pembantaian dan pemusnahaan menjadi ciri dari pemerintahan tiran. Mulai dari Holocaust oleh nazi sampai The Great Purge di Uni Soviet. Kepatuhan tanpa antisipasi ini membuat rakyat percaya kalau apa pun yang disampaikan oleh pemimpin maka itulah kebenaran dan harus dipatuhi. Itulah kenapa genosida berlangsung di Jerman, dan orang-orang biasa membiarkan tetangganya terbunuh karena ia bukan ras Arya.
Pertahankan lembaga: Lembaga yang dimaksud adalah Lembaga hukum, media atau serikat berbasis kekuatan sipil. Ketika Lembaga-lembaga ini tidak bisa dipertahankan, maka apa yang terjadi di Jerman tahun 1933 di mana Jerman melakukan pemilihan umum tanpa diikutseratakanya opisisi bisa terjadi juga hari ini.
Hati-hati dengan negara satu partai: Sejarah kemenangan satu partai pasca perang dunia pertama dan kedua di tahun 30-an dan 40-an di eropa menunjukkan bagaimana negara satu partai menyingkirkan lawan-lawan politik atau yang bersebrangan dengannya dengan cara pengalienasian yang terstruktur—alasan negara satu partai itu berbahaya karena potensi menjadi otoriter jauh lebih besar. Orwell dalam 1984-nya menggambarkan bagaimana tirani negara satu partai itu, semua serba dikontrol dan diawasi dan tentu kita tidak mau hidup terkekang seperti itu.
Bertanggungjawablah atas wajah dunia: Dalam politik, kata-kata dan sikap kita sangat berpengaruh bahkan apolitis pun berimplikasi terhadap politik itu sendiri. Jika kita tidak acuh pada apa yang terjadi, niscaya sesuatu yang buruk pasti terjadi sebab dunia ini berisi kebaikan dan keburukan, jika tidak isi dengan kebaikan maka kita sudah tahu apa yang mengisinya.
Ingat etika profesional: Setidaknya dengan para pengacara menerapkan prinsip tidak ada hukum tanpa pengadilan dan para dokter berpegang pada etika profesinya yang tidak boleh melakukan pembedahan tanpa persetujuan, dan para pengusaha menyetujui larangan perbudakan, serta para birokrat menolak mengerjakan administrasi atas pembunuhan di masa lalu, maka tirani di Jerman, Uni Soviet dan berbagai negara otoriter lainnya tidak mungkin terjadi, kecuali para diktatornya menyingkirkan semua para pembangkang.
Hati-hati dengan paramiliter: Organisasi atau partai apapun yang memiliki sayapmiliter itu berbahaya. Kekuatan yang dimilikinya dapat mengancam keberlangsungan hidup yang damai, terlebih lagi jika mereka telah berpawai bersama polisi dan militer dengan membawa gambar seorang pemimpin, menurut Timothy jika situasi sudah sepereti itu maka berhati-hatilah karena kiamat sudah dekat.
Berpikirlah bila anda mesti bersenjata: Rezim otoriter memiliki dua angkatan kepolisian di mana satu bertugas sebagai polisi lokal anti hurura dan satunya lagi bertugas sebagai polisi rahasia. NKVD Unisoviet yang melakukan pembersihan besar-besaran dan SS Nasi Jerman yang melakukan Holocaoust adalah dua contoh dari polisi rahasia. Timothy yakin tanpa adanya bantuan polisi-polisi lokal yang bertugas sebagai petugas anti huruhara itu maka pembantaian tidak dapat dilakukan secara besar-besaran. Bila datang kepadamu pilihan untuk mengangkat senjata untuk membunuhi warga karena berbeda haluan dengan pandangan negara atau mereka yang dicap teroris, apakah kita akan tetap meletupkan pistol? sementara sebagai petugas bawahan punya kuasa apa kita menolak?
Menonjollah: dalam situasi tiran, menonjjolah menjadi hal yang wajib. Pun itu untuk akan menghilangkan nyawa sendiri, tapi tanpa sikap yang kontra yang menonjol terhadap penguasa maka tirani akan langgeng. Winston Churchill perdana Menteri inggris dapat menjadi contoh di mana ia punya sikap berbeda dengan semua anggota parlemen inggris yang ingin menyerah terhadap Jerman. Dengan keteguhannya itu, dia berhasil menghentikan dominasi Hitler dalam perang dunia II.
Berbaik-baiklah kepada bahasa kita: Jangan terlalu banyak menonton. Media dapat dikendalikan. Bahasa dapat dipolitisasi. Satu-satunya cara melawan propaganda dengan baca buku. Bacalah buku-buku berkualitas yang ditulis para intelektual dan sastrawan organik—yang dalam bahasanya Edward Said diterankan sebagai individu yang dikaruniai bakat mepresentasikan ,mengepresikan, serta mengartikulasi pesan, pandangan sikap dan filosofi kepada publik sehingga mampu membangkitkan daya kritis orang lain, orang akan mampu menghadapi ortodoksi dan dogma, serta menimbulkan sikap yang tidak lagi mudah dikooptasi pemerintah dan korporasi.
Percayalah kepada kebenaran: Victor Klemper pengamat totaliterinisme menyebutkan kebenaran bisa mati—tentu dalam konteks negara tiran—dalam empat cara yaitu, 1. dengan menciptakan dunia fiksi tandingan untuk mengaburkan realitas yang benar dan kebohongan, 2. Membuat jargon dan slogan yang didengungkan secara terus-menerus agar sesuatu yang fiktif dapat menjadi fakta, 3. Membuat pemikiran magis dengan janji-janji palsu di mana kita akan mudah terlena dengan itu, 4. Ketika kita sudah fanatik (cinta buta) terhadap pemimpin maka kebenaran akan mati. Dari keempat hal itu semuanya dilakukan pemimpin untuk mematikan kebenaran dan menciptakan kebenaran sesuai versinya.
Selidiki: Mulailah membaca jurnal penelitian dan artikel-artikel panjang dan dalam. Jangan menelan mentah-mentah apa yang ada di internet. Pelajarilah situ-situs proganda dan lawanlah para pendengung kekuasaan. Kita perlu mencari tahu lebih banyak untuk dapat tercerahkan dari propaganda dan hoaks.
Lakukan kontak mata dan basa-basi: Hal ini dilakukan supaya kita lebih dekat dengan tetangga. Lingkungan menjadi harmonis. Kita tidak mudah diadu dalam politik belah bambu karena kerukunan sudah terjalin.
Praktikkan politik tubuh: Kita tidak boleh diam di rumah kendati aksi protes dapat digalakkan dari rumah. Tubuh kita harus ikut dalam aksi massa karena dengan cara itulah tirani dapat tumbang.
Adakan kehidupan pribadi: Di dunia sekarang data sangat penting. Lindungi data kita dengan selalu membersihkan komputer dari program-program pengintai. Jangan mudah memberikan data kita pada pihak ketiga. Jangan mencentang dengan mudah policy sebuah aplikasi. Kehidupan pribadi yang privat akan mempersulit diktator untuk menjalankan pengaruhnya, terlebih di era ini karena tanpa sadar penguasa tiran akan selalu membuat kita bingung dalam menentukan mana privat dan mana yang umum seperti katanya Hannah Arendt: kesukaan pada yang rahasia itu berifat politis dan berbahaya.
Menyumbanglah untuk tujuan baik: Dengan menjadi penderma, masyarakat madani bisa kita ciptakan. Sumbangan itu ditujukan kepada organinasi non pemerintah sebagai cara memperkuat serikat sipil sebab negara-negara tirani selalu membenci organisasi nonpemerintah. Negara tirani selalu ingin mengendalikan semuanya, termasuk urusan sumbangan.
Belajarlah dari sejawat di negara lain: “Tak ada negara yang bisa mengatasi masalahnya sendirian” ujar Timothy. Ya, benar bahwa ketertutupan membuat negara itu terbelakang. Korea Utara yang masih menerapkan sistem komunisme absolut menjadi negara stagnan dalam pembangunannya ketimbang yang terjadi pada Korea Selatan. Oleh karenanya kita harus belajar, tidak hanya dalam konteks negara melainkan rakyat juga perlu belajar dari rakyat di negara lain dalam menghadapi kehidupan sosial dan bernegara. Selain itu, kita harus punya solidaritas dan empati sosial yang tidak terjebak dalam sekat negara dan bangsa.
Dengarkan kata-kata berbahaya: Perhatikan pemerintah dalam membentuk opini. Jika kata-kata terosisme dan ekstrimisme mulai mudah dilekatkan pada kelompok oposisi atau kelompok yang punya pandangan lain dengan negara, maka tandakan nyala bahaya karena negara pelan-pelan memainkan politik bahasa untuk menukar kebebasan kita dengan rasa aman, sementara keamanan yang kita peroleh harus dibayar dengan matinya demokrasi.
Tenanglah ketika yang tak terpikirkan terjadi: Kepanikan dalam situasi genting adalah situasi yang paling diinginkan pemerintahan tirani. Di mana dengan ketakutan-ketakukan merebak, pemerintah dengan leluasa tampil sebagai pahlawan, padahal kita tahu siapa yang dengan segala perangkatnya tengah menjalankan manajamen terror.
Jadilah patriot: Pada bagian ini, Timothy secara khusus menujukannya kepada warga Amerika, bahwa Amerika perlu meredefenisi makna Amerika bagi generasi berikutnya. Jadilah patriot bukan nasionalis, sebab nasionalis percaya bahwa negara tidak mungkin berubah sementara seorang patriot telah siap menolak perubahan itu.
Jadilah seberani mungkin: “jika tak seorang pun di antara kita siap mati demi kebebasan, maka, kita semua akan mati di bawah tirani” – Timothy Snyder
Buku “Tentang Tiran” ini terlalu bias Amerika yang melihat Nazi Jerman dan Komunis Uni Soviet sebagai dua contoh paling representatif dalam melihat sebuah negara di mana tirani bekerja, walaupun sebenarnya memang demikian. Namun, hal ini tidak mengejutkan sebab kita tahu kalau Amerika pernah berkonflik dengan Jerman dalam perang dunia dua dan Uni Soviet dalam perang dingin.
Sayangnya Timothy Snyder menganggap Amerika seolah menjadi kiblat demokrasi yang anti tiran, padahal tirani-tirani yang dibuat oleh Amerika pasca perang dunia dua sebagai pemenang perang tak pernah dibahas.
Kita tahu bagaimana menderitanya negara-negara dunia ketiga setelah Amerika jadi negara adikuasa di mana Amerika punyak hak veto dalam PBB sehingaa Palestina sukar mendapatkan kemerdekaannya dan Amerika dapat mengembargo secara ekonomi satu negara. Amerika merupakan negara yang menciptakan tirani ekonomi dan politik global.
Meski ditulis dengan sederhana dan sangat amerikasentris, setidaknya apa yang diterankan Timothy ini semacam peringatan, kalau sejarah bisa saja berulang, di mana negara-negara fasis dengan otoritarianisme dan totaliterismenya bisa saja muncul besok di negara demokrasi.
Kendatipun peringatan itu ditujukan kepada warga Amerika Serikat pra dan pasca Donal Trump terpilih, tetapi apa yang disampaikan Timothy dalam bukunya ini juga secara tidak langsung diperuntukkan kepada masyarakat dunia agar kita belajar dari sejarah kelam pemerintahan tirani agar kita dapat menghindari sekaligus mencegah sebuah negara demokrasi menjadi tiran.
